.Gangguan penglihatan atau rabun pada mata harus diwaspadai. Sebagian besar disebabkan oleh penyakit katarak. Jika dibiarkan bisa menyebabkan kebutaan kronis.
Sekitar 1,5 persen atau sebeÂsar 3,6 juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan. Penyakit mata seperti, katarak, kelainan refraksi, kornea, gangguan retina, glaukoma dan gangguan lainnya, menjadi penyebab utama tinggiÂnya angka kebutaan di Indonesia.
Bahkan berdasarkan data SisÂtem Informasi Rumah Sakit (SIRS) pada 2011, jumlah gangÂguan refraksi sebanyak 198.036 pasien, katarak 94.582 pasien dan glukoma 25.176 pasien.
Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi mengatakan, maÂsalah gangguan penglihatan perlu mendapat perhatian serius. GangÂguan penglihatan pada orang dewasa akan mengganggu proÂduktivitas dan mengurangi kuÂalitas hidup. Sedangkan, pada anak-anak akan mempengaruhi masa depannya, termasuk keÂmamÂpuan menyerap pelajaran.
“Pemerintah berkomitmen mewujudkan visi Mata Sehat pada tahun 2020. Tujuannya, agar setiap warga negara Indonesia terpenuhi haknya untuk memÂpunyai penglihatan optimal,†ujar Mboi di acara peresmian rumah sakit mata Jakarta Eye Center (JEC) @ Kedoya, Jakarta, Sabtu (2/2).
Menurut Nafsiah, dari beÂbeÂrapa penyakit mata yang dilaÂporÂkan, kebanyakan adalah peÂnyakit mata katarak dan akoÂmoÂdasi.
“Total gangguan refraksi dan akomodasi mencapai 180.310 kasus atau 1,72 persen dari total kunjungan rawat jalan di rumah sakit yang berjumlah 10.466.415 kunjungan. Dari jumlah tersebut, Provinsi DKI Jakarta peÂnyumÂbang terbanyak. Jumlahnya, menÂcapai 46.177 kunjungan daÂlam seÂtahun,†ungkapnya.
Katarak sendiri, kata Menkes, merupakan penyakit mata yang awalnya ditandai dengan kekeÂruhan pada lensa mata dengan berbagai tingkatan dan pemicu. Saat ini, katarak itu salah satu penyebab utama kebutaan.
Data dari Badan Kesehatan Dunia (
World Health OrgaÂniÂzaÂtion/WHO) 2012 disebutkan, peÂnyakit ini menyumbang sekitar 33 persen dari 39 juta kebutaan di dunia. Di Indonesia, katarak memberi kontribusi sebesar 70 perÂsen dari total 3,6 juta angka kebutaan. Ini selaras dengan data SIRS 2011 yang merekam jumlah pasien rawat jalan katarak di Indonesia sebesar 94.582 orang.
Sedangkan kelainan refraksi (Ametropia), adalah penyimÂpaÂngan sinar-sinar sejajar yang diÂpantulkan dari benda yang kita lihat, di mana sinar-sinar terseÂbut dibiaskan oleh lensa mata dalam keadaan rileks tidak tepat pada retina.
Kelainan refraksi dapat diatasi dengan mengÂgunakan kaca mata atau lensa kontak. Jenis refraksi yang umum dikenal antara lain rabun jaÂuh (
myopia), rabun dekat (
hipermetropia) dan astigmaÂtisÂma atau mata silindris.
Menurut Direktur Utama JEC @ Kedoya, dr Darwan M Purba, jika seseorang mengalami keÂluhÂan rabun pada mata, segera berÂkonsultasi dengan dokter mata atau tenaga medis optik agar diberikan saran dan solusi untuk mengatasi masalah terÂsebut.
Orang Tua Harus Waspadai Gejala Gangguan Penglihatan Pada AnakOrang Tua harus mewaspadai gejala gangguan penglihatan pada anak yang baru lahir. PaÂsalnya, anak usia empat tahun gangguan mata malas (amÂblioÂpia) kerap menghalanginya. GangÂguan penglihatan ini dapat menghambat tumbuh kembang anak hingga dewasa.
“Jika perkembangan mata di usia tersebut terganggu, anak bisa mengalami katarak, refraksi atau pun mata minus, plus dan silinder ke depannya,†ujar dokter speÂsiaÂlis mata anak dari Jakarta Eye CenÂter (JEC) Kedoya, Florence MaÂnurung, di Jakarta, Sabtu (2/2).
Menurut Florence, gangguan ini umumnya hanya mengenai satu mata. Namun, kadang bisa terjadi pada kedua mata. SeÂhingga ketika diobati tidak bisa langsung melihat secara jelas. Ini yang kemudian memberikan kesan mata mengantuk.
“Normalnya, pada usia empat tahun perkembangan otak yang memproses pengelihatan hampir lengkap. Namun bila otak terÂbiasa dengan pandangan buram, maka akan sulit meningkatkan kemampuan melihat setelah perÂkemÂbangan otak selesai,†jelasnya.
Anak-anak, kata Florence, memiliki tahap pertumbuhannya sendiri. Menurutnya, sistem pengÂliÂhatan anak berkembang pesat pada usia 18 bulan pertama dan kemudian menjadi sempurna pada usia 5 atau 6 tahun.
Pada saat lahir, bayi sudah dapat melihat pola terang dan gelap, tapi fokus penglihatannya masih kaÂbur. Di usia 4-6 bulan, bayi akan menggerakan kepaÂlanya untuk mengikuti objek bergerak. SeÂdangkan di usia 6-8 bulan bayi sudah dapat melihat warna secara lengkap dan kedua matanya sudah terkordinasi deÂngan baik sehingga pergerakan mata mulai terkontrol.
Selanjutnya, pada usia 8-12 bulan, bayi akan menggunakan kedua mata bersama-sama untuk menilai jarak seiring pertumÂbuhan anak.
“Namun sayang, banyak orangÂtua yang kurang menyadari berÂbagai masalah, yang menyangkut pertumbuhan penglihatan pada anak-anaknya ketika dilahirkan. Padahal ini penting bagi orangtua untuk dapat memahami tanda-tanda kelainan pada anaknya,†keluhnya. [Harian Rakyat Merdeka]