Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Ngeri, Penderita Kanker 2030 Bakal Naik Tujuh Kali Lipat

Jumlah Dokter Ahli & Alat Pendeteksi Masih Terbatas
MINGGU, 03 MARET 2013 | 08:10 WIB

Pasien kanker baru di Indonesia terus meningkat hingga dua kali lipat tiap tahun. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, tahun 2030 dunia akan mengalami kenaikan penderita kanker sampai tujuh kali lipat. Duh seremnya...

Menurut data Fakultas Ke­dok­teran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah pasien kanker baru sebelum 2010 hanya 1 orang per 1.000 penduduk. Setelah 2010, jumlahnya melonjak 4,3 orang per 1.000 penduduk.

Pertambahan itu, seiring ma­kin tingginya angka harapan hidup penduduk. Guru Besar Il­mu Pe­nyakit Dalam FKUI Prof. dr. Ab­dul Muthalib mengatakan, kanker menjadi salah satu pe­nyakit dege­neratif yang akan ba­nyak mun­cul pada lansia.


“Kini, kanker sudah menjadi pe­nyebab kematian terbesar ke­dua di dunia setelah jantung dan stroke,” kata Abdul da­lam Medi­cal Exce­llen­ce Japan Seminar In­donesia-Japan Me­dical Collabo­ration di Jakarta, Sabtu (23/2).

Menurut Abdul, banyak hal yang menjadi penyebab pen­de­rita kanker kerap tidak dapat terto­long. Salah-satunya, banyak pa­sien yang datang pada stadium 1, kemudian lari ke pengobatan her­bal dan tradisional.

“Setelah gagal di pengobatan tradisional, penyakit sudah ma­suk stadium empat bahkan lebih. Pasien baru kembali ke rumah sakit lagi dan akhirnya sulit di­to­long,” cerita Abdul.

Sementara, lanjut dia, tek­no­lo­gi modern pendeteksi dan terapi kanker masih terbatas di Jakarta. Ini membuat antrean penggunaan alat sangat tinggi, seperti antrean radioterapi di RSCM Jakarta yang bi­sa mencapai empat pekan.

Abdul juga menu­turkan, jum­lah ahli kanker Indo­nesia masih kurang. Hal ini di­pe­ngaruhi pen­didikan ahli kanker sangat lama, karena ada pada jen­jang pendi­dikan subspesialis. Pu­sat pen­didi­kannya pun terbatas.

“Terapi kanker juga masih tum­­pang tindih. Operasi harus­nya dilakukan ahli bedah onko­logi, radiasi oleh ahli radioterapi, dan obat diberikan ahli onkologi medik. Tapi di Indonesia, masih campur aduk,” katanya.

Dokter Agus Kosasih, pe­nang­gung jawab laboratorium pato­logi RS Kanker Dharmais me­nga­takan, diagnosa kanker ter­golong rumit dan mesti mela­kukan be­be­rapa pemeriksaan.

Untuk pencegahan, minimal harus melakukan medical check-up, termasuk skrining kanker mi­nimal setahun sekali. Setiap sel dalam tubuh manusia berpotensi menjadi sel kanker sehingga skri­ning sangat penting dilaku­kan gu­na mencegah kanker.

“Yang jadi kendala adalah m­a­halnya biaya pemeriksaan kan­ker sehingga masyarakat eng­gan me­la­kukannya,” ujar Agus.

Angka kematian akibat kanker makin tinggi karena sebagian be­sar pasien terlambat periksa diri, hingga kondisinya telanjur parah.

”Pemeriksaan kanker biasa­nya dilakukan satu per satu. Hal ini membuat biayanya makin ma­hal, bikin ekonomi pasien ter­kuras,” kata Agus.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Ke­menterian Kesehatan (K­e­men­kes) Tjandra Yoga Aditama me­ngaku sudah memiliki prog­ram penanggulangan kanker nasional.

“Penanggulangan itu mulai da­ri hulu dan hilir. Salah satun­nya adalah mengurangi faktor risiko melakukan kegiatan olah­raga, seperti bersepeda dan jalan san­tai rutin yang dilakukan ke­men­teriannya,” tegasnya.

Gaya Hidup Buruk, Pasien Rentan Kena 100 Jenis Kanker


Gaya hidup buruk, seperti meng­­konsumsi alkohol, asupan lemak, serta kurangnya olahraga fisik, membuat seseorang berusia 30-40 tahun lebih mudah terse­rang kan­ker seperti kanker pa­yudara dan kanker serviks. Be­lum ada guide line usia berapa yang patut di­waspadai.

“Penderita kanker di usia muda lebih disebabkan gaya hidup, po­la makan dan polusi. Sementara pada anak-anak lebih karena fak­tor ge­netik,” kata Dr Agus Ko­sasih dari RS Kanker Dharmais.

Gaya hidup yang buruk, lanjut Agus, berpeluang terserang 100 jenis kanker, dan 14 jenis yang paling sering dijumpai. Yak­ni kanker hati, paru, lambung, ke­rongkongan, prostat, kolo­rektal, payudara, ovarium, pankreas, ra­him, kandung kemih, testis, ti­roid dan endometrium.

“Hal ini dikarenakan sel kan­ker tumbuhnya perlahan-lahan dan pada stadium awal umum­nya ti­dak bergejala. Ditambah lagi, rasa malas untuk memerik­sakan diri,” jelas Agus.

Menjaga berbagai jenis asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, tambah Agus, dapat men­cegah dan menurunkan risiko seseorang terkena kanker pada usia muda, namun bukan berarti bisa menyembuhkan kanker.

Meski belum ada obatnya, ri­siko kematian akibat kanker sebe­narnya bisa dicegah lewat deteksi dini. Bila kanker ditemukan pada stadium satu, tujuan terapinya adalah pe­nyembuhan. Sedangkan pena­nga­nan kanker stadium lanjut bertu­juan memperpanjang usia pasien.

Skrining kanker, tambah Agus, boleh dilakukan oleh orang sehat yang ingin melakukan deteksi dini. Karena itu, hasil skrining bisa dipakai sebagai alarm ter­hadap kesehatan.

“Bila hasil tesnya positif, harus di follow-up lewat pemeriksaan lainnya guna merujuk kelainan yang mencurigakan ke arah kanker. Jika hasilnya negatif, belum tentu pasien bebas kan­ker,” tegasnya.

Nggak Mesti Kemoterapi


Dokter Asrul Harsal dari RS Kanker Dharmais me­nambahkan, penyembuhan kan­ker tidak harus melalui  kemo­te­rapi  atau radiasi, karena pada kan­ker terdapat bebe­rapa tingkat sta­dium.

“Cara pengobatannya pun ber­beda-beda dan semua ada risi­konya,” ujar Asrul.

Seperti jenis kanker payudara untuk stadium I, II dan III A, jenis kankernya masih lokal. Tindakan operasi merupakan standar pe­ngo­batan yang dilakukan dokter. Penyinaran/ra­dioterapi sering dilakukan sebagai pe­lengkap sa­ja jika faktor risiko ke­kambuh­annya cukup besar.     

“Namun untuk stadium III B dan IV yang lebih lanjut, peng­gu­naan kemoterapi adalah yang pa­ling cocok mengingat sel kan­ker sudah menyebar atau metas­tasis,” kata Asrul. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

UPDATE

Lurah Cengkareng Barat Dilaporkan ke Polisi Buntut Putusan KIP

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:36

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:25

Prabowo Diminta Segera Bentuk Satgas Penyelundupan BBL

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:56

Segera Dibentuk Satgas Anti-Kekerasan Pesantren

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:35

Tata Kelola SDA Era Prabowo Disebut Berpihak ke Rakyat

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:10

Ribuan Bobotoh Turun ke Jalan, Purwakarta Berubah Jadi Lautan Biru

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:42

Lonjakan Gila Minyakita Rapor Merah Zulkifli Hasan

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:12

PKS Ingin Cetak Pemimpin Berbasis Iman, Bukan Sekadar Kejar Kursi

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:32

Dalam Lindungan Aktor Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:59

BNI dan Kementerian PKP Sosialisasi Kresit Perumahan di Brebes

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:34

Selengkapnya