. Presiden SBY harus memberikan kesempatan kepada putra terbaik Bangka Belitung (Babel) untuk menjadi Direktur Utama dan Komisaris Utama di PT Timah yang akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 25 Maret mendatang. Pemerintah, dengan kepemilikan 65 persen saham, harus memilih direksi yang bisa memajukan sekaligus mewujudkan kepedulian yang besar terhadap lingkungan, kesempatan kerja dan kesejahteraan rakyat di Babel dan Kepulauan Riau.
Demikian pernyataan sikap yang disampaikan sejumlah tokoh masyarakat Bangka Belitung ‎yang termuat dalam surat tuntutan yang ditujukan kepada Presiden dan Kementerian terkait. Dalam surat tuntutannya (Kamis, 20/3). ‎‎
Sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam FKMPB diantaranya yakni anggota DPD RI 2004-2009 Rusli Rahman, Ketua DPRD Prov Babel 2001-2004 Emron Pangkapi, Ketua DPRD Prov Babel 2004-2009 Munir Saleh, Wakil Gubenur Babel Suryadi Saman, Walikota Pangkalpinanh 2003-2013, mantan Karyawan PT Timah Djunaidi Mustar, anggota DPRD Babel 2004-2009 Zulkarnain Syamsudin, Pembina Asosiasi Tambang Rakyat Daerah (Astrada) ‎Johan Murod dan Ketua Asosiasi Industri Timah Apik C Rasjidi.
Dalam surat ini, FKMPB juga menilai manajemen PT Timah dinilai tidak pro terhadap masyarakat Babel lantaran perusahaan tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dan munculnya konflik internal. Direksi juga dinilai gagal mengemban misi BUMN Timah, terutama bagi masyarakat Babel yang telah mampu membandingkan kinerja Direksi sekarang ini dengan direksi sebelumnya.
Direksi PT Timah saat ini dinilai gagal menjalankan komitmennya untuk melaksanakan program investasi di daerah karena memilih investasi di luar negeri yang sangat rentan resiko dibandingkan berinvestasi dan membangun serta menyelamatkan lingkungan di Kepulauan Babel dan Kepulauan Riau.
Dengan demikian, FKMPB menilai telah terjadi salah urus yang kronis dalam pengelolaan pertimahan di Kepulauan Babel dan Kepulauan Riau.
FKMPB mengharapkan Direksi PT Timah pada masa yang akan datang harus benar-benar mengusahakan PT Timah sebagai aset bangsa yang di cintai, terutama oleh masyarakat Babel karena kepedulian dan besarnya adil untuk menyelesaikan masalah serta menyejahterakan pulau-pulau penghasil Timah.
"Kepemimpinannya tidak hanya harus paham betul tehnik-tehnik pertambangan tetapi juga memahami kondisi sosiologis, harapan, tuntutan dan persepsi masyarakat terhadap BUMN ini," kata Zulkarnain Karim.
Menurutnya keuntungan PT Timah hanya tertolong dengan keadaan moneter kenikan kurs dolar AS dan harga timah yang sedang melambung. Namun, keuntungan itu pun tidak sebanding dengan utang yang dimiliki oleh PT Timah‎ mencapai Rp 1,4 triliun.
[ysa]