Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

60 Persen Penyakit Gigi Disebabkan Oleh Karies

Masyarakat Indonesia Belum Paham Gosok Gigi Yang Benar
JUMAT, 29 MARET 2013 | 08:05 WIB

.Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menyatakan, mayoritas masyarakat belum benar dalam menggosok gigi sehari-hari. Perilaku ini menyebabkan penderita sakit gigi di Indonesia cukup tinggi.

Menurut data Riset Kese­hat­an Dasar (Rikesda) Ke­men­terian Kesehatan (Kemenkes) Tahun 2007,  72 persen penduduk Indo­nesia mempunyai penga­la­man karies (gigi berlubang) dan 46,5 di antaranya, merupakan karies aktif yang belum dirawat.

Ketua Umum PDGI Zaura Ri­ni Ang­gra­eni mengatakan, 92 per­sen mas­yarakat sudah dua kali meng­gosok gigi da­lam se­hari. Namun, dari jum­lah ter­sebut,  ha­nya tujuh per­sen yang meng­gosok gigi se­ca­ra benar.


“Perbedannya sangat jauh, an­tara yang menggosok gigi dua kali sehari dengan yang meng­go­sok gigi secara benar,”  kata Rini saat acara Peringatan Hari Kese­ha­tan Gigi dan Mulut Se­dunia di Jakarta, Jumat (22/3).

Rini menuturkan, masih ba­nyak masyarakat yang meng­go­sok gigi dua kali sehari, namun tidak dalam waktu yang tepat. Mi­salnya, dilakukan pada pagi dan sore hari.
“Seharusnya menggosok gigi yang benar itu pagi dan malam hari sebelum tidur. Yang penting malam hari sebelum tidur untuk membersihkan sisa-sisa makan­an di gigi,” jelas Rini.

Sementara kalau ada sisa-sisa makanan di sela-sela gigi tidak di­bersihkan dan dibiarkan sela­ma tidur. Menurut dia, sisa ma­kan tersebut akan berubah men­jadi asam yang dapat mengikis gigi. Hal itu mengakibatkan gigi mu­dah berlubang dan menjadi sa­rang kuman.

”Pada malam hari, khususnya saat waktu tidur, jumlah cairan liur manusia cenderung menu­run. Padahal, air liur itu me­ngan­dung antibakteri yang dapat me­ne­tra­lisir makanan dan asam dalam mulut. Sehingga jika di­biarkan, sisa makanan mengen­dap di sela-sela gigi saat tidur, akan berubah menjadi asam dan mengikis gi­gi,” paparnya.

Dokter spesialis penyakit da­lam Rumah Sakit Internasional Bintaro Tengku Bahdar Johan mengatakan, kondisi gigi yang tidak bersih dapat menyebabkan penyakit kronis lainnya.

“Kelainan gigi bisa menjadi kelainan kesehatan yang me­nye­bar ke seluruh tubuh, jantung, tulang, ginjal dan lainnya,” ujar Bahdar.

Menurut Bahdar, sekitar 60 persen penyebab munculnya pe­nyakit gigi dan mulut dise­bab­kan dari karies gigi yang tidak dita­ngani lebih baik.

“Karenanya, masyarakat mesti sadar bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut itu sangat pen­ting,” katanya.

Pakar kesehatan gigi dan mulut FKG UGM Dr drg Ahmad Sya­i­fy mengatakan, karies pada gigi menjadi penyebab radang gusi yang berpotensi menimbulkan fokal infeksi akibat bakteri jenis gram negatif anaerob.

“Bakteri ini kemudian akan ikut aliran darah. Lalu mengeluar­kan toksin berupa endotoksin yang bisa menimbulkan plak pada pembuluh darah Jantung,” ujar Ahmad.

Selain itu, bakteri dari radang gusi ini akan merangsang hor­mon oksitosin yang menimbul­kan kontraksi uterus dini yang bisa  menimbulkan kematian pa­da janin.
“Makanya wanita hamil jangan sampai ada radang di dalam tu­buh,” warning Ahmad.

Telat Periksa, Biaya Pengobatan Bisa Bengkak

Pemeriksaan gigi secara ru­tin akan mendeteksi gangguan gigi dan mulut lebih dini. Hal tersebut juga akan menghemat biaya pengobatan. Penyakit gigi dan gusi merupakan penyakit yang mudah dicegah dengan rutin memeriksakan gigi ke dokter setiap 6 bulan sekali.

“Jika dalam dua kunjungan gigi dan mulut dalam kondisi baik, bisa dijadwalkan kontrol setahun sekali,” kata Ketua Persatuan Dok­ter Gigi Indonesia (PDGI) Zaura Rini.

Kata Rini, dokter gigi biasa­nya dapat mendeteksi keru­sakan gigi dengan mudah. Dokter akan me­meriksa secara mendetail gigi yang sakit dan tingkat sen­si­tivitasnya.

Untuk pemeriksaan penunjang, biasanya dokter akan menya­ran­kan foto X Ray untuk melihat tingkat kerusakan gigi. Dokter juga kan memberitahukan kepada pasien tipe kerusakan apakah telah men­capai saraf atau karies permukaan.

“Kalau masih tahap karies per­mukaan, pengobatan cukup ter­jangkau dan risikonya tidak ter­lalu besar. Tapi, kalau sudah kena saraf butuh pengobatan lanjutan. Makanya, jangan sam­pai terlam­bat,” warning Rini.

Selain pemeriksaan gigi, me­nyikat gigi secara teratur pada waktu yang tepat, yakni pagi hari setelah sarapan dan malam se­belum tidur sangat penting.

“Sikat gigi dua kali sehari pada waktu yang tepat akan menu­run­kan risiko gigi berlubang sampai 50 persen. Hal itu seha­rus­nya su­dah menjadi kebiasaan baik sejak dini sampai akhir hayat,” papar drg Ratu Mirah Afifah, Profesio­nal Relationship Manager-Oral Care PT Unilever Indonesia.

Kebiasaan baik dalam men­jaga kesehatan gigi, akan terasa man­faatnya tidak hanya bagi ke­se­hatan gigi, tapi juga tubuh se­cara keseluruhan.

“Gigi selama ini hanya dilihat dari giginya saja. Padahal, kaitan­nya luar biasa ke organ-organ tubuh lain. Kesehatan gigi dan mulut merupakan investasi masa depan,” tegas Afifah.

Bersihkan Plak & Gosok Gigi Hindari Pengeroposan

Dokter  gigi dari Rays Inter­national Dental Clinic drg Ro­sa Rai Djalal mengatakan, ke­rusakan gigi yang banyak di­alami masyarakat di negara berkem­bang adalah penge­roposan gigi.

“Pengeroposan gigi bisa menghampiri siapa saja tanpa batasan usia, baik pria mau­pun wanita. Kasus terbesar di ne­gara-negara berkembang, ter­masuk Indonesia.” ungkap­nya.

Gigi keropos, lanjut Rosa, adalah kerusakan pada struk­tur gigi yang berdampak pada email atau lapisan keras yang melin­dungi gigi dan lapisan terluar gigi, yang terus men­jalar pada lapisan dalam gigi (dentin dan pulpa).

“Terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penge­ro­posan gigi, yaitu mikro orga­nisme, substrat (seperti su­krosa), gigi yang rentan dan waktu,” kata dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Namun, kata Rosa, faktor ter­sebut tidak otomatis bisa me­nyebabkan pengeroposan gigi secara cepat.

“Semua faktor tersebut ter­jadi secara bersamaan dan da­­pat mengganggu gigi men­jadi keroposan dalam waktu lama,” ujar Rosa.

Pengeroposan gigi ini, ka­ta­nya, bisa menyebabkan gigi ber­lubang, gigi menjadi rapuh, gigi sensitif, dan pembusukan pada gigi yang menjadikan gigi hitam. Bahkan bisa menye­bab­kan gigi tanggal atau ompong. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya