Berita

KPK Kelimpungan Seret Anas ke Persidangan

KAMIS, 26 SEPTEMBER 2013 | 15:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pernyataan yang dilontarkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazarudin tidak pernah konsisten dan selalu berputar-putar. Untuk menguji makna dan kualitasnya memerlukan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

"Kalau hanya mengikuti pernyataan Nazarudin tanpa mengaitkannya dengan kualitas pengakuan dia sejak diburu KPK, publik akan kecewa," ujar Ketua Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Junisab Akbar pada wartawan, Kamis (26/9).

Setelah coba mempercayai informasi Nazaruddin sampai menangani kasus yang dituduhkan kepada mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, sampai sekarang KPK tidak bisa dengan lugas membuktikan tuduhan tersebut. Bahkan IAW kata Junisab, mendapat informasi bahwa diduga pimpinan KPK 'kelimpungan' dalam upaya menyeret Anas ke penuntutan sampai persidangan karena kekurangan alat bukti. Jadi sekarang KPK terjebak permainan politik.


Saat ini Nazarudin diasumsikan sebagai orang yang tahu banyak hal yang tidak banyak diketahui publik. Namun nyatanya sampai saat ini Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) tidak pernah mau untuk mengakuinya sebagai orang yang patut untuk diberi perlindungan atas apa yang diketahuinya.

"Kualitas kejujuran dia sangat jauh berbeda dengan sejawatnya Mindo Rosalina Manullang dan Yulianis yang diproteksi LPSK," tuturnya.

Untuk itu, KPK diminta tidak terjebak dalam gegap gempita 'pengakuan politis' Nazarudin. Teriakan dia itu lebih bermuatan politik ketimbang maksud baik untuk menegakkan kebenaran

"Lebih baik KPK menggunakan mekanisme yang lain agar tidak terseret dalam pusaran politik yang diciptakan tersebut," tutup mantan anggota Komisi III DPR RI itu.[dem]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya