Berita

vladimir putin/net

Dunia

Karpet Merah untuk Putin di Tengah Upaya Serbia Mendekati Barat

JUMAT, 17 OKTOBER 2014 | 03:15 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Suasana campur aduk mewarnai kunjungan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke negara sekutunya, Republik Serbia, Kamis (16/10). Di satu sisi, Putin menyatakan Serbia tetap menjadi sekutu terdekat. Di sisi lain, Serbia sedang mati-matian mendekati Uni Eropa yang belakangan ini punya hubungan tak begitu harmonis dengan Rusia.

Kedatangan Vladimir Putin disambut karpet merah dan penghormatan luar biasa lewat parade militer yang megah. Ribuan orang menyaksikan lebih dari 3.000 tentara dan tank berbaris dalam parade militer pertama Beograd sejak tahun 1985, yang ketika itu ibukota Yugoslavia.

Parade ini untuk memperingati kemenangan tujuh dekade lalu saat Rusia membebaskan Belgrade dari cengkeraman Nazi Jerman.  Pendudukan Nazi di Belgrade selesai ketika Tentara Merah Uni Soviet dan kaum partisan dari Yugoslavia merebutnya pada tanggal 20 Oktober 1944. Parade peringatan ini diadakan pada hari Kamis hanya untuk menyesuaikan dengan jadwal Putin, yang akan terbang ke Milan untuk pertemuan puncak Uni Eropa-Asia.


Yang membuat suasana agak berbeda adalah kedatangan Putin ini terjadi di tengah upaya Serbia diterima menjadi anggota Uni Eropa. Sementara, Uni Eropa terus menuduh Rusia berada di balik perang saudara yang terjadi di Ukraina.

Putin, yang pada kesempatan itu menerima penghargaan tertinggi dari Presiden Serbia, Tomislav Nikolic, menegaskan sikap Rusia tetap sama seperti di masa lalu, akan selalu melihat Serbia sebagai sekutu terdekat.

Di sisi berbeda, Perdana Menteri Serbia, Aleksandar Vucic, yang duduk di samping Putin mengatakan bahwa negaranya tidak akan berbelok dari pergeseran strategis mendekati negara-negara Barat.

"Kami tidak akan menyerah di jalan itu," katanya, seperti dilansir Al Jazeera.

Namun, Serbia, yang tahun ini menggencarkan negosiasi untuk bergabung dengan Uni Eropa, telah menolak untuk bergabung dengan sanksi-sanksi dunia Barat atas Rusia terkait dukungan terhadap separatis pro-Rusia di timur Ukraina. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya