Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Demam Dan Sesak Nafas Bisa Jadi Penyebab Virus Flu Burung

Berdampak Kematian, Virus Unggas Bisa Menular Ke Manusia
JUMAT, 11 JANUARI 2013 | 08:15 WIB

.Demam tinggi hingga mencapai lebih dari 38 derajat celcius, sesak napas, batuk hingga sakit tenggorokan mesti diwaspadai. Gejala ini bisa jadi penyebab virus flu burung (avian influenza).

Virus flu burung saat ini tidak hanya menyerang sejumlah he­wan unggas dan itik. Pasalnya, virus berbahaya ini bisa menular ke manusia. Bahkan, virus ini su­dah menjangkiti delapan orang di China, Hong Kong dan Bangla­desh, menewaskan tiga orang. Kasus itu ter­jadi sejak tahun 2009. Sejauh ini penularan virus tersebut ke manusia memang be­lum di­temukan di Indonesia.

Kementerian Pertanian (Ke­men­tan) melansir, virus penyebab kematian itik dan unggas akibat adanya virus H5N1 clade (ke­lom­pok gen) baru 2.3.2, ber­beda dengan penyebab flu burung pa­da ayam dan manusia, yakni vi­rus H5N1 clade lama (2.1.3).

Ketua Pelaksana Komisi Na­sional (Komnas) Zoonosis Emil Agustiono menuturkan, pihak­nya belum bisa memastikan apa­­kah virus baru ini lebih me­­ma­tikan dari pada virus flu bu­rung clade lama.

“Kedua virus ini sama-sama mematikan dan potensi pandemi (wabah) sangat besar. Hanya po­tensi penularan dari manusia ke manusia untuk virus baru flu bu­rung masih jauh,” papar Emil da­lam acara temu media yang ber­tajuk ‘Deputy Meet The Press’ penganganan kasus flu burung di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Ke­men­kokesra) Jakarta, Rabu (9/1).

Menurutnya, kasus flu bu­rung clade baru ini jangan dianggap sepele. Sebab, dampaknya tidak hanya merugikan kesehatan, te­tapi lintas sektor termasuk  sek­tor perekonomian nasional.

“Meski belum ditemukan virus ini menyerang manusia, tapi mas­yarakat diminta tetap was­pada, dengan tetap menghindari kontak langsung dengan itik maupun ung­gas air yang mati se­cara men­dadak,” warning Emil.

Ketua Panel Ahli Komnas Zoonosis Prof Amin Suban­drio mengatakan, seba­nyak 200.000 ekor itik mati akibat se­ngatan virus tersebut. Dia meng­ingat­kan agar masalah virus ini se­gera di­tangani.

“Diperlukan pe­nanganan se­cara baik melalui kesiapan se­perti teknologi, sum­ber daya ma­nusia dan fasilitas, jika sewaktu-waktu kasus virus flu burung baru ini memiliki pan­demi ke ma­nusia,” tutur Amin.

Emil yang juga Staf Ahli Bi­dang Kesehatan dan Obat Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bi­dang Jaringan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) ini men­je­laskan, jika virus flu burung clade 2.3.2 menjangkiti manu­sia, geja­lanya sama seperti gejala pada virus flu burung clade 2.1.3. Yak­ni adanya demam ting­gi hingga mencapai lebih da­ri 38 derajat celcius, sesak napas dan sakit tenggorokan.

“Namun, hal ini tergantung se­berapa dosis virus yang masuk ke dalam tubuh dan sistem ke­ke­balan manusia. Karena, keke­balan tiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang yang kontak langsung dengan unggas yang mati, kemudian terinfeksi virus flu burung,” terangnya.

Tiap mikroba virus tersebut memiliki reseptor di setiap ma­khluk hidup tertentu. Begitu pula dengan virus H5N1 tipe clade baru. Jika virus flu bu­rung tidak cocok dengan resep­tor ma­­nusia, maka tidak akan ter­jadi pe­nye­baran virus.

“Jika virus itu berada di resep­tor berupa saluran pernapasan atas, maka virus tersebut me­nyebabkan flu biasa. Tapi jika berada di saluran pernapasan atas dan bawah, seseorang po­sitif di­nyatakan terjangkit virus flu bu­rung,” jelasnya.

Amin mengungkapkan, piha­k­nya bersama para peneliti virus flu burung dari Universitas Indo­nesia (UI), Lembaga Mokelular Eijkman dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan (Lit­bang­kes) telah menyiapkan vak­sin da­lam menanggulangi pe­nye­­baran virus flu burung pada itik, ayam, dan unggas lainnya.

“Bahkan jika ditemukan pan­demi pada manusia, teknologi kita sudah siap. Dalam waktu tiga bu­lan, kami sudah bisa membuat vak­sin dengan dosis yang cukup besar. Jadi tidak perlu lagi ber­gantung pada pihak luar,” yakin Amin.

Ketua Unit Manajemen dan Pengendali Avian Influenza (AI) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Muhammad Azhar mengatakan, virus flu burung baru ini berisiko tertular pada manusia melalui ingus dan kotoran itik. Kotoran itik paling mudah terbawa mela­lui media apa saja, teruma air,  karena itik merupakan unggas air.

“Faktor risiko terjadi pada saat intensitas hujan seperti sekarang. Aliran air melalui banjir dan sungai, bisa menjadi media pem­bawa virus berbahaya ini kepada manusia,” ucap Azhar.

Yang perlu diperhatikan, lanjut Azhar, adalah bulu dari itik. Hewan unggas satu ini sering membersihkan bulunya dengan menggosok-gosokan kepala dan bisa menempel di bulu.

“Tapi masyarakat tidak usah khawatir, kita tetap bisa makan kuliner unggas dengan cara me­masaknya dengan merebus dan menggoreng hingga ma­tang,” serunya.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menambahkan, kasus virus baru flu burung ini ti­dak bisa dianggap sepele. Se­bab, bisa saja virus baru tersebut ber­mutasi menjadi virus flu burung clade lama yang me­nye­rang ayam dan manusia.

Kasus terakhir yang ditemukan akibat flu burung terjadi di Bogor, Jawa Barat, menimpa anak usia empat tahun. Sepanjang 2012, terdapat sembilan kasus kasus flu burung terjadi di Indonesia akibat terjangkit virus H5N1 clade lama.

Angka itu, kata Nafsiah, relatif turun dibanding tahun sebelum­nya. Pada 2006 ada 55 kasus, 2007 (42), pada 2008 (24), pada 2009 (21), pada 2010 (9) dan pada 2011 (12). Sistem kewas­pa­daan yang di­lakukan Kemenkes, kata Nafsiah, antara lain dengan mengem­bang­kan sentinel sur­veilans (analisis data), baik di tingkat Puskesmas maupun di rumah sakit, yang khusus untuk pasien dengan pe­nyakit paru-paru akut.

Tangkal Penularan, 25 Juta Dosis Vaksin Siap Diproduksi

Untuk menekan dan mencegah virus flu burung, Ketua Unit Ma­najemen dan Pengendali Avian Influenza (AI) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Ke­men­terian Pertanian, Muhammad Azhar mengungkapkan, telah menemukan vaksin untuk me­nangkal virus jenis baru tersebut. Vaksin ini akan segera dipro­duk­si massal sebanyak 25 juta dosis.

“Masalah vaksinasi ini sudah me­miliki ketetapan melalui surat eda­ran Dirjen Peternakan dan Kese­ha­tan pada 3 Januari 2013,” tutur Azhar.

Vaksin tersebut, jelas Azhar, berkat kajian penelitian yang di lakukan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Veteriner Surabaya. Di mana, telah ditetapkan mas­terseed vaksin virus baru flu bu–rung merupakan isolat virus dari Sukoharjo.

Hasil uji patogenitas dan uji reaksi silang juga menunjukkan kesamaan karakter vaksin baru dengan vaksin clade 2.1.3, yang digunakan pada kasus flu burung sebelumnya. Itu berarti vaksin lama masih bisa digunakan untuk mengatasi flu burung yang me­nyerang itik saat ini.

Untuk mengantisipasi wabah flu burung ini melebar, peme­rin­tah membutuhkan sekitar lima juta kapsul vaksin. Namun, vak­sin yang saat ini dilakukan pe­me­rintah lewat Pusat Vetenaria Far­ma, hanya mampu memproduksi satu juta vaksin dalam waktu se­bulan. Padahal, vaksin harus se­gera diberikan guna menekan per­luasannya, termasuk ke manusia.

“Kami telah menunjuk satu pe­rusahaan nasional di Sura­baya, dan satu perusahaan swas­ta de­ngan memproduksi empat jenis vaksin, yakni Vaksindo, Mediol, Kapri Farmindo dan Sandio. Ren­cananya, harga di­berikan untuk vaksin per do­sisnya sekitar Rp 300 hingga Rp 500,” paparnya.

Ketua Pelaksana Komisi Na­sional (Komnas) Zoonosis, Emil Agustiono mengatakan, kebu­tuhan vaksin flu burung sudah sangat mendesak sehingga ke­giatan produksi vaksin pun ha­rus segera dilakukan.

“Kami mencurigai kasus virus flu burung clade 2.3.2 yang menyebabkan 150.000 itik di­mus­nahkan, ditularkan oleh bu­rung liar yang bermigrasi dari ne­gara lain,” ucapnya

Di Indonesia, kasus ini dite­mukan di Brebes, Jawa Tengah dan sudah menjangkiti 56 Kabu­paten/Kota. Pemerintah hingga kini belum mengetahui mengapa Brebes menjadi daerah yang per­tama kali diserang virus ter­sebut. Sedangkan virus ini su­dah me­nyebar di sejumlah ne­gara. Di antaranya China, Viet­nam, Thai­land dan Bangladesh.

Guna memberikan bantuan bagi para peternak itik, Ke­men­terian Pertanian berencana akan memberikan dana kompensasi dari pemusnahan itik akibat ter­infeksi flu burung. “Sayangnya, dana untuk kom­pensasi tidak ada dalam Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, karena ini merupakan kejadian yang tidak terduga,” ujar Emil.

Kompensasi baru bisa dibe­rikan jika ada pernyataan ben­cana. Meski begitu, pemerintah telah mengarahkan pihak per­ban­kan untuk mempermudah proses pemberian kredit kepada pe­ter­nak yang terkena kasus flu burung.

Pemerintah juga telah meminta bank untuk tidak menyita ang­gunan para peternak jika tidak sanggup membayar tagihan kre­dit perbankan. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya