Berita

ilustrasi

Pedagang Stasiun KA Minta Pertanggungjawaban SBY

SENIN, 14 JANUARI 2013 | 07:17 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sejak dua bulan terakhir, PT Kereta Api Indonesia (KAI) gencar melakukan penggusuran paksa kios pedagang di berbagai stasiun se-Jabodetabek. Penolakan penggusuran dilakukan pedagang karena tidak ada sosialiasi yang memadai, tidak pernah ada dialog dan tawaran solusi apapun kepada pedagang yang sudah puluhan tahun menjadi mitra PT.KAI berdagang di stasiun.

Sayangnya, meskipun muncul jeritan dan protes dari pedagang di berbagai stasiun PT. KAI tidak bergeming. Bahkan teguran Komnas HAM dan Kementerian BUMN pun tidak digubris. PT.KAI  terus menggempur paksa kios-kios pedagang dengan dalih melaksanakan Peraturan Presiden 83/2011.

Ironisnya lagi, PT. KAI mengerahkan aparat TNI dan Polisi untuk menggusur paksa Kios-kios pedagang stasiun Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Bogor, Depok Baru, Lenteng Agung diluluhlantahkan oleh perusahaan BUMN di bawah pimpinan Ignatius Jhonan tersebut.

padahal, dampak penggusuran paksa yang dilakukan oleh PT. KAI itu, ratusan pedagang korban penggusuran Paksa PT. KAI di beberapa stasiun  tersebut kini menjadi pengangguran-pengangguran baru Indonesia, menjadi korban pemiskinan struktural oleh PT. KAI.

Karena itulah, para pedagang stasiun se-Jabodetabek sekitar 910 orang yang tergabung dalam Persatuan Pegiat Usaha Jabodetabek akan melakukan demonstrasi di depan Istana, Jakarta pukul 09.00 WIB (Senin, 14/1) untuk menuntut Presiden Republik Indonesia bertanggungjawab terhadap tindakan penggusuran paksa yang dilakukan oleh PT. KAI. Unjuk rasa ini akan diisi orasi politik, teatrikal, pembacaan puisi, penyerahan statement pedagang se-Jabodetabek ke Istana Negara, dan membawakan lagu-lagu perjuangan. [zul]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya