Pasien kanker baru di Indonesia terus meningkat hingga dua kali lipat tiap tahun. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, tahun 2030 dunia akan mengalami kenaikan penderita kanker sampai tujuh kali lipat. Duh seremnya...
Menurut data Fakultas KeÂdokÂteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah pasien kanker baru sebelum 2010 hanya 1 orang per 1.000 penduduk. Setelah 2010, jumlahnya melonjak 4,3 orang per 1.000 penduduk.
Pertambahan itu, seiring maÂkin tingginya angka harapan hidup penduduk. Guru Besar IlÂmu PeÂnyakit Dalam FKUI Prof. dr. AbÂdul Muthalib mengatakan, kanker menjadi salah satu peÂnyakit degeÂneratif yang akan baÂnyak munÂcul pada lansia.
“Kini, kanker sudah menjadi peÂnyebab kematian terbesar keÂdua di dunia setelah jantung dan stroke,†kata Abdul daÂlam MediÂcal ExceÂllenÂce Japan Seminar InÂdonesia-Japan MeÂdical CollaboÂration di Jakarta, Sabtu (23/2).
Menurut Abdul, banyak hal yang menjadi penyebab penÂdeÂrita kanker kerap tidak dapat tertoÂlong. Salah-satunya, banyak paÂsien yang datang pada stadium 1, kemudian lari ke pengobatan herÂbal dan tradisional.
“Setelah gagal di pengobatan tradisional, penyakit sudah maÂsuk stadium empat bahkan lebih. Pasien baru kembali ke rumah sakit lagi dan akhirnya sulit diÂtoÂlong,†cerita Abdul.
Sementara, lanjut dia, tekÂnoÂloÂgi modern pendeteksi dan terapi kanker masih terbatas di Jakarta. Ini membuat antrean penggunaan alat sangat tinggi, seperti antrean radioterapi di RSCM Jakarta yang biÂsa mencapai empat pekan.
Abdul juga menuÂturkan, jumÂlah ahli kanker IndoÂnesia masih kurang. Hal ini diÂpeÂngaruhi penÂdidikan ahli kanker sangat lama, karena ada pada jenÂjang pendiÂdikan subspesialis. PuÂsat penÂdidiÂkannya pun terbatas.
“Terapi kanker juga masih tumÂÂpang tindih. Operasi harusÂnya dilakukan ahli bedah onkoÂlogi, radiasi oleh ahli radioterapi, dan obat diberikan ahli onkologi medik. Tapi di Indonesia, masih campur aduk,†katanya.
Dokter Agus Kosasih, peÂnangÂgung jawab laboratorium patoÂlogi RS Kanker Dharmais meÂngaÂtakan, diagnosa kanker terÂgolong rumit dan mesti melaÂkukan beÂbeÂrapa pemeriksaan.
Untuk pencegahan, minimal harus melakukan
medical check-up, termasuk skrining kanker miÂnimal setahun sekali. Setiap sel dalam tubuh manusia berpotensi menjadi sel kanker sehingga skriÂning sangat penting dilakuÂkan guÂna mencegah kanker.
“Yang jadi kendala adalah mÂaÂhalnya biaya pemeriksaan kanÂker sehingga masyarakat engÂgan meÂlaÂkukannya,†ujar Agus.
Angka kematian akibat kanker makin tinggi karena sebagian beÂsar pasien terlambat periksa diri, hingga kondisinya telanjur parah.
â€Pemeriksaan kanker biasaÂnya dilakukan satu per satu. Hal ini membuat biayanya makin maÂhal, bikin ekonomi pasien terÂkuras,†kata Agus.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan KeÂmenterian Kesehatan (KÂeÂmenÂkes) Tjandra Yoga Aditama meÂngaku sudah memiliki progÂram penanggulangan kanker nasional.
“Penanggulangan itu mulai daÂri hulu dan hilir. Salah satunÂnya adalah mengurangi faktor risiko melakukan kegiatan olahÂraga, seperti bersepeda dan jalan sanÂtai rutin yang dilakukan keÂmenÂteriannya,†tegasnya.
Gaya Hidup Buruk, Pasien Rentan Kena 100 Jenis KankerGaya hidup buruk, seperti mengÂÂkonsumsi alkohol, asupan lemak, serta kurangnya olahraga fisik, membuat seseorang berusia 30-40 tahun lebih mudah terseÂrang kanÂker seperti kanker paÂyudara dan kanker serviks. BeÂlum ada
guide line usia berapa yang patut diÂwaspadai.
“Penderita kanker di usia muda lebih disebabkan gaya hidup, poÂla makan dan polusi. Sementara pada anak-anak lebih karena fakÂtor geÂnetik,†kata Dr Agus KoÂsasih dari RS Kanker Dharmais.
Gaya hidup yang buruk, lanjut Agus, berpeluang terserang 100 jenis kanker, dan 14 jenis yang paling sering dijumpai. YakÂni kanker hati, paru, lambung, keÂrongkongan, prostat, koloÂrektal, payudara, ovarium, pankreas, raÂhim, kandung kemih, testis, tiÂroid dan endometrium.
“Hal ini dikarenakan sel kanÂker tumbuhnya perlahan-lahan dan pada stadium awal umumÂnya tiÂdak bergejala. Ditambah lagi, rasa malas untuk memerikÂsakan diri,†jelas Agus.
Menjaga berbagai jenis asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, tambah Agus, dapat menÂcegah dan menurunkan risiko seseorang terkena kanker pada usia muda, namun bukan berarti bisa menyembuhkan kanker.
Meski belum ada obatnya, riÂsiko kematian akibat kanker sebeÂnarnya bisa dicegah lewat deteksi dini. Bila kanker ditemukan pada stadium satu, tujuan terapinya adalah peÂnyembuhan. Sedangkan penaÂngaÂnan kanker stadium lanjut bertuÂjuan memperpanjang usia pasien.
Skrining kanker, tambah Agus, boleh dilakukan oleh orang sehat yang ingin melakukan deteksi dini. Karena itu, hasil skrining bisa dipakai sebagai alarm terÂhadap kesehatan.
“Bila hasil tesnya positif, harus di
follow-up lewat pemeriksaan lainnya guna merujuk kelainan yang mencurigakan ke arah kanker. Jika hasilnya negatif, belum tentu pasien bebas kanÂker,†tegasnya.
Nggak Mesti KemoterapiDokter Asrul Harsal dari RS Kanker Dharmais meÂnambahkan, penyembuhan kanÂker tidak harus melalui kemoÂteÂrapi atau radiasi, karena pada kanÂker terdapat bebeÂrapa tingkat staÂdium.
“Cara pengobatannya pun berÂbeda-beda dan semua ada risiÂkonya,†ujar Asrul.
Seperti jenis kanker payudara untuk stadium I, II dan III A, jenis kankernya masih lokal. Tindakan operasi merupakan standar peÂngoÂbatan yang dilakukan dokter. Penyinaran/raÂdioterapi sering dilakukan sebagai peÂlengkap saÂja jika faktor risiko keÂkambuhÂannya cukup besar.
“Namun untuk stadium III B dan IV yang lebih lanjut, pengÂguÂnaan kemoterapi adalah yang paÂling cocok mengingat sel kanÂker sudah menyebar atau metasÂtasis,†kata Asrul. [Harian Rakyat Merdeka]