Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Asupan Gizi Dan Kalsium Minim Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak

Hindari Penggunaan Sepatu High Heels
MINGGU, 27 JANUARI 2013 | 08:10 WIB

Masa tumbuh kembang saat anak baru belajar jalan mesti diperhatikan. Jika sering jatuh, kaki jinjit dan memiliki bentuk lingkar O, harus diwaspadai. Sebab, kondisi itu bisa mengganggu pertumbuhan tulang kaki  saat dewasa.

Kelainan pada kaki dapat di­sebabkan  kurangnya asu­pan gizi yang tidak seimbang, faktor ke­turunan dan stimulasi yang tidak benar. Misalnya, peng­gunaan sepatu yang bukan ukurannya. Jika anak meminta pakai sepatu high heels karena me­n­contoh ga­ya penampilan orang dewasa, se­baiknya dihindari.

Menurut dokter spesialis orto­pedi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Lukman Shebu­bakar,  saat lahir, fungsi kaki anak be­lum tumbuh dengan baik. Di­bu­tuhkan waktu 18 tahun untuk tumbuh men­jadi kaki dewasa.

“Proses tumbuh kembang akan terus berubah, karena sendi-sen­di pada tungkai (dari paha hing­ga pergelangan kaki) dan kaki anak masih bisa ber­putar,” ujar Luk­man pada se­minar media di Ja­karta, Ming­gu (13/1).

Dia mengatakan, pertumbuhan tulang anak harus diperhatikan dengan benar, terutama soal peng­gunaan sepatu yang bukan ukurannya. Pasalnya, kondisi tulang anak berbeda dengan orang dewasa.

“Anak di usia berapa pun se­baiknya tidak memakai high heels. Jika anak meminta harus sesuai ukuran kakinya, karena mencontoh gaya pe­nampilan orang dewasa berisiko meng­ganggu pertumbuhan tulang anak,” warning Lukman.

Menurutnya, kelainan  tu­lang, sendi dan otot anak telah ada da­lam kandungan saat pem­ben­tukan janin. Bila dalam per­tumbuhan kaki bayi meng­alami gangguan, maka tidak hanya me­nyebabkan pe­nam­pilan ku­rang menarik secara estetika. Te­tapi juga berisiko pada per­tum­buhan kaki yang tidak sama antara  kaki kiri dan kaki kanan.

Dikatakan Lukman, untuk memperbaiki posisi kaki yang tidak benar, di­perlukan waktu 1-2 tahun. Ideal­nya dilakukan saat usia anak ku­rang dari  5 tahun. Bila usia anak lebih dari 7 tahun, te­rapinya akan lebih lama karena putaran tulang anak semakin se­dikit. Pasalnya, saat usia anak 7 tahun, rotasi tung­kai kaki mulai jauh berkurang sehingga dibu­tuhkan stimulasi agar pertum­buhan kaki anak menjadi baik.

“Tanpa terapi, pasien dengan kelainan ini akan berjalan dengan bagian luar ka­kinya (miring), yang mungkin menimbulkan nye­ri hingga disa­bi­litas atau cacat,” terang Lukman.

Namun, beberapa kejadian ke­banyakan anak dengan ke­lainan tulang, akan memiliki atrofi (pe­nyusutan jaringan) otot betis, yang tidak hilang setelah terapi. Hal itu yang meng­akibatkan pe­ru­bahan bentuk otot kak.

Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Atilla Dewanti, untuk mencegah terjadinya cacat,  pe­ra­watan harus dilakukan sedini mungkin. Minimal beberapa hari setelah lahir. Di antaranya pe­­me­riksaan aktif, menjaga asup­an kalsium dan gizi sampai  pertum­buhan anak dewasa.

“Rehabilitasi medis pada pen­derita sangat penting untuk men­­cegah terjadinya disabilitas seca­ra dini maupun setelah di­lakukan tindakan pemeriksaan secara ak­tif,” paparnya.

Selain itu, tambahnya, gang­guan ini bisa  menyebabkan anak jalan jinjit yang dapat meng­aki­batkan tumit belakang men­jadi pendek yang membuat anak tidak mampu menapak. Kelainan kaki ber­bentuk flat (kaki tampak ce­per/rata) pada dasarnya tidak menjadi masalah jika tidak meng­ubah sudut-sudut lain di kaki.

“Jika kaki cepat capek, maka titik berat menjadi tidak tepat. Bentuk kaki menjadi tidak be­nar karena tulang menjadi pen­dek sebelah. Maka, penting bagi ibu hamil untuk mem­perhatikan asupan gizi. Se­tidaknya mem­beri energi baik bagi bayi yang bisa me­mi­nimalkan kelainan saat me­lahirkan,”  ujarnya.

Penggunaan Bedong Hambat Pertumbuhan Tulang Bayi

Kebiasaan menggunakan bedong atau mengikat tubuh bayi dengan kain, bisa mem­ba­hayakan tumbuh kem­bang anak. Pasalnya, bedong bisa membuat peredaran darah ter­gang­gu. Hal ini terjadi karena kerja jantung dalam memompa darah menjadi berat. Akibatnya, bayi sering sa­kit di sekitar paru-paru. Peng­gunaan be­dong bisa menghambat pertum­buhan tu­lang  bayi.

Menurut Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Atilla Dewanti, be­dong bisa menghambat per­kem­bangan motorik si bayi, karena tangan dan kakinya tak men­dapatkan banyak kesempatan untuk bergerak.

“Sebaiknya bedong dilakukan setelah bayi dimandikan atau kala cuaca dingin untuk men­ja­ga dari udara dingin. Dipakai­nya pun harus longgar. Yang je­las, pema­kaian bedong sama se­kali tak ada kaitannya dengan pem­bentukan kaki,” ungkap Atilla pada se­mi­nar media di Ja­karta, Minggu (13/1).

Dia mengatakan, semua kaki bayi yang baru lahir pasti meng­alami kebengkokan. Sebab, di dalam perut  tak ada ruangan cu­kup bagi bayi untuk meluruskan kaki sehingga waktu lahir ka­kinya masih bengkok.

Dia me­mandang, sebagian ibu mem­bedong bayinya bertujuan agar dapat tidur tenang. Pasal­nya, hingga usia enam bulan bayi me­ngalami refleks kaget (rasa kaget secara tiba-tiba).

“Nah, jika be­dong dipakai long­gar, bayi mera­sa seperti ada yang memeluk dan bayi  bisa tidur lagi,” katanya.

Atilla menegaskan, peng­gu­naan bedong tidak ada hu­bu­ngan­nya dengan pembentukan kaki anak. Kelainan kaki pada anak, terjadi karena kelainan kelenjar parathyroid. Di mana, kelenjar ini mengatur kadar dan penye­rapan kalsium yang juga berfung­si pembentukan tulang. Jika, pembentukan tulang ter­hambat, maka kelainan kaki cenderung membentuk huruf ‘X’ dan ‘O’.

Atilla menyebut, di negara-ne­gara yang cukup me­n­dapat sinar matahari seperti In­donesia, ke­cenderungan terja­di­nya kelainan kaki sedikit. Hal itu dikarenakan kulit mampu mem­buat vitamin D3 untuk pem­ben­tukan tulang dari sinar matahari.

“Lebih baik, jemur anak di bawah sinar matahari pada pagi hari daripada hanya mengan­dalkan bedong demi pem­ben­tukan tulang,” sarannya.

Dokter spesialis ortopedi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Bra­wijaya Lukman Shebubakar me­nambahkan, kenyamanan kaki anak pada masa pertumbuhan menjadi faktor penting.

Maka­nya, ia menyarankan orang tua untuk mempertim­bangkan ke­nya­manan di kala pertumbuhan sesuai usia anak. Salah satunya, penggunaan alas kaki. Alas kaki menjadi faktor penopang ke­sem­purnaan per­tum­buhan tulang kaki.

“Telapak kaki menjadi sangat fungsional sekaligus krusial da­lam pertumbuhan kaki. Ma­kanya, kenyamanan penggunaan sepatu pada anak ikut mem­pengaruhi perkembangan di masa pertum­buhan anak,” ung­kap Lukman.

Lukman meminta, orangtua sebaiknya tidak memakaikan se­patu yang keras pada bayi. Gu­nakan sepatu bayi yang ber­bahan lembut atau lunak dan long­gar sehingga organ kaki bayi mem­punyai ruang yang cukup untuk bergerak sehingga per­tumbuhan tidak terhambat.

“Terkadang orangtua memaksa anak untuk memakai sepatu ter­tentu karena modelnya yang can­tik. Sampai-sampai keinginan putrinya untuk pakai sepatu high heels diizinkan. Ini yang keliru  karena akan mengakibatkan ce­dera dan kelainan kaki,” tan­dasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya