ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Virus flu burung saat ini tidak hanya menyerang sejumlah heÂwan unggas dan itik. Pasalnya, virus berbahaya ini bisa menular ke manusia. Bahkan, virus ini suÂdah menjangkiti delapan orang di China, Hong Kong dan BanglaÂdesh, menewaskan tiga orang. Kasus itu terÂjadi sejak tahun 2009. Sejauh ini penularan virus tersebut ke manusia memang beÂlum diÂtemukan di Indonesia.
Kementerian Pertanian (KeÂmenÂtan) melansir, virus penyebab kematian itik dan unggas akibat adanya virus H5N1 clade (keÂlomÂpok gen) baru 2.3.2, berÂbeda dengan penyebab flu burung paÂda ayam dan manusia, yakni viÂrus H5N1 clade lama (2.1.3).
Ketua Pelaksana Komisi NaÂsional (Komnas) Zoonosis Emil Agustiono menuturkan, pihakÂnya belum bisa memastikan apaÂÂkah virus baru ini lebih meÂÂmaÂtikan dari pada virus flu buÂrung clade lama.
“Kedua virus ini sama-sama mematikan dan potensi pandemi (wabah) sangat besar. Hanya poÂtensi penularan dari manusia ke manusia untuk virus baru flu buÂrung masih jauh,†papar Emil daÂlam acara temu media yang berÂtajuk ‘Deputy Meet The Press’ penganganan kasus flu burung di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KeÂmenÂkokesra) Jakarta, Rabu (9/1).
Menurutnya, kasus flu buÂrung clade baru ini jangan dianggap sepele. Sebab, dampaknya tidak hanya merugikan kesehatan, teÂtapi lintas sektor termasuk sekÂtor perekonomian nasional.
“Meski belum ditemukan virus ini menyerang manusia, tapi masÂyarakat diminta tetap wasÂpada, dengan tetap menghindari kontak langsung dengan itik maupun ungÂgas air yang mati seÂcara menÂdadak,†warning Emil.
Ketua Panel Ahli Komnas Zoonosis Prof Amin SubanÂdrio mengatakan, sebaÂnyak 200.000 ekor itik mati akibat seÂngatan virus tersebut. Dia mengÂingatÂkan agar masalah virus ini seÂgera diÂtangani.
“Diperlukan peÂnanganan seÂcara baik melalui kesiapan seÂperti teknologi, sumÂber daya maÂnusia dan fasilitas, jika sewaktu-waktu kasus virus flu burung baru ini memiliki panÂdemi ke maÂnusia,†tutur Amin.
Emil yang juga Staf Ahli BiÂdang Kesehatan dan Obat Deputi Menteri Riset dan Teknologi BiÂdang Jaringan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) ini menÂjeÂlaskan, jika virus flu burung clade 2.3.2 menjangkiti manuÂsia, gejaÂlanya sama seperti gejala pada virus flu burung clade 2.1.3. YakÂni adanya demam tingÂgi hingga mencapai lebih daÂri 38 derajat celcius, sesak napas dan sakit tenggorokan.
“Namun, hal ini tergantung seÂberapa dosis virus yang masuk ke dalam tubuh dan sistem keÂkeÂbalan manusia. Karena, kekeÂbalan tiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang yang kontak langsung dengan unggas yang mati, kemudian terinfeksi virus flu burung,†terangnya.
Tiap mikroba virus tersebut memiliki reseptor di setiap maÂkhluk hidup tertentu. Begitu pula dengan virus H5N1 tipe clade baru. Jika virus flu buÂrung tidak cocok dengan resepÂtor maÂÂnusia, maka tidak akan terÂjadi peÂnyeÂbaran virus.
“Jika virus itu berada di resepÂtor berupa saluran pernapasan atas, maka virus tersebut meÂnyebabkan flu biasa. Tapi jika berada di saluran pernapasan atas dan bawah, seseorang poÂsitif diÂnyatakan terjangkit virus flu buÂrung,†jelasnya.
Amin mengungkapkan, pihaÂkÂnya bersama para peneliti virus flu burung dari Universitas IndoÂnesia (UI), Lembaga Mokelular Eijkman dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan (LitÂbangÂkes) telah menyiapkan vakÂsin daÂlam menanggulangi peÂnyeÂÂbaran virus flu burung pada itik, ayam, dan unggas lainnya.
“Bahkan jika ditemukan panÂdemi pada manusia, teknologi kita sudah siap. Dalam waktu tiga buÂlan, kami sudah bisa membuat vakÂsin dengan dosis yang cukup besar. Jadi tidak perlu lagi berÂgantung pada pihak luar,†yakin Amin.
Ketua Unit Manajemen dan Pengendali Avian Influenza (AI) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Muhammad Azhar mengatakan, virus flu burung baru ini berisiko tertular pada manusia melalui ingus dan kotoran itik. Kotoran itik paling mudah terbawa melaÂlui media apa saja, teruma air, karena itik merupakan unggas air.
“Faktor risiko terjadi pada saat intensitas hujan seperti sekarang. Aliran air melalui banjir dan sungai, bisa menjadi media pemÂbawa virus berbahaya ini kepada manusia,†ucap Azhar.
Yang perlu diperhatikan, lanjut Azhar, adalah bulu dari itik. Hewan unggas satu ini sering membersihkan bulunya dengan menggosok-gosokan kepala dan bisa menempel di bulu.
“Tapi masyarakat tidak usah khawatir, kita tetap bisa makan kuliner unggas dengan cara meÂmasaknya dengan merebus dan menggoreng hingga maÂtang,†serunya.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menambahkan, kasus virus baru flu burung ini tiÂdak bisa dianggap sepele. SeÂbab, bisa saja virus baru tersebut berÂmutasi menjadi virus flu burung clade lama yang meÂnyeÂrang ayam dan manusia.
Kasus terakhir yang ditemukan akibat flu burung terjadi di Bogor, Jawa Barat, menimpa anak usia empat tahun. Sepanjang 2012, terdapat sembilan kasus kasus flu burung terjadi di Indonesia akibat terjangkit virus H5N1 clade lama.
Angka itu, kata Nafsiah, relatif turun dibanding tahun sebelumÂnya. Pada 2006 ada 55 kasus, 2007 (42), pada 2008 (24), pada 2009 (21), pada 2010 (9) dan pada 2011 (12). Sistem kewasÂpaÂdaan yang diÂlakukan Kemenkes, kata Nafsiah, antara lain dengan mengemÂbangÂkan sentinel surÂveilans (analisis data), baik di tingkat Puskesmas maupun di rumah sakit, yang khusus untuk pasien dengan peÂnyakit paru-paru akut.
Tangkal Penularan, 25 Juta Dosis Vaksin Siap Diproduksi
Untuk menekan dan mencegah virus flu burung, Ketua Unit MaÂnajemen dan Pengendali Avian Influenza (AI) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan KeÂmenÂterian Pertanian, Muhammad Azhar mengungkapkan, telah menemukan vaksin untuk meÂnangkal virus jenis baru tersebut. Vaksin ini akan segera diproÂdukÂsi massal sebanyak 25 juta dosis.
“Masalah vaksinasi ini sudah meÂmiliki ketetapan melalui surat edaÂran Dirjen Peternakan dan KeseÂhaÂtan pada 3 Januari 2013,†tutur Azhar.
Vaksin tersebut, jelas Azhar, berkat kajian penelitian yang di lakukan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Veteriner Surabaya. Di mana, telah ditetapkan masÂterseed vaksin virus baru flu bu–rung merupakan isolat virus dari Sukoharjo.
Hasil uji patogenitas dan uji reaksi silang juga menunjukkan kesamaan karakter vaksin baru dengan vaksin clade 2.1.3, yang digunakan pada kasus flu burung sebelumnya. Itu berarti vaksin lama masih bisa digunakan untuk mengatasi flu burung yang meÂnyerang itik saat ini.
Untuk mengantisipasi wabah flu burung ini melebar, pemeÂrinÂtah membutuhkan sekitar lima juta kapsul vaksin. Namun, vakÂsin yang saat ini dilakukan peÂmeÂrintah lewat Pusat Vetenaria FarÂma, hanya mampu memproduksi satu juta vaksin dalam waktu seÂbulan. Padahal, vaksin harus seÂgera diberikan guna menekan perÂluasannya, termasuk ke manusia.
“Kami telah menunjuk satu peÂrusahaan nasional di SuraÂbaya, dan satu perusahaan swasÂta deÂngan memproduksi empat jenis vaksin, yakni Vaksindo, Mediol, Kapri Farmindo dan Sandio. RenÂcananya, harga diÂberikan untuk vaksin per doÂsisnya sekitar Rp 300 hingga Rp 500,†paparnya.
Ketua Pelaksana Komisi NaÂsional (Komnas) Zoonosis, Emil Agustiono mengatakan, kebuÂtuhan vaksin flu burung sudah sangat mendesak sehingga keÂgiatan produksi vaksin pun haÂrus segera dilakukan.
“Kami mencurigai kasus virus flu burung clade 2.3.2 yang menyebabkan 150.000 itik diÂmusÂnahkan, ditularkan oleh buÂrung liar yang bermigrasi dari neÂgara lain,†ucapnya
Di Indonesia, kasus ini diteÂmukan di Brebes, Jawa Tengah dan sudah menjangkiti 56 KabuÂpaten/Kota. Pemerintah hingga kini belum mengetahui mengapa Brebes menjadi daerah yang perÂtama kali diserang virus terÂsebut. Sedangkan virus ini suÂdah meÂnyebar di sejumlah neÂgara. Di antaranya China, VietÂnam, ThaiÂland dan Bangladesh.
Guna memberikan bantuan bagi para peternak itik, KeÂmenÂterian Pertanian berencana akan memberikan dana kompensasi dari pemusnahan itik akibat terÂinfeksi flu burung. “Sayangnya, dana untuk komÂpensasi tidak ada dalam AngÂgaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, karena ini merupakan kejadian yang tidak terduga,†ujar Emil.
Kompensasi baru bisa dibeÂrikan jika ada pernyataan benÂcana. Meski begitu, pemerintah telah mengarahkan pihak perÂbanÂkan untuk mempermudah proses pemberian kredit kepada peÂterÂnak yang terkena kasus flu burung.
Pemerintah juga telah meminta bank untuk tidak menyita angÂgunan para peternak jika tidak sanggup membayar tagihan kreÂdit perbankan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12