Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Ngeri... Penderita Kanker Baru Capai 237.000 Orang Per Tahun

Pemerintah Fokus Ke Pencegahan Ketimbang Pengobatan
MINGGU, 02 DESEMBER 2012 | 08:17 WIB

.Ancaman kanker bukan hanya pada kesehatan, tapi juga berdampak pada ekonomi. Untuk itu, pemerintah akan menitikberatkan pada upaya pencegahan dibanding pengobatan dalam menghadapi kanker. Pasalnya, pengobatan kanker jauh lebih besar memakan biaya dibanding pencegahannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperkirakan, 9 juta orang akan meninggal dunia aki­bat kanker di tahun 2015. Se­mentara di kawasan ASEAN se­banyak 50.000 kematian di­se­bab­kan oleh kanker. Se­dang­kan di Indonesia tiap tahun ter­dapat 237.000 penderita baru.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, ke­men­teriannya akan meni­tik­be­rat­kan pada upaya pencegahan di­banding pengobatan pe­nyakit kanker. Pa­sal­nya biaya pe­ngo­bat­an kanker ja­uh lebih besar di­­banding pen­cegahannya.

“Biaya pe­ngobatan kan­ker bisa me­nyedot 60 hing­­ga 70 per­sen anggaran kesehatan. Ada baiknya kita fo­kuskan pada pen­cegahan kanker,” ujar Nafsiah pada aca­ra pertemuan delegasi ne­gara-ne­gara ASEAN bertajuk ‘Policy Roundtable on Future Access to Cancer Care in ASEAN’ di Ja­karta, Jumat (23/11).

Upaya pencegahan itu, kata Nafsiah, dilakukan melalui pe­ningkatan promosi kesehatan un­tuk menghindari berbagai pe­nyebab timbulnya kanker serta menggugah kesadaran masya­ra­kat untuk hidup sehat.

“Penyebab pertama timbulnya kanker adalah rokok, lalu ma­kan­an tidak bergizi yang dapat me­nyebabkan kanker kolorektal (usus) dan kanker payudara. Ka­mi akan gencarkan pola hidup makanan berserat dan perilaku hidup sehat,” ujar Nafsiah.

Kementerian Kesehatan (Ke­menkes) berkomitmen kuat me­lakukan pencegahan penyakit akut ini dengan memberikan edu­kasi dan sosialisasi akan ba­haya kanker. ”Tindakan pen­ce­gahan tidak akan bisa dila­kukan tanpa diikuti perilaku hi­dup se­hat,“ ucapnya.

Direktur Jenderal Pengen­da­lian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Tjan­dra Yoga Aditama mengatakan, program pencegahan kanker akan terus ditingkatkan dengan me­nyediakan sejumlah fasilitas ke­sehatan. Seperti alat skrining un­tuk kanker serviks dengan meng­gunakan inspeksi visual asam asetat (IVA). Alat skrining ini telah didistribusikan ke 28 pro­vinsi.

“Program pengendalian kan­ker sudah dilakukan sejak  lima tahun terakhir di Indonesia. Pen­cegahan lebih penting dari pa­da pengo­bat­an kanker,” tegasnya.

Menurut Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Makarim Wibisono, kanker sebagian besar dirasakan masyarakat mene­ngah ke bawah yang sistem ja­minan sosial­nya tidak memadai.

Dia menyebutkan, ada lima penyakit kanker  mematikan di ne­gara ASEAN. Yak­­­ni kanker pa­ru-paru, hati,  pe­­­rut,  mulut,  pa­­­yudara, ser­viks dan ko­lekteral.

“Pada tahun 2008, lebih dari 700.000 kasus kanker baru dan 500.000 kematian disebabkan kanker di ASEAN. Hal itu me­­nye­babkan hampir 7,5 juta orang kehilangan ang­ka ha­rapan hidup dalam satu ta­hun,” ungkap Makarim.

Makarim mengatakan, beban kanker di wilayah ASEAN terus meningkat sampai titik di mana kanker telah menghambat per­tumbuhan ekonomi.

“Penyakit kanker sebagian di­rasakan oleh masyarakat me­ne­ngah dan bawah, terutama di ne­gara-negara dengan sistem ja­mi­n­­an sosial yang tidak me­madai. Karena itu, kanker di­ang­gap se­bagai penyakit kebang­krut­an dari segi ekonomi,” katanya.

Menurut Makarim, negara akan mengalami penurunan eko­nomi jika penderita kanker terus bertambah. Untuk pengobatan kanker, keluarga di ASEAN rata-rata menghabiskan 30 persen peng­hasilan per tahun. Penderita dan keluarga bisa jatuh miskin. Bahkan saat penderita me­ning­gal, keluarga menanggung utang.

Untuk menekan kasus kanker, delegasi negara-negara ASEAN membuat kesepakatan tentang kebijakan penanggulangan kan­ker. Menurut Makarim, kese­pa­katan akan jadi seruan agar pe­merintah negara-negara ASEAN memperbaiki pencegahan dan pe­nanganan kanker serta mem­prio­ritaskan sebagai bagian dari in­vestasi ekonomi negara. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya