Berita

Politik

PILKADA

Pemilihan Kepala Daerah oleh DPRD Memang Mengurangi Political Cost, Tapi...

SABTU, 21 SEPTEMBER 2013 | 12:47 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Usul pemerintah mengenai pemilihan bupati/walikota secara langsung oleh DPRD perlu diperhatikan dan dipertimbangkan secara serius. Pemilihan langsung ini dinilai dapat menghindari konflik horizontal di tengah masyarakat.

Selain itu, departemen dalam negeri, KPU, Bawaslu, dan instansi pemerintah lainnya tidak terlalu banyak menghabiskan energi untuk mengawasi dan memantau jalannya pilkada di 497 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Demikian pendapat Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh D. Partaonan, yang disampaikan kepada redaksi beberapa saat lalu (Sabtu, 21/9).


"Menurut saya, dari dua pilihan yang ada, masing-masing memiliki plus-minus," katanya.

Jika pemilihan dilakukan oleh DPRD, yang paling banyak diuntungkan adalah partai besar yang memiliki perwakilan yang banyak di DPRD. Karena suara mereka besar, maka merekalah yang paling memungkinkan memenangkan setiap pemilihan.

Pemilihan oleh DPRD mengurangi cost politics yang cukup besar. Selain itu, tidak menelan waktu yang lama dalam pelaksanaannya. Begitu juga, sengketa pilkada akan drastis turun. Tugas MK menjadi lebih ringan.

Namun, jika pemilihan dilakukan secara langsung oleh rakyat, siapa pun memiliki kemungkinan dan potensi untuk menjadi kepala daerah. Bukan hanya kandidat dari partai-partai kecil, mereka yang bukan pengurus parpol pun bisa menempuh jalur independen.

Kelemahannya, sistem ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Selain untuk biaya penyelenggaraannya, political cost yang harus dikeluarkan oleh kandidat juga sangat besar. Mereka perlu menyiapkan anggaran untuk atribut, kampanye, dan kegiatan sosial lain. Bahkan, tidak jarang para kandidat juga harus membayar langsung para pemilih agar bisa memenangkan pertarungan.

Dengan pertimbangan itu, Saleh mengatakan lagi bahwa pemilihan langsung untuk bupati/walikota belum tepat untuk dilakukan saat ini. Persoalan utama sesungguhnya, sambung dia, terlihat pada tingkat pendidikan masyarakat.

"Tidak semua anggota masyarakat bisa menggunakan hak pilihnya berdasarkan pilihan rasional dan bertanggung jawab. Sebagian besar di antara mereka menggunakan hak pilihnya karena pilihan emosional-temporal yang sarat dengan muatan-muatan pragmatisme," demikian Saleh. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

UPDATE

Lurah Cengkareng Barat Dilaporkan ke Polisi Buntut Putusan KIP

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:36

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:25

Prabowo Diminta Segera Bentuk Satgas Penyelundupan BBL

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:56

Segera Dibentuk Satgas Anti-Kekerasan Pesantren

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:35

Tata Kelola SDA Era Prabowo Disebut Berpihak ke Rakyat

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:10

Ribuan Bobotoh Turun ke Jalan, Purwakarta Berubah Jadi Lautan Biru

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:42

Lonjakan Gila Minyakita Rapor Merah Zulkifli Hasan

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:12

PKS Ingin Cetak Pemimpin Berbasis Iman, Bukan Sekadar Kejar Kursi

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:32

Dalam Lindungan Aktor Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:59

BNI dan Kementerian PKP Sosialisasi Kresit Perumahan di Brebes

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:34

Selengkapnya