Berita

Kesehatan

No Generik, Penderita Jantung Indonesia Bayar Lebih Mahal dari Thailand

RABU, 04 MARET 2015 | 14:42 WIB | LAPORAN:

Saat ini DPR sudah mengumumkan pembahasan RUU Paten menjadi prioritas pembahasan di tahun 2015 ini. Koalisi Obat Murah (KOM) dengan tegas meminta pemerintah dan DPR bersama-sama memikirkan cara agar UU Paten yang baru menciptakan akses lebih besar bagi rakyat untuk mendapatkan obat berkualitas dan murah.

"Tidak bisa dipungkiri adanya hak paten bagi obat kerap kali menimbulkan persoalan karena dengan hak paten ini pemilik paten bisa menerapkan harga setinggi-tingginya tanpa mempertimbangkan hajat hidup orang banyak," kata jubir Koalisi Obat Murah Aditya Wardhana yang juga menjabat sebagai direktur eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC) dalam rilis dikirimkan di Jakarta, Rabu (4/3).

KOM adalah koalisi terbuka bagi kelompok pasien, LSM dan individu yang  memperjuangkan akses obat murah bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut dia, sejumlah penderita harus ke Thailand untuk bisa membeli obat versi generik yang harganya hanya 10 persen  dibanding versi paten yang beredar di Indonesia.


"Saya hampir 3-4 bulan sekali pasti membeli stok obat bagi saya dan teman-teman di Thailand karena disana tersedia versi generiknya. Obat jantung yang saya konsumsi disini harganya Rp 160 ribu perbutir sementara disana versi generiknya hanya Rp 20 ribu perbutir. Dengan konsumsi saya dua butir per hari, selisihnya bisa RP 8,5 juta sebulan. Sementara obat ini mesti kami konsumsi seumur hidup," imbuhnya.

Sementara itu,  Ayu Oktariani, public campaigner Kelompok #ODHABerhakSehat, menambahkan, tidak bisa dipungkri komponen pembelian obat masih menjadi komponen terbesar ketika seseorang membutuhkan perawatan karena sakit. Adanya jaminan dan perlindungan akses akan obat yang berkualitas dengan harga yang murah masih menjadi impian bagi rakyat Indonesia tidak terkecuali bagi kelompok ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS).

Dia mengungkapkan, informasi yang dikumpulkan kelompok #ODHABerhakSehat, banyak ODHA mengalami kesulitan mengakses obat murah dikarenakan obat yang beredar di pasaran saat ini mayoritas obat versi patent dengan harga yang mencekik leher.

"Banyak ODHA bergantung pada pembiayaan JKN. Beberapa obat yang dibutuhkan oleh ODHA itu tidak ditanggung oleh JKN dikarenakan obatnya mahal dan belum tersedia versi generiknya yang murah," kata Ayu Oktariani.

Kondisi senada terkait dengan ketiadaan obat versi generik  dihadapi oleh banyak pasien penyakit lainnya seperti kanker, hepatitis, jantung, HIV, lupus, diabetes, hipertensi paru dan banyak penyakit lain. Untuk beberapa kasus rare disease, ketiadaan obat makin menjadi persoalan karena perhatian pemerintah akan obat murah bagi penyakit dengan jumlah pengidap sedikit masih sangat kurang.

Indonesia pernah menjadi contoh bagi dunia ketika berani mengambil alih paten obat ARV bagi pengidap HIV di tahu 2004, 2007 dan 2012 dari pemegang hak paten sehingga sekarang obat ARV ini bisa murah dan disediakan secara gratis oleh pemerintah. Hal ini semestinya bisa di terapkan secara meluas bagi obat-obatan lain.

"Setiap rakyat Indonesia  pasti di suatu masa pernah mengalami sakit dan membutuhkan obat. Karenanya, jaminan dan proteksi pemerintah agar rakyat bisa mendapatkan obat murah menjadi keharusan yang mutlak dan tidak bisa ditunda," pungkas Ayu Oktariani.[wid]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya