ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Kelainan kelenjar adrenal, adalah penyakit berbahaya dan sulit dideteksi. Gejalanya ditanÂdai dengan memÂbesarnya alat kelaÂmin. Kelainan bawaan ini dipicu oleh gangguan pada anak ginjal dalam memÂproduksi korÂtisol atau horÂmon stres.
Menurut Immediate President Asia Pacific Paediatric EndoÂcrine Society (APPES) Aman PuÂluÂngan, penyakit ini bisa meÂnyeÂrang laki-laki maupun peÂrempuan dengan gangguan yang ditandai dengan pembesaran alat kelamin. Biasanya, proses puÂbertas ini terjadi pada usia 2 samÂpai 3 tahun.
Perubahan ini, kata dia, bisa menyebabkan kematian kalau terlambat ditangani. Pada laki-laki risikonya lebih besar, karena kadang-kadang alat kelamin yang lebih besar justru dianggap memÂbanggakan.
“Sedangkan pada perempuan bisa memicu pembengkakan klitoris (alat kelamin perempuan) sehingga mirip ambiguitas jenis kelamin,†terangnya.
Penyakit ini juga memberikan ancaman risiko terkena osteÂoÂporosis atau pengeroposan tuÂlang, karena kondisi horÂmoÂnalnya berubah.
Risiko keganasan juga bisa mengalami peningkatan khuÂsusnya pada perempuan karena terkait dengan masa menopause. Menstruasi dimulai lebih awal, menopause juga akan datang lebih cepat dan menurut berbagai peÂnelitian hal itu bisa meningÂkatkan risiko kanker payudara.
Ancaman yang tidak kalah penting untuk diwaspadai, meÂnurut Aman, adalah perÂkemÂbangan psikologis anak. Ada lebih banyak risiko yang dihadapi ketika anak dewasa terlalu cepat dibandingkan jika sesuai dengan usianya.
Menurut dia, menjadi dewasa terlalu cepat memang tidak berÂhubungan dengan perilaku seks berisiko, tetapi bisa meÂningÂkatÂkan risiko bila dikaitkan keÂmatangan emosional. Gairah seks yang meningkat pada masa puÂbertas tentu bisa berbahaya, jika kontrol emosinya belum matang.
“Tingkat krisis penyakit ini terjadi ketika tubuh kekurangan cairan dan garam, sementara keÂlenjar adrenal tidak mampu memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang cukup untuk mengantisipasinya, dan itu bisa menyebabkan kematian,†kata Aman yang merupakan Ketua EnÂdokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada teÂmu media beserta pasien peÂngidap HAK di Jakarta, Minggu (18/11).
Gangguan fungsi kelenjar adrenal, kata Aman, juga meÂnyebabkan sang anak sering muntah-muntah, menyusui tidak bagus dan selalu tampak lemas.
Ketua Komunitas Keluarga Hiperplasia Adrenal Kongenital Indonesia (KAHAKI), Kusuma Adiwijaya mengungkapkan, prevalansi global di seluruh dunia untuk kelainan ini sekitar 1 dari 10.000 sampai 18.000 bayi yang lahir mengidap kelainan kelenjar bawaan.
“Di Indonesia, tahun ini ada sekitar 300 penyandang adrenal yang tersebar di 13 provinsi. Di antaranya, Sumatera, Jawa, KaÂlimantan, Bali dan Sulawesi. Umur penyandang Adrenal pun bervariasi mulai baru lahir hingga 32 tahun,†ungkap Kusuma.
Dari jumlah penyandang adreÂnal yang mampu bertahan hingÂga dewasa, kata Kusuma, keÂbanyakan berjenis kelamin peÂrempuan karena lebih mudah dideteksi.
Sementara pada laki-laki lebih sulit dan sering terabaikan, seÂhingga tidak tertangani dan akhirnya meninggal karena krisis kelenjar adrenal.
“Keduanya memiliki pengaruh yang sangat luas, seperti berÂpengaruh pada perubahan linÂtasan metabolisme karbohidrat, protein dan lipid serta modulasi keseimbangan, antara air dan cairan elektrolit tubuh yang damÂpak pada seluruh sistem tubuh, seperti sistem kardiovaskular,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12