Berita

Cari Formula Terbaru Dakwah Islam, IMM Gelar Seminar Tangkal ISIS

SELASA, 19 MEI 2015 | 23:16 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Paham radikalisme, utamanya ISIS, mengancam Indonesia. Banyak faktor yang melandasi gerakan anti Pancasila itu kian merebak di negeri ini.

Perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol Sudjatmiko menerangkan bahwa faktor keinginan untuk menegakkan khilafah merupakan motif yang melatari para pegiat gerakan radikal.

"Motifnya itu antara lain berjuang untuk menegakkan khilafah, tergiur bahwa memegang senjata itu gagah dan juga ingin gaji tinggi," ujarnya dalam seminar bertajuk 'Dialog Mahasiswa Menangkal Paham ISIS atas Nama Agama' yang digelar DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta di Kampus Uhamka (Selasa, 19/5).


Sementara itu, Ketua Komisi VIII Saleh P. Daulay yang turut menjadi pembicara dalam acara tersebut meminta kepada mahasiswa, utamanya IMM, untuk mempelajari Islam secara mendalam. Hal ini guna mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai Islam yang rahmatan lil 'alamin.

"Untuk mahasiswa Muhammadiyah, harus mempelajari Islam sedalam-dalamnya dan membantu pemerintah dalam mensosialisasikan bahaya ISIS," ujar mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Senada dengan hal itu, peneliti Ma'arif Institute Ahmad Fuad Fanani juga meminta mahasiswa berperan aktih mengkampanyekan bahaya ISIS bagi keutuhan NKRI.

"Sementara untuk pemerintah, harus mau menggandeng yang berkomitmen memerangi ISIS. Seperti yang dilakukan teman-teman IMM ini," ujarnya

Menanggapi usulan itu semua, Ketua DPD DKI Fadli Ferryansyah menuturkan bahwa acara seminar mengenai bahaya ISIS ini merupakan bentuk kepedulian dan respon mahasiswa Muhammadiyah atas merebaknya paham radikalisme yang terjadi di Indonesia.

"Tujuannya untuk menemukan formula dakwah yang seharusnya dilakukan mahasiswa Muhammadiyah, dalam menangkal gerakan-gerakan radikal yang dapat memecah belah NKRI," tandas Fadli yang merupakan inisiator acara yang dihadiri ratusan mahasiswa itu.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya