Berita

nasaruddin umar/net

MENGENAL FIKIH KEBHINNEKAAN (29)

Reartikulasi Bahasa Agama Tentang Perempuan

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2015 | 09:24 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SERINGKALI kita membi­carakan pembaharuan tetapi hanya di sektor hilir, padahal itu hanya merupakan akibat dari sebuah sebab di sek­tor hulu. Kita hanya membi­carakan suatu akibat tetapi sebab yang menyebabkan akibat itu tidak disentuh, akibatnya persoalan tidak selesai secara tuntas. Salahsatu contohnya ialah Fikih Perempaun. Banyak di antara para pemikir kita mempertahankan status quo den­gan berasumsi bahwa memang seperti itu kata kitab kuning. Padahal, kitab-kitab kuning tidak lain hanya interpretase kultural terhadap kitab suci. Kitab-kitab kuning sesungguhnya pada umumnya disusun di dalam kurun waktu bera­bad-abad silam dan di dalam masyarakat Timur Tengah yang kulturnya bercorak continental. Tantangan kita sekarang bagaimana melahir­kan kitab fikih yang bercorak keindonesiaan, yang memiliki corak kultur maritim. Al-Qur'an dan hadis selalu membuka diri untuk diinterpre­tasi dan diartikulasi berdasarkan kultur lokal.

Samasekali kita tidak bermaksud untuk meng-absurd-kan kitab-kitab kuning, apalagi merendah­kan para ulama yang menyusunnya. Tokoh pendiri mazhab adalah orang-orang terbaik pada zaman­nya dan mungkin sejarah sulit mencetak ulama-ulama sekaliber itu. Namun demi untuk memenuhi perasaan keadilan kemanusiaan, sudah saatnya menyusun sebuah fikih yang bisa memenuhi peras­aan keadilan, terutama kaum perempuan yang se­lama ini sering merasa disobordinasi oleh pemikiran keagamaan konvensional. Melahirkan fikih kontem­porer tidak ada larangan dari mana pun. Para ula­ma pendiri mazhab sesungguhnya juga tidak per­nah memprediksi karya-karyanya akan dilegitimasi menjadi mazhab Negara atau mazhab rezim ter­tentu. Bahkan mereka dengan tawadhu membuka peluang pikirannya untuk diktritisi.

Penulis di sini mengusulkan reartikulasi se­jumlah ajaran Islam yang selama ini hanya muncul di atas kertas tetapi tidak terimplemen­tasikan secara actual. Fakta menunjukkan se­jumlah norma-norma hukum fikih tidak bisa dit­erapkan di dalam masyarakat, bukan karena masyarakat kita sudah megalami krisis keiman­an tetapi mereka hdup di dalam sebuah dunia yang rasional dan fragmatis, sehingga mereka dituntut untuk beragama secara rasional dan berkemanusiaan. Jika sebagian umat kita men­inggalkan norma-norma hukum sebagaimana dituangkan di dalam kitab-kitab fikih bukan be­rarti mereka dengan sadar meninggalkan aja­ran Al-Qur'an dan hadis. Mereka yakin bahwa solusi yang selama ini dilakukan dengan me­menuhi perasaan keadilan dianggap itu sudah qur'ani. Contoh, betapa banyak orang mewaris­kan hartanya tidak seperti konsep Fikih Mawar­is (Hukum Kewarisan) tetapi melalui persepak­atan antara keluarga atau para ahli waris.


Konsep Reaktualisasi yang pernah digagas oleh Prof. Munawir Syazali sayang sekali agak prematur, tidak disusun sedemikian "logic" se­hingga menuai banyak tantangan. Apa yang di­gagas beliau sesungguhnya bukan untuk men­inggalkan Al-Qur'an lalu diganti dengan pikiran humanism, tetapi maksud beliau tidak lain untuk menciptakan konsep penerapan (tathbiq) hu­kum yang lebih sesuai perasaan keadilan di da­lam masyarakat. Sayang sekali belum disusun kerangka ushuliyyah pemikirannya terus dilon­tarkan, sehingga memang konsepnya menjadi tidak jelas. Jika kita akan merubah konsep fikih maka yang terlebih dahulu harus disiapkan ialah kerangka ushul fikih yang kemudian akan digu­nakan sebagai metodologi (manhaj al-tathbiq) di dalam memproduksi hukum-hukum baru. Para mujaddid terdahulu seperti menarik benang dari tepung. Mereka berhasil merubah suatu keten­tuan tanpa menimbulkan ketegangan karena se­cara konsepsional betul-betul telah dipersiapkan. Dengan kata lain, mereka mereka tidak saja fasih berbicara dekonstruksi tetapi sepasih itu juga me­nyiapkan konsep rekonstruksinya. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya