Berita

muhammad sukron/net

JK Harus Waspadai Manuver Sofjan Wanandi yang Mau Memecah Belah

RABU, 09 SEPTEMBER 2015 | 14:58 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di lingkar kekuasaan, sejak zaman kerajaan kuno hingga praktek demokrasi di era modern, selalu saja ada pihak-pihak yang memecah belah. Tujuannya juga selalu sama; mempertahankan kuasa atau melanggengkan sektor eknomi yang selama ini sudah digenggamnya.

"Maka dalam babak-babak sejarah di bagian manapun, sosok pemecahbelah selalu tercatat. Dan biasanya, pemecahbelah lahir atau muncul dari irisan salah satu pihak yang diadudomba. Maka kita kenal misalnya Sengkuni atau Dorna," kata Direktur Eksekutif Segitiga Institute, Muhammad Sukron, kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Rabu, 9/9).

Sukron menilai, di era pemerintahan Jokowi-JK ini juga ada sosok yang mulai terlihat jelas mau memecahbelah pemerintahan. Sosok itu misalnya Sofjan Wanandi, yang mau membenturkan Jokowi dengan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli, dengan mengatakan bahwa gebrakan Rizal yang mau mengevaluasi proyek listrik 35.000 Megawatt itu bertentanga dengan policy presiden.


"Ada makna retoris di balik ucapan Sofjan. Seakan-akan Rizal mau melawan Jokowi, dan publik digiring untuk lebih memilih percaya Jokowi ketimbang Rizal. Padahal gebrakan Rizal adalah manifestasi kebijakan Jokowi itu sendiri, yang mau memenuhi janji kampanye untuk mensejahterakan rakyat, bukan terus memanjakan pengusaha kelas atas," tegas Sukron, yang juga mantan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Sukron pun menilai, manuver Sofjan ini membahayakan JK, yang selama ini dikenal sebagai teman dekat dan koleganya. Bila dibiarkan maka publik akan menilai pandangan Sofjan adalah pandangan JK, yang merupakan pandangan dari sisi pengusaha yang selalu mementingkan urusan bisnis yang jauh dari prinsip-prinsip keadilan.

"Maka kali ini, JK harus waspada dan mulai menjaga jarak dengan Sofjan, bila tak mau pakaiannya ikut terlihat kotor. Sebab sebenarnya, Jokowi dan JK tak ada masalah," demikian Sukron. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya