Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Waspadai Nyeri Dan Kaku Otot Di Sekitar Punggung

86 Persen Wanita Berisiko Terserang Osteoporosis
JUMAT, 03 MEI 2013 | 07:24 WIB

Rasa nyeri di bagian punggung harus diwaspadai, karena itu salah satu gejala kelainan tulang kifosis (bungkuk), akibat kelelahan dan kekakuan pada otot, terlebih pada usia lanjut. Bahkan penyakit tulang ini juga bisa menyerang usia muda.

Osteoporosis menjadi penyebab utama penyakit kifosis. Bahkan sekitar 86 persen wanita Indonesia sangat khawatir akan risiko menjadi bungkuk di kemudian hari. Kekhawatiran itu melebihi masalah berat badan.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpKFR), Departemen Rehabilitasi Medik RSCMFKUI, dr Siti Annisa Nuhonni mengatakan, penyakit ini jika dibiarkan bisa berdampak ke paru-paru. Sehingga, sulit mengembang karena suplai oksigen ke badan menjadi berkurang dan bisa berbahaya bagi jantung.


Menurut dokter yang disapa Honni ini, penyakit kifosis merupakan bentuk kelainan tulang. Ini ditandadi dengan kondisi punggung bagian atas yang melengkung atau bungkuk.

“Sedikit melengkung masih normal, tetapi kifosis biasanya mengacu pada melengkung yang sangat parah, yaitu lebih dari 50 derajat,” terang dr Honni di acara diskusi kesehatan tulang bertajuk ‘Kenali Kifosis, Jauhi Penyebabnya Osteoporosis, Demi Esok Yang Lebih baik’ di Jakarta, Jumat (26/4).

Penyakit kifosis, terang Honni terbagi menjadi dua, yakni kifosis fungsional dan struktural. Kifosis struktural biasanya terjadi pada lansia. Sudah permanen dan tidak dapat dikoreksi.

Sedangkan kifosis fungsional, umumnya disebabkan oleh kebiasaan sehari hari seperti duduk yang tidak tegak, terlalu banyak membungkuk, kurang menarik bahu, dan beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan postur tubuh lainnya.
“Untuk kifosis fungsional, bungkuknya masih bisa disembuhkan dengan terapi maupun memperbaiki kebiasaan membungkuk. Selain itu juga bisa dengan menarik bahu dan perut serta membusungkan dada,” ujarnya.

Sementara kifosis struktural dinilai sudah permanen dan sulit disembuhkan. Kifosis ini juga bisa mengganggu kinerja bagian tubuh lainnya. Sebut saja lutut dan pinggang yang harus menahan beban badan berlebih karena posisi badan yang bungkuk.

“Osteoporosis masih menjadi penyebab utama kifosis lantaran tulang belakang yang rapuh dan lemah,” ungkap dr Honni.

Lantas seperti apa gejala penyakit ini? Honni menjelaskan, biasanya penderita mulai merasakan nyeri di bagian leher dan di sekitar wilayah punggung.
Ditambah lagi rasa nyeri di kepala, kesemutan anggota gerak hingga mengalami gangguan penapasan. “Deteksi dini sangat penting.

Dengan menjaga vitalitas tulang sejak muda risiko kifosis bisa dikurangi. Tulang itu harus ada tekanan dan tarikan. Kita harus bergerak membuat otot menarik tulang agar tulang ditahan tetap tegak,” ucapnya.

Head of Medical Sales Fonterra Brands Indonesia Muliaman Mansyur menambahkan, sekitar 86 persen wanita khawatir terkena kifosis. Kekhawatiran itu bahkan melebihi masalah berat badan.

“Wanita akan mengalami penurunan kepadatan masa tulang khususnya ketika usia di atas 30 tahun. Nanti akan terus menurun seiring bertambahnya usia. Selain itu, kurangnya asupan nutrisi kalsium sejak usia muda hingga usia tua turut memperparah kondisi tersebut,” terang dr Muliaman.
Menurutnya, kifosis dapat dicegah dengan menjaga asupan kalsium dan vitamin D serta rajin melakukan aktivitas fisik.

Perbaiki Tubuh Dengan Rajin Olahraga Serta Hindari Pakai Tas Ransel Dengan Beban Berat

Selama ini banyak mitos yang berkembang di masyarakat, memakai tas ransel bisa memicu tulang menjadi bungkuk. Namun ternyata sebaliknya, pakai tas ransel yang tidak berlebihan, bisa menjadi alat terapi sederhana bagi penyembuhan kifosis.

Menurut Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpKFR), Departemen Rehabilitasi Medik RSCM-FKUI, dr Siti Annisa Nuhonni, membawa tas ransel akan membantu menjaga postur tubuh, khususnya tulang belakang.

“Asalkan tas ranselnya tidak terlalu berat. Dengan menggunakan backpack dapat menjaga dan membetulkan postur tubuh menjadi tegak,” ujar dr Honni di Jakarta, (26/4).

Honni mengatakan, beban tas ransel harus berkisar 10-20 persen dari berat badan. “Kalau beratnya 50 kilogram, kira-kira berat tas hanya sekitar 5 kilogram. Kalau keberatan tidak bagus dan buat punggung makin bungkuk,” jelasnya.

Sedangkan pada anak-anak yang membawa tas ransel dengan beban tas melebihi tubuhnya, karena diisi oleh buku, bekal maupun pakaian, sangat berisiko merusak tulangnya.

“Hal ini yang harus dicegah. Jika sejak dini sudah membawa tas berat dari tubuhnya, masa depannya berpotensi terkena kelainan tulang,” katanya.

Menurut dia, di kalangan wanita dan remaja paling rentan mengalami kelainan tulang menuju skoliosis (kelengkungan tubuh ke arah samping), akibat sering membawa tas tangan serta menggunakan sepatu berhak tinggi.

“Penggunaan tas semacam ini menimbulkan risiko, karena menyebabkan tulang jadi tidak seimbang dan dapat merusak postur tubuh. Sebisa mungkin penggunaannya harus dihindari,” warning dr Honni.

Ia menyarankan, pola hidup sehat harus dijaga sejak dini agar berbagai kelainan ini bisa dikoreksi. Jadi tak perlu cemas jika mengalami hal tersebut, asalkan tetap memperhatikan asupan kalsium dan menjaga keseimbangan postur tubuh.

Selain mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin D, susu berkalsium dan melakukan terapi membawa tas ransel, berenang pun bisa menjadi alternatif lain dalam mengembalikan tubuh ke bentuk yang normal.

“Untuk menghindari kelainan tulang harus menjaga postur tubuh, otot tubuh dikuatkan, dan latihan. Caranya, tarik perut ke belakang dan tekan bahu, sehingga dapat mengembalikan postur tubuh ke bentuk sebelumnya,” saran dr Honni. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya