Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Radikal Bebas Jadi Penyebab Penyakit Jantung Dan Stroke

Hindari Makanan Berkadar Gula Tinggi & Garam Berlebih
MINGGU, 23 DESEMBER 2012 | 08:11 WIB

.Perubahan lingkungan dan pola hidup harus diwaspadai. Sebab, perubahan tersebut menyebabkan manusia hidup dalam radikal bebas, yang bisa mengakibatkan penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, dan kanker. Untuk menangkalnya diperlukan air antioksidan.

Radikal bebas adalah mo­lekul berbahaya yang dihasilkan tidak hanya dari faktor eksternal atau lingkungan seperti polusi, asap rokok dan sinar ultraviolet, me­lainkan dari dalam diri me­lalui apa yang dikonsumsi.

Pakar kesehatan dari Rumah Sakit Gading Pluit/Klinik Mil­le­nium dr Bing Handoyo me­nga­­ta­kan, radikal bebas ada di mana-mana. Termasuk makanan dengan kadar gula tinggi, ga­ram berle­bih dan olahraga ber­lebihan. Olah­raga sampai ngos-ngoson, kata dia, akan menim­bulkan ba­nyak radikal bebas dalam tubuh.

Tanda-tanda seseorang terke­na radikal bebas antara lain ba­nyak bintik-bintik hitam di tu­buh, kulit kusam dan berkemih, air kencing berwarna kuning atau kuning kecoklatan.

Untuk menangkal radikal be­bas tersebut, menurut Bing, tubuh memerlukan antioksidan. Sum­ber antioksidan berasal buah dan sayuran, suplemen, se­perti vita­min A, C, E dan mineral melanin dan C sebagai anti­oksidan utama serta air putih.

Untuk diketahui, 70 persen tu­buh manusia sebetulnya sudah terdiri dari air. Jika melakukan sesuatu dengan air, sudah pasti kebutuhan air terkoreksi. Air yang mengandung antioksidan jika dikonsumsi secara teratur, maka 70 persen  tubuh selalu terpenuhi.

“Air antioksidan selain me­ngandung hidrogen aktif yang berfungsi menangkal radikal be­bas, juga mengandung alkalin un­tuk mengembalikan tubuh yang dalam keadaan asam tinggi men­jadi basah kembali,” kata Bing pada peluncuran dua tek­nologi bidang kesehatan, yakni Miracle Doctor sebagai peng­hasil air antioksidan dan Healing Wave untuk memini­ma­lisir pe­nyakit radikal bebas di Jakarta, Rabu (19/12).

Bing mengatakan, minum air antioksidan sehari 2-3 liter setara dengan meng­kon­sumsi buah-buahan dan sayuran per hari. Pa­salnya, secara normal tubuh ma­nusia itu basah dengan tingkat keasaman hanya 7,4 persen. Te­tapi karena asupan yang tidak benar, misalnya terlalu banyak mengkonsumsi lemak, gula, ma­kanan mengandung gurih yang teroksidasi menjadi asam urat, menjadikan tubuh jatuh dalam keadaan asam.

Dengan kata lain, awalnya tu­buh manusia 80 persen bersifat alkalin, dan 20 persen adalah asam. Namun, karena perubahan lingkungan dan pola hidup me­nyebabkan keadaan tersebut menjadi sebaliknya.

Salah satu tandanya, adalah dari bau mulut. Anak kecil tidak bau mulut, namun keadaan seba­liknya terasa setelah semakin besar dan dewasa. “Semakin asam tubuh seseorang semakin bau mulutnya,” jelasnya.

Meningkatnya keasaman pada tubuh, antara lain karena pangan yang dikonsumsi tidak lagi asli. Seperti penambah rasa atau MSG, pemanis buatan dan pe­warna buatan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan keasaman pada tubuh.

“Antioksidan sama dengan air alkalin yang baik untuk  meng­al­kalin tubuh manusia yang da­lam keadaan asam tinggi menja­di ba­sah kembali,” katanya.

Antioksidan juga dapat men­cegah penyakit mag kambuh. Na­mun, bagi penderita mag akut disarankan hanya minum sete­ngah sampai segelas agar tidak memberatkan pencernaan.

Pakar air Reserve Osmosis sekaligus Product Manager Ad­vance Yulianto menambahkan, untuk mencegah penyakit ter­se­but, perlu mengkonsumsi ant­i­ok­sidan melalui Miracle Doctor, teknologi kesehatan yang meng­hasilkan air antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.

Alat ini diklaim memiliki ke­samaan dengan buah-buahan dan sayur-sayuran yang bisa mengha­silkan senyawa antiok­sidan  dan membantu menangkal radikal bebas penyebab tim­bul­nya ber­bagai penyakit serta mengubah air minum menjadi segar.

Asap Kendaraan & Rokok Penyebab Radikal Bebas

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama me­ngatakan, radikal bebas sangat sulit dihindari. Pasalnya, pa­dat­nya kendaraan dan perubahan iklim, seseorang rentan terkena radikal bebas yang berujung pada penyakit akut.

“Asap kendaraan bermotor, asap rokok, residu pestisida pada makanan dan polutan lainnya me­rupakan penyebab radikal bebas. Makanya, diperlukan po­la hidup sehat, rajin konsumsi air putih dan olahraga yang tepat agar me­tabolisme tubuh tetap sehat,” ujar Tjandra.

Asma, kata dia, me­rupakan pe­nyakit inflamasi (pe­radangan) kronik pada saluran napas yang ditandai batuk dan rasa sesak di dada akibat pe­nyumbatan salur­an napas. Asma termasuk dalam ke­lompok pe­nyakit saluran per­­na­pasan kronik yang dise­bab­kan oleh radikal bebas aki­bat po­lusi udara dari kendaraan.

Menurutnya, asma mempunyai tingkat fitalitas yang rendah, na­mun jumlah kasusnya cukup  ba­nyak ditemukan dalam ma­sya­rakat. Hasil survei menyebutkan, asma pada anak sekolah ada di beberapa kota di Indonesia. Di antaranya Me­dan, Palembang, Jakarta, Ban­dung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpa­sar. Kondisi itu menunjukkan  prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3,7-6,4 persen.  

Sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat 5,8 per­sen tahun 1995 dan 2001 di Ja­karta Timur 8,6 persen. Ber­dasarkan Riset Kesehatan Dasa (Riskesdas) 2007, preva­lensi asma nasional adalah 4,0 per­sen dari total penduduk.

Dia menjelaskan, faktor pe­micu serangan asma sangat bera­gam, seperti polusi, asap rokok, tungau debu rumah, kucing, ja­mur, parfum, asap ken­daraan ter­utama diesel, jamur tepung sa­ri dan lainnya. Juga alergi terhadap makanan dan minuman tertentu, seperti coklat, es, kacang-kaca­ng­an, makanan laut, zat penga­wet, MSG, telur,dan obat-obatan ter­tentu misal­nya, gol aspirin, B-bloker serta aler­gi ketika ada perubahan cuaca.

“Faktor ini dapat juga dari diri sendiri, misalnya, infeksi virus, emosi, stres dan aktivitas yang berlebihan,” kata Tjandra.

Pemerhati Kesehatan Reyadi M Zen mengatakan, asma dapat di­minimalisir melalui terapi heal­ing wave dengan meng­gunakan me­tode gelombang panas dan sinar. Terapi ini mam­pu menyerap sam­pai ke sum-sum tulang, serta dapat membantu sirkulasi darah menja­di lancar. Panas ini bertujuan mem­buat otot-otot penderita as­ma yang menegang berkontraksi.

“Terapi ini telah diujicobakan pada sejumlah penderita asma dan hasilnya terjadi perubahan atau per­baikan pada penyakitnya. Se­jumlah tenaga kesehatan atau rumah sakit yang memiliki pusat reha­bi­litasi medik juga telah meng­gu­nakan alat ini, namun dengan nama yang ber­beda dan bentuk yang te­lah dimo­difikasi,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya