Benang bedah merupakan salah satu alat yang memegang peranan penting di dunia medis. Sayang, Indonesia masih mengimpor benang ini.
Dengan mengimpor benang bedah ini, artinya ada tambahan biaya untuk pengadaannya di Tanah Air. Karena itu ketika PT Triton Manufactures menginisiasi pabrik benang bedah, Menkes Nila Moeloek, menyambut baik.
Menkes menyebut kebutuhan alat kesehatan meningkat seiring naiknya kebutuhan dalam pelayanan kesehatan. Apalagi selama ini 80 persen kebutuhan alat kesehatan masih membeli dari luar.
"70 Tahun merdeka tapi bahan baku farmasi masih impor. Saatnya pengusaha kita diberi peluang agar lebih berkembang,†kata Nila saat meresmikan pabrik benang bedah nasional PT Triton Manufactures di kawasan industri Sentul, Jl Cahaya Raya Kav H4A, Leuwinutug, Citeureup, Bogor, Sabtu (19/9).
Dia berharap, ke depannya Indonesia juga bisa menjual barang produksinya ke negara lain. Kemampuan teknologi dan manajemen juga diharapnya bisa ditingkatkan.
"Dengan beroperasinya pabrik alat kesehatan PT Triton Manufactures yang memproduksi benang bedah, surgical mesh dan skin marker akan mendorong tumbuhnya pabrik alat kesehatan yang lain,†ujar Menkes.
Dengan begitu, lanjuit dia, Indonesia tidak bergantung lagi pada produk alat kesehatan dari luar negeri. Sehingga ke depannya kebutuhan alat kesehatan untuk memenuhi pelayanan kesehatan secara bertahap bisa dipenuhi.
Menkes juga mengingatkan bahwa benang bedah, surgical mesh dan skin marker termasuk alat kesehatan yang harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan manfaat. Karena itu sediaan farmasi dan alat kesehatan harus mendapat izin edar. Distribusi komoditi produk alat kesehatan juga harus dilakukan penyalur alat kesehatan.
Untuk diketahui saat ini alat kesehatan yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri antara lain furniture rumah sakit, stetoskop, alat kesehatan elektromedik, alat kesehatan disposable, medical apparels dan produk consumable.
Saat ini ekspor industri alat kesehatan pada 2014 mencapai $ 750 juta dengan pertumbuhan 10 persen per tahun. Di masa mendatang, agar Indonesia mampu membuat alat kesehatan inovatif berdaya saing nasional maupun internasional maka juga diperlukan peningkatan pengembangan dan penelitian.
Jika dilihat dari segi kualitas, Menkes Nila, memuji benang bedah buatan lokal ini tidak kalah dengan produk asing. Bahkan, kalau memakai benang bedah itu harganya lebih murah sekira 30-40 persen daripada produk benang bedah impor.
"Benang bedah ini sudah melalui uji coba kami dengan ditandai nomor izin edar, BPOM, dan beberapa ahli bedah profesional. Saya harap semua rumah sakit nasional dan swasta memilih benang bedah buatan sendiri dan barangnya sudah bisa didapat dari E-Catalogue,†tutup Menkes.
[sam]