.Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menyatakan, mayoritas masyarakat belum benar dalam menggosok gigi sehari-hari. Perilaku ini menyebabkan penderita sakit gigi di Indonesia cukup tinggi.
Menurut data Riset KeseÂhatÂan Dasar (Rikesda) KeÂmenÂterian Kesehatan (Kemenkes) Tahun 2007, 72 persen penduduk IndoÂnesia mempunyai pengaÂlaÂman karies (gigi berlubang) dan 46,5 di antaranya, merupakan karies aktif yang belum dirawat.
Ketua Umum PDGI Zaura RiÂni AngÂgraÂeni mengatakan, 92 perÂsen masÂyarakat sudah dua kali mengÂgosok gigi daÂlam seÂhari. Namun, dari jumÂlah terÂsebut, haÂnya tujuh perÂsen yang mengÂgosok gigi seÂcaÂra benar.
“Perbedannya sangat jauh, anÂtara yang menggosok gigi dua kali sehari dengan yang mengÂgoÂsok gigi secara benar,†kata Rini saat acara Peringatan Hari KeseÂhaÂtan Gigi dan Mulut SeÂdunia di Jakarta, Jumat (22/3).
Rini menuturkan, masih baÂnyak masyarakat yang mengÂgoÂsok gigi dua kali sehari, namun tidak dalam waktu yang tepat. MiÂsalnya, dilakukan pada pagi dan sore hari.
“Seharusnya menggosok gigi yang benar itu pagi dan malam hari sebelum tidur. Yang penting malam hari sebelum tidur untuk membersihkan sisa-sisa makanÂan di gigi,†jelas Rini.
Sementara kalau ada sisa-sisa makanan di sela-sela gigi tidak diÂbersihkan dan dibiarkan selaÂma tidur. Menurut dia, sisa maÂkan tersebut akan berubah menÂjadi asam yang dapat mengikis gigi. Hal itu mengakibatkan gigi muÂdah berlubang dan menjadi saÂrang kuman.
â€Pada malam hari, khususnya saat waktu tidur, jumlah cairan liur manusia cenderung menuÂrun. Padahal, air liur itu meÂnganÂdung antibakteri yang dapat meÂneÂtraÂlisir makanan dan asam dalam mulut. Sehingga jika diÂbiarkan, sisa makanan mengenÂdap di sela-sela gigi saat tidur, akan berubah menjadi asam dan mengikis giÂgi,†paparnya.
Dokter spesialis penyakit daÂlam Rumah Sakit Internasional Bintaro Tengku Bahdar Johan mengatakan, kondisi gigi yang tidak bersih dapat menyebabkan penyakit kronis lainnya.
“Kelainan gigi bisa menjadi kelainan kesehatan yang meÂnyeÂbar ke seluruh tubuh, jantung, tulang, ginjal dan lainnya,†ujar Bahdar.
Menurut Bahdar, sekitar 60 persen penyebab munculnya peÂnyakit gigi dan mulut diseÂbabÂkan dari karies gigi yang tidak ditaÂngani lebih baik.
“Karenanya, masyarakat mesti sadar bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut itu sangat penÂting,†katanya.
Pakar kesehatan gigi dan mulut FKG UGM Dr drg Ahmad SyaÂiÂfy mengatakan, karies pada gigi menjadi penyebab radang gusi yang berpotensi menimbulkan fokal infeksi akibat bakteri jenis gram negatif anaerob.
“Bakteri ini kemudian akan ikut aliran darah. Lalu mengeluarÂkan toksin berupa endotoksin yang bisa menimbulkan plak pada pembuluh darah Jantung,†ujar Ahmad.
Selain itu, bakteri dari radang gusi ini akan merangsang horÂmon oksitosin yang menimbulÂkan kontraksi uterus dini yang bisa menimbulkan kematian paÂda janin.
“Makanya wanita hamil jangan sampai ada radang di dalam tuÂbuh,â€
warning Ahmad.
Telat Periksa, Biaya Pengobatan Bisa BengkakPemeriksaan gigi secara ruÂtin akan mendeteksi gangguan gigi dan mulut lebih dini. Hal tersebut juga akan menghemat biaya pengobatan. Penyakit gigi dan gusi merupakan penyakit yang mudah dicegah dengan rutin memeriksakan gigi ke dokter setiap 6 bulan sekali.
“Jika dalam dua kunjungan gigi dan mulut dalam kondisi baik, bisa dijadwalkan kontrol setahun sekali,†kata Ketua Persatuan DokÂter Gigi Indonesia (PDGI) Zaura Rini.
Kata Rini, dokter gigi biasaÂnya dapat mendeteksi keruÂsakan gigi dengan mudah. Dokter akan meÂmeriksa secara mendetail gigi yang sakit dan tingkat senÂsiÂtivitasnya.
Untuk pemeriksaan penunjang, biasanya dokter akan menyaÂranÂkan foto
X Ray untuk melihat tingkat kerusakan gigi. Dokter juga kan memberitahukan kepada pasien tipe kerusakan apakah telah menÂcapai saraf atau karies permukaan.
“Kalau masih tahap karies perÂmukaan, pengobatan cukup terÂjangkau dan risikonya tidak terÂlalu besar. Tapi, kalau sudah kena saraf butuh pengobatan lanjutan. Makanya, jangan samÂpai terlamÂbat,â€
warning Rini.
Selain pemeriksaan gigi, meÂnyikat gigi secara teratur pada waktu yang tepat, yakni pagi hari setelah sarapan dan malam seÂbelum tidur sangat penting.
“Sikat gigi dua kali sehari pada waktu yang tepat akan menuÂrunÂkan risiko gigi berlubang sampai 50 persen. Hal itu sehaÂrusÂnya suÂdah menjadi kebiasaan baik sejak dini sampai akhir hayat,†papar drg Ratu Mirah Afifah, ProfesioÂnal Relationship Manager-Oral Care PT Unilever Indonesia.
Kebiasaan baik dalam menÂjaga kesehatan gigi, akan terasa manÂfaatnya tidak hanya bagi keÂseÂhatan gigi, tapi juga tubuh seÂcara keseluruhan.
“Gigi selama ini hanya dilihat dari giginya saja. Padahal, kaitanÂnya luar biasa ke organ-organ tubuh lain. Kesehatan gigi dan mulut merupakan investasi masa depan,†tegas Afifah.
Bersihkan Plak & Gosok Gigi Hindari PengeroposanDokter gigi dari Rays InterÂnational Dental Clinic drg RoÂsa Rai Djalal mengatakan, keÂrusakan gigi yang banyak diÂalami masyarakat di negara berkemÂbang adalah pengeÂroposan gigi.
“Pengeroposan gigi bisa menghampiri siapa saja tanpa batasan usia, baik pria mauÂpun wanita. Kasus terbesar di neÂgara-negara berkembang, terÂmasuk Indonesia.†ungkapÂnya.
Gigi keropos, lanjut Rosa, adalah kerusakan pada strukÂtur gigi yang berdampak pada email atau lapisan keras yang melinÂdungi gigi dan lapisan terluar gigi, yang terus menÂjalar pada lapisan dalam gigi (dentin dan pulpa).
“Terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengeÂroÂposan gigi, yaitu mikro orgaÂnisme, substrat (seperti suÂkrosa), gigi yang rentan dan waktu,†kata dokter lulusan Universitas Indonesia ini.
Namun, kata Rosa, faktor terÂsebut tidak otomatis bisa meÂnyebabkan pengeroposan gigi secara cepat.
“Semua faktor tersebut terÂjadi secara bersamaan dan daÂÂpat mengganggu gigi menÂjadi keroposan dalam waktu lama,†ujar Rosa.
Pengeroposan gigi ini, kaÂtaÂnya, bisa menyebabkan gigi berÂlubang, gigi menjadi rapuh, gigi sensitif, dan pembusukan pada gigi yang menjadikan gigi hitam. Bahkan bisa menyeÂbabÂkan gigi tanggal atau ompong. [Harian Rakyat Merdeka]