ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperkirakan, 9 juta orang akan meninggal dunia akiÂbat kanker di tahun 2015. SeÂmentara di kawasan ASEAN seÂbanyak 50.000 kematian diÂseÂbabÂkan oleh kanker. SeÂdangÂkan di Indonesia tiap tahun terÂdapat 237.000 penderita baru.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, keÂmenÂteriannya akan meniÂtikÂbeÂratÂkan pada upaya pencegahan diÂbanding pengobatan peÂnyakit kanker. PaÂsalÂnya biaya peÂngoÂbatÂan kanker jaÂuh lebih besar diÂÂbanding penÂcegahannya.
“Biaya peÂngobatan kanÂker bisa meÂnyedot 60 hingÂÂga 70 perÂsen anggaran kesehatan. Ada baiknya kita foÂkuskan pada penÂcegahan kanker,†ujar Nafsiah pada acaÂra pertemuan delegasi neÂgara-neÂgara ASEAN bertajuk ‘Policy Roundtable on Future Access to Cancer Care in ASEAN’ di JaÂkarta, Jumat (23/11).
Upaya pencegahan itu, kata Nafsiah, dilakukan melalui peÂningkatan promosi kesehatan unÂtuk menghindari berbagai peÂnyebab timbulnya kanker serta menggugah kesadaran masyaÂraÂkat untuk hidup sehat.
“Penyebab pertama timbulnya kanker adalah rokok, lalu maÂkanÂan tidak bergizi yang dapat meÂnyebabkan kanker kolorektal (usus) dan kanker payudara. KaÂmi akan gencarkan pola hidup makanan berserat dan perilaku hidup sehat,†ujar Nafsiah.
Kementerian Kesehatan (KeÂmenkes) berkomitmen kuat meÂlakukan pencegahan penyakit akut ini dengan memberikan eduÂkasi dan sosialisasi akan baÂhaya kanker. â€Tindakan penÂceÂgahan tidak akan bisa dilaÂkukan tanpa diikuti perilaku hiÂdup seÂhat,“ ucapnya.
Direktur Jenderal PengenÂdaÂlian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) TjanÂdra Yoga Aditama mengatakan, program pencegahan kanker akan terus ditingkatkan dengan meÂnyediakan sejumlah fasilitas keÂsehatan. Seperti alat skrining unÂtuk kanker serviks dengan mengÂgunakan inspeksi visual asam asetat (IVA). Alat skrining ini telah didistribusikan ke 28 proÂvinsi.
“Program pengendalian kanÂker sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir di Indonesia. PenÂcegahan lebih penting dari paÂda pengoÂbatÂan kanker,†tegasnya.
Menurut Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Makarim Wibisono, kanker sebagian besar dirasakan masyarakat meneÂngah ke bawah yang sistem jaÂminan sosialÂnya tidak memadai.
Dia menyebutkan, ada lima penyakit kanker mematikan di neÂgara ASEAN. YakÂÂÂni kanker paÂru-paru, hati, peÂÂÂrut, mulut, paÂÂÂyudara, serÂviks dan koÂlekteral.
“Pada tahun 2008, lebih dari 700.000 kasus kanker baru dan 500.000 kematian disebabkan kanker di ASEAN. Hal itu meÂÂnyeÂbabkan hampir 7,5 juta orang kehilangan angÂka haÂrapan hidup dalam satu taÂhun,†ungkap Makarim.
Makarim mengatakan, beban kanker di wilayah ASEAN terus meningkat sampai titik di mana kanker telah menghambat perÂtumbuhan ekonomi.
“Penyakit kanker sebagian diÂrasakan oleh masyarakat meÂneÂngah dan bawah, terutama di neÂgara-negara dengan sistem jaÂmiÂnÂÂan sosial yang tidak meÂmadai. Karena itu, kanker diÂangÂgap seÂbagai penyakit kebangÂkrutÂan dari segi ekonomi,†katanya.
Menurut Makarim, negara akan mengalami penurunan ekoÂnomi jika penderita kanker terus bertambah. Untuk pengobatan kanker, keluarga di ASEAN rata-rata menghabiskan 30 persen pengÂhasilan per tahun. Penderita dan keluarga bisa jatuh miskin. Bahkan saat penderita meÂningÂgal, keluarga menanggung utang.
Untuk menekan kasus kanker, delegasi negara-negara ASEAN membuat kesepakatan tentang kebijakan penanggulangan kanÂker. Menurut Makarim, keseÂpaÂkatan akan jadi seruan agar peÂmerintah negara-negara ASEAN memperbaiki pencegahan dan peÂnanganan kanker serta memÂprioÂritaskan sebagai bagian dari inÂvestasi ekonomi negara. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12