ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Sarapan bertujuan untuk meÂmenuhi kebutuhan zat gizi di pagi hari, sebagai bagian dari peÂÂmeÂnuhan gizi seimbang.
Hal itu dikatakan Ketua Umum PerÂhimÂpunan Peminat Gizi dan PaÂngan (Pergizi Pangan) IndoÂnesia HarÂdinsyah dalam DeÂklaÂrasi “Pekan Sarapan Nasional (Pesan)†dan Simposium NaÂsioÂnal Sarapan Sehat di JakarÂta, Selasa (8/1).
“Jarang sarapan pagi bisa memÂbuat otak sulit bekerja deÂngan baik, ngantuk, sulit berÂkonÂsenÂtrasi, pusing sampai verÂtigo akiÂbat kekurangan oksigen dalam tubuh,†kata Hardinsyah.
Selain lemas, pusing dan nganÂtuk, lanjut Hardiansyah, pendeÂrita akan seÂring berkeÂriÂngat akiÂbat keÂkuÂraÂngan enerÂgi dari asupÂan maÂkanan.
“Gejala ini bisa menimpa siaÂpa saja, mulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini diÂkarenakan rendahnya gluÂkosa akibat jarang sarapan,†warning Hardinsyah.
Dia mengatakan, saraÂpan berÂmanfaat membantu menÂceÂgah hipoglikemia, menÂstaÂbilÂkan kaÂdar glukosa darah dan menÂcegah dehidrasi setelah berÂpuasa sepanÂjang malam.
“Otak dan stamina memÂbuÂtuhkan kesiapan energi yang diÂsediakan dari sarapan sebelum beraktivitas,†ujar Hardinsyah.
Berdasarkan data yang dihimÂpun Riset Kesehatan Dasar (RisÂÂkesÂdas) 2010, menurut HarÂÂdinÂsyah, prevalensi tidak biasa saÂrapan pada anak dan remaja menÂcapai 16,9 hingga 59 persen, dan pada orang deÂwasa mencaÂpai 31,2 persen. Sebanyak 4,6 persen anak seÂkolah memiliki sarapan dengan kualitas rendah.
“Padahal sarapan itu penting unÂtuk meningkatkan stamina otak dan fisik, konsentrasi beÂlajar, kenyamanan kerja serta belajar terutama pada anak seÂkolah,†imbuhnya.
Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak KeÂmenÂÂteÂrian Kesehatan (KemenÂkes) Slamet Riyadi Yuwono meÂngÂatakan, selain meÂnyumÂbangkan glukosa, sarapan juga membeÂrikan zat gizi yang penÂting bagi tubuh yang berÂperan dalam meÂkaÂnisme daya ingat (kognitif) meÂmori anak, dan itu memÂpeÂngaÂruhi Âtingkat keÂcerÂdasan anak.
“Apabila terjadi keÂterÂlamÂbatÂan masukan zat gizi (asuÂpan gula ke dalam sel darah), maka dapat menurunkan daya konÂsentrasi anak sewaktu belajar yang timbul karena lemas, lesu, pusing dan mengantuk,†terang Slamet.
Beberapa penelitian menunÂjukÂkan, bahwa terdapat hubuÂngÂan nyata antara kebiasaan saÂrapan dengan kadar glukosa daÂrah anak usia sekolah. Hal itu mengÂakiÂbatkan menurunÂnya gaiÂrah beÂlajar, kecepatan reaksi, serÂta keÂsulitan dalam meneÂriÂma pelaÂjaran dengan baik.
Program Pesan Diklaim Mampu Tumbuhkan Kesadaran Sarapan
Untuk meningkatkan kesadarÂan pentingnya sarapan di masyaÂrakat, PerhimÂpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi PaÂngan) InÂdonesia berÂsama PersaÂtuan Ahli Gizi IndoÂnesia (PersaÂgi), PerhimÂpunan DokÂter Gizi Medik InÂdonesia (PDGMI) dan PerhimÂpunan DokÂter Gizi Klinik IndoÂnesia (PDGKI) mengÂgelar progÂram Pekan SaraÂpan NasioÂnal (PeÂsan) bagi masyarakat.
Sarapan sangat penting, kareÂna asupan energi dan gizi di pagi hari mampu menoÂpang aktivitas tuÂbuh sepanjang hari. “ApaÂlagi, deÂngan sarapan, lamÂbung akan terisi kembali seteÂlah 8-10 jam kosong seÂhingga kadar gula dalam darah meningkat lagi,†kata DiÂrekÂtur JenÂderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak KemenÂterian Kesegatan (KeÂmenkes) Slamet Riyadi Yuwono.
Menurutnya, sarapan sehat adalah sarapan yang dilakukan setiap hari sebelum pukul 9 pagi, dan memenuhi 15 hingga 30 perÂsen kebutuhan gizi harian yang aman dikonsumsi. Sarapan meÂruÂpakan salah satu pilar gizi seÂimÂbang untuk mewujudkan hiÂdup sehat, cerdas dan produktif.
“Tak hanya itu, dampak buruk tidak sarapan dapat mempeÂngaÂruhi status gizi anak, turunnya kesehatan dan stamina anak serta pencapaian prestasi optiÂmal pada anak,†jelas Slamet.
Kegiatan ini, katanya, saÂngat mendukung upaya pemeÂrintah untuk menangani gizi kurang, gizi lebih dan stunting (anak dengan ukuran tubuh penÂdek).
Ia juga menekankan, sarapan seharusnya menjadi waktu mÂaÂkan yang terpenting, namun seÂringkali orang menyepelekan.
“Sarapan ibarat ukuran baju seharusnya sarapan ukuran L, maÂkan siang M dan makan maÂlam S. Sarapan bukan hanya penÂting untuk kecerdasan otak dan kekuatan fisik. Namun juga memÂpeÂngaruhi orang secara emoÂÂsional,†jelas Slamet.
Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Hardinsyah meÂnamÂbahkan, sarapan berkuaÂliÂtas seÂbaiknya tidak cukup dengan peÂmenuhan karbohidrat saja, naÂmun juga zat gizi lainnya harus terpenuhi. Harus ada protein, lemak, vitamin, mineral, air dan serat agar semua proses meÂtaÂboÂlisÂme di dalam tubuh dapat berÂlangsung dengan baik.
Sarapan sehat adalah sarapan yang dilakukan setiap hari seÂbeÂlum pukul 9 pagi. Santapan pagi ini juga harus memenuhi 15 hingga 30 persen kebutuhan gizi harian.
Menko Kesra Agung Laksono menyatakan dukungannya dan apresiasi pada semua pihak yang menggagas serta memoÂtori keÂgiatan Pesan.
“Pekan Sarapan Nasional ini memiliki dampak yang sangat baik dalam mempercepat tujuan pemerintah, khususnya perbaikÂan gizi dan pangan,†ucapnya.
Program Pesan ini pun dihaÂrapÂkan Agung dapat menjadi momenÂtum berkala setiap tahun untuk selalu mengingatkan dan menÂdoÂrong maÂsyarakat mewuÂjudkan gizi seimÂbang dalam berÂaktivitas.
40 Persen Anak Indonesia Tidak Terbiasa Breakfast
Breakfast (sarapan) Tak haÂnya berguna sebagai sumber energi pada pagi hari. Sarapan juga mamÂpu mencegah risiko kegeÂmukan bahkan obesitas.
“Jarang sarapan merupakan salah satu faktor risiko kegeÂmuÂkan, karena mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan cenÂdeÂrung lebih rakus pada saat maÂkan siang dan makan malam. Hal ini bisa mengakibatkan keÂgeÂmukan bila menjadi satu keÂbiaÂsaan,†ujar Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia HarÂdinsyah.
Menurut Hardinsyah, orang yang mengÂÂkonsumsi sarapan sehat dan berÂkualitas baru meÂraÂsakan rasa laÂpar pada waktu yang lebih lama, kaÂrena tubuh suÂdah meÂmiliki energi yang cuÂkup berÂkat sarapÂan.
“Sarapan yang sehat dan berÂkuaÂlitas harus mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh seÂperÂti protein, lemak, vitamin, mineÂral, air dan serat agar proses meÂtaÂbolisme tubuh dapat berÂlangÂsung baik,†katanya.
Ahli dan pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini meÂnyeÂbutkan, sekitar 20 hingga 40 perÂsen anak-anak Indonesia tiÂdak terbiasa untuk sarapan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12