Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Rentan Kanker, Jajanan Beracun Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Pengawasan BPOM Lemah, Kantin Sekolah Nakal Makin Marak
JUMAT, 21 DESEMBER 2012 | 08:04 WIB

.Makanan berbahaya yang mengandung zat kimia seperti formalin, boraks dan zat pewarna beracun, masih beredar luas di sejumlah kantin sekolah. Jika dikonsumsi, makanan itu bisa memicu penyakit kanker dan mengganggu tumbuh kembang anak.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diminta lebih aktif mengawasi peredaran ja­janan sekolah, serta menindak te­gas pedagang atau produsen ma­kanan yang terbukti meng­gu­na­kan zat berbahaya di lingku­ngan se­kolah.

Kepala BPOM Lucky S Slamet mengatakan, upaya perlindung­an anak-anak sekolah dari ja­janan berbahaya terus dilakukan. Bah­kan, katanya, penanganan Pangan Ja­janan Anak Sekolah (PJAS) ber­bahaya ini masuk dalam agen­da ‘Gerakan Nasional Menuju PJAS yang aman, ber­mutu dan bergizi’.

“Secara umum jajanan ber­ba­haya ini sudah ditekan dari ta­hun ke tahun. Tapi bukan berarti se­mua jajanan bebas dari zat kimia berbahaya. Sekitar 30 juta anak Indonesia harus waspada soal ini,” kata Lucky di acara penan­datanganan kerja sama antara BPOM dan Badan Nasional Ser­tifikasi Profesi (BNSP) terkait Pengembangan Program Sertifi­kasi Kompetensi Sumber Daya Manusia di Bidang Obat dan Ma­kanan di Jakarta, Sabtu (9/12).

Menurut Lucky, hingga perte­ngahan tahun ini, BPOM men­catat sekitar 76 persen sampel PJAS yang diteliti sudah masuk kategori aman. Sedangkan se­kitar 24 persen sisanya masih me­ngan­dung zat berbahaya.

Dia menjelaskan, zat berba­ha­ya ini bisa menimbulkan reak­si akut berupa alergi, batuk, diare, kesulitan buang air besar atau bahkan keracunan.

Dalam jangka panjang, apabi­la zat berbahaya itu dikon­sumsi oleh tubuh manusia, ter­utama anak-anak, bisa teraku­mu­lasi dan berbahaya bagi kese­hatan dan tumbuh kem­bang anak.

“Gangguan itu tidak akan ter­lihat dalam jangka waktu dekat. Tetapi dalam jangka waktu lama, zat kimia itu bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal dan gang­­guan dalam tumbuh kem­bang anak,” terang Lucky.

Selain itu, zat berbahaya ini bi­sa menyebabkan penyakit kan­ker dan tumor, serta mem­pe­nga­ruhi fungsi otak. Termasuk gang­guan perilaku anak sekolah. Yaitu gang­guan tidur, konsentrasi, emosi, hiper­ak­tif dan memper­berat gejala penderita autis.

Berdasarkan hasil pengujian BPOM soal mutu kimia dan mik­robiologi pada jenis makanan, yang termasuk dish menu (olahan beras, mie dan bihun, daging, ung­gas, ikan, telur serta olahan sayur)  menunjukkan, ada kan­du­ngan formalin sebanyak 12,98 per­sen, boraks 9,74 persen, bak­teri Staphylococcus aureus (Sau­reus) melebihi batas 32,61 per­sen, dan 45,8 persen memiliki ni­lai total bakteri atau Angka Lem­peng Total (ALT) melebih batas.

Sedangkan pada makanan ri­ngan (aneka gorengan, chips, roti, wafer, permen, dan sebagainya) di­temukan 16,6 persen yang mengandung formalin, 22,78 per­sen memiliki nilai ALT me­le­bihi batas, dan 15,56 sampel me­ngan­dung bakteri Staphylococcus Aureus melebihi batas. Untuk minuman es, ditemukan 69,3 per­sen sampel yang mengandung Escherichia coli (E coli) mele­bihi batas yang ditentukan.

“Ciri pangan yang berbahaya dilihat dari kekenyalan seperti sulit putus, warna yang menco­lok dan hampir serupa dengan warna pakaian dan bau makanan tidak khas,” ungkap Lucky.

Lucky mengatakan, pangan yang sehat dan aman harus didu­kung oleh kantin sehat dan me­me­nuhi syarat BPOM. Bahkan, ada kantin yang memiliki tanda bintang dari BPOM bagi kantin dengan dinilai baik untuk pe­nyediaan PJAS.

Syarat kantin tersebut, di anta­ranya menerapkan sistem higi­eni­sasi yang baik, perilaku peda­gang dan perawatan, pemisahan pa­ngan mentah dan pangan ma­tang, ser­ta pengetahuan menge­nai pem­buatan produk dan prak­tik pengolahannya.

Menurut ahli gizi Fakultas Kedokteran Universitas Su­ma­tera Utara (FK-USU) Diana F Su­ganda, peran orang tua sangat penting dalam melihat kondisi gizi anak.  Karena itu, jajanan yang dimakan anak harus diawasi dengan benar.

1,3 juta Anak Sekolah Dijamin Bebas Formalin Tahun Ini

Upaya penanganan masalah Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang mengandung zat berbahaya masih belum mak­simal. BPOM masih menemui sejumlah kantin sekolah yang tidak sehat, serta kesulitan me­nindak pedagang  jajanan seko­lah yang nakal.

”Petugas kami sering kucing-kucingan, mirip Tom and Jerry. Terutama di Jakarta. Setiap me­lihat mobil penyuluh BPOM, pe­dagang langsung kabur. Setelah mobil meninggalkan sekolah, me­reka balik lagi,” kisah Kepala Badan POM, Lucky S Slamet di Jakarta, Sabtu (9/12).

Karakter pedagang PJAS di ka­wasan Jakarta, jelas Lucky, cukup khas. Selain bandel ka­rena men­ju­al jajanan tidak se­hat, mereka kerap berpindah-pindah. Berbeda sekali dengan karakter pedagang jajanan se­kolah di Yogyakarta yang nurut dan cen­derung mene­tap.

“Penanganan ini tidaklah mu­dah. Namun, kami menargetkan pada akhir tahun bisa me­nye­la­matkan sebanyak 1,3 juta anak sekolah dari PJAS berbahaya,” janjinya.

Lucky mengatakan, 1,3 juta anak sekolah yang berhasil di­aman­kan, bisa berperan sebagai agent of change (agen perubah­an). Mereka diha­rapkan bisa me­nulari teman-temannya un­tuk menghindari membeli jajan­an berbahaya di luar sekolah.

“Jaminan atas keamanan, mutu dan gizi pangan mempunyai kon­tribusi besar pada pemben­tukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mem­pengaruhi daya saing bangsa di tingkat global,” ungkap Lucky.

Untuk itu, tambahnya, penga­wasan pangan perlu mendapat prioritas, karena secara langsung dapat melindungi kesehatan mas­yarakat, terutama dari pangan yang tidak memenuhi syarat keamanan, mutu dan gizi.

Penanganan jajanan berbaha­ya merupakan bagian dari Ge­rakan Nasional menuju PJAS yang aman, bermutu dan bergizi oleh Wapres Boediono pada 31 Janua­ri 2011, yang ditindak­lan­juti de­ngan penetapan Ren­cana Aksi Nasional (RAN) PJAS.

Program ini dilaksanakan me­lalui penerapan lima strategi, yakni perkuatan program PJAS, peningkatan awareness ko­mu­nitas PJAS, peningkatan ka­pa­sitas sumber daya, modeling dan replikasi kantin sekolah serta optimalisasi manajemen aksi nasional PJAS.

Dalam aksi nasional ini, BPOM telah mengoperasikan sejumlah mobil laboratorium keliling ke 1.291 sekolah dasar di Indo­ne­sia, melakukan pembi­naan ke­pada 80.000 pedagang PJAS di sekitar sekolah dan 24.000 pe­ngelola kantin, serta mem­be­rikan 100 piagam bin­tang ke­amanan pa­ngan untuk Se­ko­lah Dasar dan Madrasah Ibti­daiyah di 20 provinsi.

 BPOM mencatat, pada 2008 hingga 2010, sampel PJAS yang aman dari zat ber­bahaya sekitar 60 persen. Ke­mudian pada 2011 meningkat menjadi sekitar 65 persen. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya