Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Masa Pubertas Pada Anak Bisa Picu Penyakit Adrenal

Sulit Dideteksi & Berisiko Kematian
MINGGU, 25 NOVEMBER 2012 | 08:18 WIB

.Pertumbuhan anak terlalu cepat (pubertas) mesti diwaspadai. Sebab, banyak ancaman kesehatan ketika anak tumbuh dewasa sebelum waktunya. Salah satunya, gangguan pada kelenjar anak ginjal atau adrenal yang biasa disebut Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK).

Kelainan kelenjar adrenal, adalah penyakit berbahaya dan sulit dideteksi. Gejalanya ditan­dai dengan mem­besarnya alat kela­min. Kelainan bawaan ini dipicu oleh gangguan pada  anak ginjal dalam mem­produksi kor­tisol atau hor­mon stres.

Menurut  Immediate President Asia Pacific Paediatric Endo­crine Society (APPES) Aman Pu­lu­ngan, penyakit ini bisa me­nye­rang laki-laki maupun pe­rempuan dengan gangguan yang ditandai dengan pembesaran alat kelamin. Biasanya, proses pu­bertas ini terjadi pada usia 2 sam­pai 3 tahun.

Perubahan ini, kata dia, bisa menyebabkan kematian kalau terlambat ditangani. Pada laki-laki risikonya lebih besar, karena kadang-kadang alat kelamin yang lebih besar justru dianggap mem­banggakan.

“Sedangkan pada perempuan bisa memicu pembengkakan klitoris (alat kelamin perempuan) sehingga mirip ambiguitas jenis kelamin,” terangnya.

Penyakit ini juga memberikan ancaman risiko terkena oste­o­porosis atau pengeroposan tu­lang, karena kondisi hor­mo­nalnya berubah.

Risiko keganasan juga bisa mengalami peningkatan khu­susnya pada perempuan karena terkait dengan masa menopause. Menstruasi dimulai lebih awal, menopause juga akan datang lebih cepat dan menurut berbagai pe­nelitian hal itu bisa mening­katkan risiko kanker payudara.

Ancaman yang tidak kalah penting untuk diwaspadai, me­nurut Aman, adalah per­kem­bangan psikologis anak. Ada lebih banyak risiko yang dihadapi ketika anak dewasa terlalu cepat dibandingkan jika sesuai dengan usianya.

Menurut dia, menjadi dewasa terlalu cepat memang tidak ber­hubungan dengan perilaku seks berisiko, tetapi bisa me­ning­kat­kan risiko bila dikaitkan ke­matangan emosional. Gairah seks yang meningkat pada masa pu­bertas tentu bisa berbahaya, jika kontrol emosinya belum matang.

“Tingkat krisis penyakit ini terjadi ketika tubuh kekurangan cairan dan garam, sementara ke­lenjar adrenal tidak mampu memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang cukup untuk mengantisipasinya, dan itu bisa menyebabkan kematian,” kata  Aman yang merupakan Ketua En­dokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada te­mu media beserta pasien pe­ngidap HAK di Jakarta, Minggu (18/11).

Gangguan fungsi kelenjar adrenal, kata Aman, juga me­nyebabkan sang anak sering muntah-muntah, menyusui tidak bagus dan selalu tampak lemas.

Ketua Komunitas Keluarga Hiperplasia Adrenal Kongenital Indonesia (KAHAKI), Kusuma Adiwijaya mengungkapkan, prevalansi global di seluruh dunia untuk kelainan ini sekitar 1 dari 10.000 sampai 18.000 bayi yang lahir mengidap kelainan kelenjar bawaan.

“Di Indonesia, tahun ini ada sekitar 300 penyandang adrenal yang tersebar di 13 provinsi. Di antaranya, Sumatera, Jawa, Ka­limantan, Bali dan Sulawesi. Umur penyandang Adrenal  pun bervariasi mulai baru lahir hingga 32 tahun,” ungkap Kusuma.

Dari jumlah penyandang adre­nal yang mampu bertahan hing­ga dewasa, kata Kusuma,  ke­banyakan berjenis kelamin pe­rempuan karena lebih mudah dideteksi.

Sementara pada laki-laki lebih sulit dan sering terabaikan, se­hingga tidak tertangani dan akhirnya meninggal karena krisis kelenjar adrenal.

“Keduanya memiliki pengaruh yang sangat luas, seperti ber­pengaruh pada perubahan lin­tasan metabolisme karbohidrat, protein dan lipid serta modulasi keseimbangan, antara air dan cairan elektrolit tubuh yang  dam­pak pada seluruh sistem tubuh, seperti sistem kardiovaskular,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Gubernur BI pun Ikut Mundur, Ada Apa Ini Guru?

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:15

Rumah Bedeng di Lebak Bulus Kebakaran

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00

Timnas Garuda Hadapi Timor Leste pada 31 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:30

Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:21

Presiden Harus Tindak Tegas Londo Ireng yang Merugikan Kepentingan Bangsa

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:19

Orang Tak Percaya Perry Warjiyo Mundur karena Alasan Pribadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:33

83 Penonton Jadi Korban Tribun GOR Satria Banyumas Roboh

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:18

Ahok Ungkap Awal Pecah Kongsi dengan Jokowi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:00

Nama Bupati KBB Jeje Ritchie Dicatut untuk Jual Jabatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:35

Hantu itu Masih Gentayangan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:18

Selengkapnya