Berita

dr rizal ramli/net

Politik

Rizal Ramli: Indonesia Butuh Mobil Nasional Murah

SABTU, 21 SEPTEMBER 2013 | 23:42 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah Indonesia seharusnya memanfaatkan kebutuhan mobil yang terbilang tinggi di pasar dalam negeri dengan membangun industri mobil nasional. Malaysia dan Korea Selatan, misalnya, mengembangkan industri mobil di saat kebutuhan mobil di dalam negeri mereka baru pada kisaran 100 ribu unit.

Sementara kebutuhan mobil di Indonesia saat ini berkali lipat dibandingkan kebutuhan mobil di Malaysia dan Korea antara 10 hingga 15 tahun lalu. Namun begitu pemerintah masih lebih senang menggantungkan diri pada industri mobil luar negeri.

Pernyataan Rizal Ramli ini disampaikan untuk mengomentari perdebatan yang mengiringi rencana pemerintah menghadirkan mobil murah untuk rakyat yang disebut menggunakan teknologi ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC).


Perdebatan yang terjadi, sebut mantan Menko Perekonomian ini, seringkali tidak produktif dan bahkan tidak nyambung. Kalangan industriawan mobil yang mendukung kebijakan itu karena produsen-produsen mobil konvensional merasa mendapat angin segar. Sementara kalangan lain memperdebatkan dari sisi kemacetan kota-kota besar seperti Jakarta.

"Untuk soal kemacetan, solusinya adalah perbaikan dan penyempurnaan konsep transportasi publik. Tetapi soal mobil murah mestinya dilihat dari perspektif membangun industri otomotif dalam negeri," ujar Rizal Ramli.

"Jadi, kalau hanya mobil murah untuk gaya-gayaan, saya tidak setuju. Itu berarti Indonesia tetap tergantung produsen asing. Tapi kalau mobil nasional yang dipasarkan dengan harga murah untuk rakyat, saya setuju dan mendukung," kata dia lagi.

Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) yang merupakan salah seorang calon presiden alternatif itu juga menilai jalan pikiran membangun mobil nasional akan memaksa produsen mobil asing memindahkan industri mereka ke Indonesia sehingga cost dapat ditekan. Selain itu jalan pikiran seperti ini akan menambah lapangan pekerjaan dalam jumlah signifikan.

Sementara mobil murah yang sebagiab besar komponennya berasal dari luar negeri pada gilirannya akan mengakibatkan defisit transaksi berjalan yang menyulitkan. Dia juga meragukan itikad pemerintah dalam hal ini karena pemerintah menjanjikan insentif bagi perusahaan otomotif asing di Indonesia yang merajai pasar. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

UPDATE

Lurah Cengkareng Barat Dilaporkan ke Polisi Buntut Putusan KIP

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:36

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:25

Prabowo Diminta Segera Bentuk Satgas Penyelundupan BBL

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:56

Segera Dibentuk Satgas Anti-Kekerasan Pesantren

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:35

Tata Kelola SDA Era Prabowo Disebut Berpihak ke Rakyat

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:10

Ribuan Bobotoh Turun ke Jalan, Purwakarta Berubah Jadi Lautan Biru

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:42

Lonjakan Gila Minyakita Rapor Merah Zulkifli Hasan

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:12

PKS Ingin Cetak Pemimpin Berbasis Iman, Bukan Sekadar Kejar Kursi

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:32

Dalam Lindungan Aktor Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:59

BNI dan Kementerian PKP Sosialisasi Kresit Perumahan di Brebes

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:34

Selengkapnya