Berita

Imam Prasodjo

Blitz

WAWANCARA

Imam Prasodjo: Busyro Muqoddas Belum Tentu Terpilih Lagi Jadi Pimpinan KPK

SENIN, 22 SEPTEMBER 2014 | 08:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Di antara 11 calon pimpinan KPK yang maju ke tahap selanjutnya, Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas paling familiar. Tapi belum tentu terpilih kembali.

“Pak Busyro belum tentu ter­pilih lagi menjadi Wakil Ketua KPK. Sebab, seleksinya dilaku­kan secara adil dan obyektif,’’ kata Juru Bicara Panita Seleksi (Jubir Pansel) Pimpinan KPK Imam Prasodjo kepada Rakyat Merdeka.

Seperti diketahui, Busyro Mu­qoddas berakhir masa jabatannya Desember 2014. Kemudian pe­merintah membentuk pansel un­tuk mencari pengganti Busyro.


Busyro mendaftar kembali se­bagai ca­lon pimpinan KPK. Awal­nya  104 ca­lon yang terdaf­tar. Tapi hanya 64 orang lolos seleksi ad­minis­tratif. Kemudian hanya 59 orang yang mengikuti tes pem­buatan ma­kalah. Ter­akhir hanya tersisa 11 calon.

Imam Prasodjo mengatakan, 11 calon yang lolos ke tahap se­lan­jutnya punya peluang yang sama.

“Beliau (Busyro) memang pu­nya nilai tambah dari sisi penga­laman di KPK. Namun calon lain juga tidak kalah pengalamannya, sehingga peluangnya sama,” papar dosen Sosiologi Univer­si­tas Indonesia itu.

Berikut kutipan selengkapnya:


Adakah calon titipan?
Sampai saat ini belum terlihat. Nanti pada saat yang akurat, se­te­lah proses profile assessment akan memasuki proses tracking. Nah dari sini baru bisa ter­lihat. Klimaksnya waktu wa­wancara, semua masu­kan dari masyarakat dan lem­baga, kami konfirmasi kepada para calon.

Sudah ada masukan masya­rakat?

Sudah. Kami meminta tangga­pan beberapa hal. Di antaranya integritas, kejujuran, gaya hidup, semuanya dikaitkan dengan ka­pasitas para calon. Lalu inde­pe­densi. Kami tidak ingin orang yang masuk KPK partisan.

Tapi penilaian terhadap setiap calon tidak untuk dipublikasikan. Hanya tim pansel yang bisa memperoleh informasi tersebut.

Apakah aduan dari masya­ra­kat sangat berpengaruh?

Ya. Jika dalam sesi wawancara aduan masyarakat terbukti, maka bisa menggagalkan peserta ma­suk ke dalam tahapan selanjut­nya. Tapi tidak semua pengadu­an yang masuk seluruhnya be­nar. Bisa saja ada pihak-pihak yang asal menuduh dan mem­punyai muatan tertentu. Semua masukan dari masyarakat akan kami per­timbangkan.

Empat pimpinan KPK masih menginginkan Busyro menja­bat lagi, apa ini bentuk tekanan kepada pansel?
Tidak. Pansel mengedepankan azas keadilan. Yang lain juga punya kesempatan yang sama. Asalkan melengkapi segala per­syaratan yang diperlukan. Ke­mudian mengikuti semua tahap­an proses yang berlaku.

Kalau sudah dipastikan ada pe­menangnya, buat apa ada tim pansel. Buat apa dilakukan ber­bagai macam proses yang pan­jang ini.

Tanggal 20 Oktober menda­tang pergantian pemerintahan, bagai­mana nasib pansel?
Kami berusaha secepatnya me­lakukan proses demi proses, se­hingga 10 Oktober 2014 sudah ma­suk proses wawancara. Ber­arti masih 10 hari lagi menuju pe­me­rintahan baru.  Mudah-mu­dahan hasilnya sudah ada di situ.

Yakin bisa selesai sesuai target?

Kami yakin bisa. Karena jum­lah peserta yang ada saat ini tidak sebanyak ketika seleksi pimpinan KPK yang sebelumnya. Saat itu ada 18 calon pimpinan yang ha­rus diseleksi dan satu hari bisa selesai. Dalam tahapan wawan­cara hanya membutuhkan paling lama satu jam untuk setiap orang. Jadi dari sisi waktu masih me­mungkinkan.

Apa pansel bekerja sama dengan pihak lain?
Ya. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama ini, Pansel su­dah memutuskan meminta ban­tuan kepada berbagai lembaga tracking. Tujuannya untuk lebih memudahkan melakukan se­leksi dalam setiap tahapannya.

Berapa lembaga?
Ada beberapa lembaga. Di an­taranya, Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kepolisian, Indonesia Coruption Watch (ICW), Perkumpulan un­tuk Pemilu dan Demokrasi (Per­lu­dem) dan Yayasan Lembaga Ban­tuan Hukum Indonesia (YLBHI). Namun belum sampai kepada kesepakatan final. Ar­tinya belum ada konfirmasi dari lem­baga tersebut.   ***

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya