Berita

andi arief

Politik

Andi Arief: Dosa Terberat Intelektual adalah Kediktatoran Riset

SELASA, 30 APRIL 2013 | 14:48 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Inisiator Tim Terpadu Riset Mandiri, Andi Arief, punya catatan buram mengenai reputasi para arkeolog pemerintah atau arkeolog plat merah yang didapatkannya dari dialog bersama Bapak Arkeologi Indonesia.

Andi Arief mengisahkan, suatu sore ia pernah kedatangan Profesor Mundardjito. Staf Khusus Presiden ini menceritakan, dalam kesempatan itu dia bertanya tentang penelitian Borobudur yang berjalan begitu lama dari sejak ditemukan pertama kali.

Menurut Mundardjito, arkeolog bekerja berdasarkan masukan para geolog yang terlibat juga di pemugaran. Namun, saat itu alat bantu geofisika tidak secanggih sekarang, tidak banyak alat dan yang mampu menggunakannya. Untuk melihat Borobudur sampai pada kedalaman tertentu, pemindaian dan coring (pengeboran) adalah langkah yang dilakukan untuk membentu percepatan pemugaran.


Andi Arief melanjutkan, bahkan saat itu Mundardjito mengatakan karena baru tahun 1960-an uji karbon untuk membantu mengetahui usia bangunan baru ditemuka, maka hampir semua temuan bangunan atau artefak luput dari pengujian umur usia, termasuk situs di Trowulan.
 
"Lalu saya kembali bertanya, apakah uji karbon itu bisa direkayasa? Jelas tidak bisa menurut bapak arkeologi itu. Karena uji karbon adalah ilmu pasti," ungkap mantan Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ini.

Jadi, ada kesimpulan bahwa bila ada sayembara menemukan karbon berusia 25 ribu tahun, tak mungkin bisa ditemukan di sembarang tempat kecuali di bawah permukaan yang dulunya pernah ada kehidupan atau pernah terkena sinar matahari.  

Menurut sang profesor, penyakit arkeolog lokal adalah malas mengeksplorasi dan lebih suka berbulan-bulan bekerja sama dengan peneliti asing. Cara pemindaian alat geofisika diikuti pengeboran serta uji karbon adalah metode scientifik yang selama ini dilakukan oleh ratusan arkeolog asing yang pernah didampingi oleh arkeolog plat merah kita.

"Tengoklah forum internasional, 90 persen kebudayaan kita risetnya milik asing. Saatnya untuk introspeksi," ujar Andi.

Pelarangan riset Tim Terpadu Riset Mandiri yang dilakukan melalui petisi oleh sejumlah ilmuwan merupakan catatan yang paling buram. Dalam petisi itu ada Kepala Arkenas,  Bambang Sulistyono; Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi, Rovicky Dwi Putrohohari; dan geolog senior DR. Sudjatmiko, lalu Sutikno Bronto dari Badan Geologi.

"Sepanjang yang saya tahu, dosa terberat intelektual adalah ketika mereka bergabung lalu membentuk kediktatoran riset. Catatan buram ini tantangan yang harus dihadapi dan dicari jalan keluar. Bisa dimaafkan, namun sulit untuk dilupakan," tandasnya.

Jumat lalu (26/4), berkumpul sejumlah ahli dari berbagai bidang ilmu, seperti arkeolog dan geolog gunung purba di Puslit Arkenas untuk membahas persoalan situs Gunung Padang.

Dialog yang melibatkan para ahli ini menyatakan, tidak ada landasan ilmiah yang kuat dalam penggalian situs purba Gunung Padang yang dilakukan Tim Terpadu Riset Mandiri di Gunung Padang. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya