Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

64 Juta Remaja Indonesia Rentan Kawin Muda...

Transisi Demografi Bisa Berantakan
MINGGU, 16 DESEMBER 2012 | 08:12 WIB

.Peningkatan jumlah remaja yang sangat signifikan bisa menyebabkan transisi demografi yang semakin dahsyat. Dikhawatirkan, sebanyak 64 juta remaja Indonesia rentan menghadapi kasus kawin muda.

Kini, remaja di Indonesia punya berbagai masalah yang cukup pe­lik, mulai dari masalah kawin mu­da hingga penyalahgunaan nar­koba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 me­nunjukkan, jumlah pengguna nar­koba mencapai 115.404 orang.

Sebanyak 51.986 orang atau 45,04 persen dari total pengguna narkoba adalah berusia remaja (usia 16-24 tahun), pelajar berse­kolah berjumlah 5.484 orang atau 4,75 persen, mahasiswa 4.055 orang atau 3,51 persen.

Untuk kasus Human Immuno­de­ficiency Virus/Acquired Im­mune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) me­nun­jukkan, hampir sete­nga­h­nya, yakni 45,9 persen kasus ber­asal dari usia 20-29 tahun. Data  itu menunjukkan, usia remaja juga rentan terkena HIV/AIDS.

Yang masih menjadi masalah saat ini adalah bahwa usia kawin pertama di Indonesia pada pe­rempuan baru mencapai 19 ta­hun. Padahal, usia kawin perta­ma pe­rempuan diharapkan 21 tahun. Karena itu, perencanaan ke­luarga sejahtera seharusnya dimulai se­jak remaja.

Sedangkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, ter­ca­tat ada 35 dari 1.000 remaja yang sudah pernah melahirkan. Bahkan, usia rata-rata perka­wi­nan wanita adalah 19 tahun.

Guna menanggulangi persoa­lan ­remaja saat ini, Badan Ke­pen­dudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus meng­ga­lakan program “Generasi B­e­ren­cana (GenRe) Goes to School”.

“Program GenRe ini diha­rap­kan bisa mencetak sosok mo­ti­vator di kalangan remaja untuk meng­kampanyekan ke setiap se­kolah,” kata Deputi Keluarga Se­jahtera dan Pemberdayaan Ke­luar­ga BKKBN Dr Sudibyo Ali­moe­so di Jakarta, Kamis (13/12).

Program ini dimaksudkan un­tuk memotivasi kalangan remaja, agar bisa memahami perlunya pe­rencanaan Keluarga Berencana (KB), kesehatan reproduksi re­maja dan masih banyak lagi.

“Saya rasa remaja dengan jum­lah yang sangat besar, merupakan potensi sumber daya manusia (SDM) yang harus diperhi­tung­kan,” ujar Sudibyo.

Karena itu, katanya, para re­maja mesti diarahkan dengan baik agar bisa memasuki transisi kehidupan remaja ke depan se­hing­ga mereka bisa memiliki SDM ber­kualitas.

Menurut dia, ada lima transisi yang harus dijalani remaja de­ngan baik. Pertama, menjalani pola hidup sehat. Kedua, mem­peroleh pendidikan yang kom­prehensif. Ketiga, mem­pero­leh pekerjaan yang memadai. Ke­empat, membentuk keluarga yang sehat sejahtera. Kelima, ber­aktivitas sosial dalam ma­sya­rakat dengan baik.

Selanjutnya, mereka diberikan bekal yang cukup dan kesehatan re­produksinya dijaga agar ter­hindar dari baby boomer, yang dapat memicu terjadinya ledak­an penduduk.

“Remaja perlu diberikan pe­mahaman tentang kesehatan rep­roduksi sejak dini. Dengan pe­mahaman yang baik, mereka bisa meng­hin­dari pernikahan dini dan hal-hal lain yang terkait dengan kese­ha­tan reproduksi,” jelas Sudibyo.

Salah satu cara, katanya, antara lain menggencarkan program GenRe, program generasi beren­cana yang ditujukan untuk pe­nyiapan kehidupan berke­luar­ga bagi remaja yang berkua­li­tas. Kini telah terbentuk sekitar 16 ri­bu Pusat Informasi dan Konse­ling (PIK) remaja dan mahasiswa.

Apa sih target program GenRe Goes to School? Menurut Su­dib­yo, semakin banyak remaja me­ngetahui tentang kesehatan re­produksi, membuat remaja ber­tanggung jawab terhadap kese­hatan reproduksi­nya.  Indikator progress-nya, adalah usia perka­winan meningkat, menurunnya jumlah anak pada pasangan muda, terhindarnya kehamilan yang tidak diinginkan.

Bahkan saat ini, perkembangan jumlah penduduk di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan sensus penduduk yang digelar pada 2010, BKKBN mencatat, pen­duduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa. Laju pertum­bu­han pen­duduk sekitar 1,49 per­sen. Semen­tara pada 2012, pen­duduk Indo­ne­sia sudah men­capai 245 juta jiwa.

Mencermati lonjakan pertam­bahan penduduk tersebut, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN Hardi­yanto mengatakan, angka itu ter­golong sangat besar. Apalagi, tiap tahun tercatat sebanyak 3,5 sam­pai 4 juta bayi dilahirkan. Angka itu seperti jumlah pen­duduk di Singapura. Jika di­iba­ratkan, setiap tahun, In­donesia mem­bentuk satu negara Singapura.

“Angka kelahiran yang besar tersebut belum diimbangi kua­litas sumber daya manusia yang baik seperti pendidikan yang tidak tinggi, gizi yang kurang mencu­kupi, dan kesehatan yang minim,” kata Hardiyanto.

Alhasil, katanya, SDM tersebut menjadi tak berkualitas bagi mo­dal pembangunan nasional. Di masa mendatang, pemerintah te­rus menekan laju pertumbuhan penduduk. Jika tidak, Indonesia punya penduduk yang sangat besar tapi tak berkualitas.

Kewenangannya Diamputasi, BKKBN Kini Mati Suri...

Sejak kebijakan otonomi dae­rah diberlakukan pada 2004, program Keluarga Beren­cana (KB) seperti mati suri. Wewe­nang Badan Ke­pen­du­du­kan dan Keluarga Be­rencana Nasional (BKKBN) da­lam men­ja­lankan tugasnya seperti diam­putasi.

Deputi Bidang Advokasi Peng­ge­rakan dan Informasi BKKBN Hardiyanto mengatakan, kebi­ja­kan program KB tidak lagi di­ken­dalikan pemerintah pusat, me­lainkan dise­rahkan ke pemerintah daerah (Pemda) se­tempat. Aki­batnya, ke­wenangan BKKBN seperti di­amputasi.

“Urusan KB sudah dioto­nom­kan. Dampaknya apa? BKKBN pusat ada, provinsi ada, tapi Ka­bupaten/Kota tidak ada lagi,” kata Hardiyanto.

Alhasil, kebijakan program KB sangat tergantung Pemda tingkat II. Setiap daerah memiliki ke­bijakan berbeda-be­da. Yang men­jadi persoalan saat ini, ledakan ge­nerasi muda juga diikuti de­ngan ledakan penduduk lanjut usia (lan­sia), yang semula di ba­wah 5 juta menjadi 20 juta jiwa.

Penanganan program KB tam­pak­nya kurang tepat. 10 tahun terakhir ini, terjadi ke­nai­kan ting­kat kelahiran dari 2,3 anak tahun 2000-an menjadi sekitar 2,6 anak tahun 2007-2009. “Kondisi itu memicu laju per­tum­buhan pen­duduk bukan seperti angka rata-rata 1,49 per­sen selama 10 tahun, tetapi bisa 1,5, 1,6, bah­kan 1,7 persen tiap tahun,” ujarnya.

Pertumbuhan itu dipicu akibat ledakan baby boomers yang men­jadi dewasa, kenaikan pen­du­duk lanjut usia yang dahsyat, dan kenaikan kembali tingkat ke­lahiran di Indonesia.

“Semua ini menjadikan masa­lah kependudukan di Indonesia bu­kan lagi hanya maraknya ke­lahi­ran bayi, melainkan suatu le­da­kan penduduk (population ex­plo­tion) yang sangat berba­haya,” tandas Hardiyanto. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya