Berita

ilustrasi/net

Politik

Hakim MK Dicokok KPK, Indonesia Butuh Pemimpin Kuat

JUMAT, 04 OKTOBER 2013 | 20:37 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Penangkapan Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena menerima suap dari pihak-pihak yang terlibat sengketa Pilkada menunjukkan bahwa keistimewaan jaminan hidup yang diterima Ketua Mahkamah Konstitusi belum dapat menghabisi budaya korupsi yang sudah mengakar di Negara ini.

"Jabatan Ketua MK dianggap sebagai jabatan sakral, simboli keadilan dan supremasi hukum di Republik Indonesia. Tentu kita sangat prihatin dengan penangkapan tersebut," ujar Direktur Eksekutif Pusat Kajian Demokrasi Indonesia Nurjaman Center (NCID) Jajat Nurjaman dalam keterangan persnya, Jumat (24/10).

Menurutnya, untuk memberantas korupsi di Indonesia diperlukan dua hal lagi selain jaminan hidup yang baik bagi semua pemangku keputusan di negeri ini. Kedua hal tambahan itu adalah hukuman yang menimbulkan efek jera, dan kepemimpinan yang kuat.


"Tanpa ketiga hal ini, mustahil korupsi bisa diberantas," katanya.

Jajat menambahkan momen Pemilu 2014 ini adalah kesempatan emas bangsa Indonesia untuk terbebas dari korupsi. Pertama, partai-partai yang memiliki keberanian bisa membuat kontrak politik kepada rakyat Indonesia. Jika menang, maka harus merevisi UU Tipikor dan merevisi hukuman minimal yang diberikan kepada koruptor menjadi diatas 40 tahun penjara.

Kedua, Pemilu 2014 adalah momen untuk pemimpin yang tegas dan kuat mengambil alih kursi kepresidenan. Sosok yang memiliki citra tegas dan kuat pasti akan mendapatkan dukungan elektoral yang sangat kuat.

"Saat ini menurut saya hanya ada satu orang yang masuk kategori itu, yaitu Prabowo capres dari Gerindra," kata Jajat menjawab pertanyaan siapa figur capres dengan citra tegas dan kuat.[dem]



Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya