Berita

ustad jalal/ist

KH Jalaluddin Rakhmat: Hanya PDI Perjuangan yang Membela Kaum Minoritas dan Mustadhafin

SABTU, 04 MEI 2013 | 09:05 WIB | LAPORAN:

. Cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat memutuskan untuk terjun ke gelanggang politik praktis.

Di antara alasan Kang Jalal, begitu ia disapa, terjun ke politik karena menyaksikan nasib kelompok minoritas kian mengenaskan, serta di saat yang sama hukum impoten karena selalu ada kepentingan-kepentingan politik di baliknya.

PDI Perjuangan pun menjadi partai yang dipilih Ustadz Jalal, begitu ia disapa jamaahnya, sebagai wadah dan alat perjuangan membela kaum minoritaas. Ustadz Jalal pun, kini, sudah terdaftar dalam daftar calon sementara (DCS) bakal caleg.


Mengapa pakar komunikasi dan Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) ini memilih PDI Perjuangan?

"Karena hanya PDI Perjuangan yang saya lihat dan saya nilai membela kaum minoritas," kata Ustad Jalal saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online, Jumat sore (3/5).

Doktor bidang hadits yang sudah menulis berbagai buku agama, retorika, komunikasi, psikologi dan lain-lain ini mengatakan ia tak mungkin memilih partai-partai Islam, sebab selama ini partai-partai Islam tidak pernah menjadikan isu pembelaan terhadap kaum minoritas sebagai isu utama politiknya. Bahkan, tidak jarang, partai Islam ikut menyudutkan kelompok minirotas untuk menarik simpati dari kelompok mayoritas.

Master komunikasi dari Iowa State University dan doktor untuk studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional dari Australia National University (ANU) ini pun mengaku tidak mungkin memilih partai-partai baru yang belum mapan dan stabil. Ia mau berjuang dengan partai-partai yang sudah stabil, sehingga bisa memperjuangkan gagasannya.

"Saya ini sudah tua. Di usia tua ini, saya tak mau berspekulasi dengan memilih partai-partai yang belum mapan. Masa di usia yang sudah tiggal menunggu kematian ini, saya mau berjudi politik. Saya tidak mau berspekulasi," kata Ustad Jalal, sedikit bergurau.

"Dan saya yakin, PDIP yang paling besar kemungkinan memenangkan Pemilu 2014, sehingga saya pun bisa berjuang di PDIP. Jelek-jelek begini, saya juga dosen komunikasi politik dan statistik. Saya lihat PDIP yang akan memang pemilu," sambung Ustad Jalal.

Meskipun Golkar juga sudah mapan dan stabil, tapi dalam penilaian Ustad Jalal, partai berlambang pohon beringin itu tidak mampu memperjuangkan kelompok minoritas. Selain karena begitu banyak faksi di Golkar, kelompok Islam juga begitu mendominasi. Hal ini berbeda dengan PDI Perjuangan.

Alasan lain yang membuat Ustad Jalal memilih PDI Perjuangan, karena isu utama PDI Perjuangan dengan dirinya hampir memiliki titik kesamaan. PDI Perjuangan, selalu identik dan memperjuangkan kepentingan wong cilik. Sementara perjuangannya selama ini juga adalah memberdayakan kelompok kecil juga.

"Bila PDIP memperjuangkan wong cilik, saya memperjuangkan kaum mustadhafin, atau kelompok yang tertindas secara ekonomi dan politik. Itu sama, antara wong cilik dan mustadhafin. Jadi kami memiliki kesamaaan dalam hal ini," ungkap Ustad Jalal, sambil mengatakan bahwa proses kaderisasi di PDI Perjuangan berjalan dengan baik, dan PDI Perjuangan dipenuhi kader-kader berkualitas, seperti Gubernur DKI Joko Widodo dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.  

Alasan lain mengapa Ustad Jalal memilih PDI Perjuangan, karena ia ditawari juga oleh salah satu tokoh di tubuh PDI Perjuangan. Siapa tokoh itu, Ustad Jalal belum mau terbuka.

"Pokoknya ditawari oleh seseorang di PDIP. Itu alasan tambahan mengapa saya masuk PDIP. Dan tawaran itu datang pas, karena saya juga sudah pensiun sebagai dosen setahun lalu. Ya itung-itung mengisi waktu di masa tua, daripada menganggur, sambil menanti kematian, saya berpolitik," kata Ustadz Jalal, dengan sedikit bergurau lagi. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya