Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Oesman Sapta Odang menyatakan Rizal Ramli adalah ekonom kelas dunia. Indonesia membutuhkan pemimpin yang paham dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi yang membelit bangsa ini. Rizal Ramli adalah orang yang tepat untuk itu.
"Karena keahlian dan kematangannya, Rizal Ramli bahkan dimanfaatkan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai penasehat ekonomi. Jadi, jangan sampai ada orang yang menuduh Rizal Ramli berambisi menjadi Ketua Umum Kadin. Kadin terlalu kecil buat dia. Tapi lebih kecil lagi yang menjadi lawannya," ujar Oesman saat jumpa pers Kadin di Jakarta, Jumat (4/10).
Jumpa pers dihadiri DPP Kadin, Dewan Pertimbangan, Dewan Penasehat, Kadinda-kadinda dan Ketua-ketua Asosiasi dari seluruh Indonesia. Sementara, Rizal Ramli dipilih secara aklamasi oleh 23 Kadin Daerah dan 20 asosiasi sebagai Ketua Umum Kadin dalam Rapat Pimpinan Nasional di Bali, Sabtu (28/9) pekan lalu.
Menurut OSO, begitu Oesman Sapta disapa, hanya orang-orang tidak jujur yang tidak setuju Rizal Ramli menjadi Ketua Umum Kadin. Meski demikian, lanjut dia, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu berkali-kali menyatakan sama sekali tidak berniat menjadi Ketum Kadin. Itulah sebabnya jabatan itu diterima pada Rapimnas dengan syarat hanya sampai mengantarkan diselenggarakannya Munas Kadin akhir Oktober ini saja.
"Pak Rizal Ramli itu sudah bukan levelnya lagi di Kadin. Beliau bahkan sudah melewati jabatan Menteri Perekonomian. Kalau nanti setelah Ketum Kadin kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia, nah itu baru benar. Soalnya Indonesia membutuhkan ekonom yang paham dan terbukti mampu menyelesaikan bermacam problem ekonomi bangsa. Jadi, jangan ada dusta di antara kita lah," tukas OSO disambut tepuk tangan hadirin yang memenuhi ballroom Mutiara Hotel JW Marriott, Jakarta.
Tentang anggapan Kadin hasil Rapimnas Bali sebagai para pemimpi, Osman justru menyatakan justru sebaiknya bermimpi sekarang dan kelak mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Yang buruk adalah, bila kenyataan yang dibanggakan itu ternyata hanya menjadi mimpi-mimpi yang tidak pernah terwujud.
"Sekali lagi saya tegaskan, kita di sini semua tidak ingin menjadi Ketum Kadin. Saya tidak, Pak Rizal tidak, Pak Setiawan Djodi juga tidak. Kita ingin mengangkat orang yang benar-benar pantas menjadi Ketum Kadin, yang bisa menjadikan Kadin berwibawa dan bermanfaat bagi seluruh pengusaha, khususnya pengusaha daerah dan UMKM, bukan jadi alat para pengurus dan elitnya belaka," paparnya yang lagi-lagi disambut tepuk tangan meriah hadirin.
[dem]