Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Izin, Label & Efek Samping Kemasan Harus Diperhatikan

JUMAT, 23 NOVEMBER 2012 | 08:00 WIB

.Peredaran suplemen ma­ka­nan lewat layanan Multi Level Marketing (MLM) sedang dalam pengawasan ketat Badan Penga­was Obat dan Makanan (BPOM). Di­duga kuat banyak produk sup­lemen tanpa izin edar yang mem­­­ba­ha­yakan kesehatan.

“Produk MLM masuk penga­wasan kami, karena ditengarai ter­dapat produk suplemen tanpa izin edar,” kata Direktur Ins­pek­si dan Sertifikasi Obat Tra­disional, Kos­metik dan Pro­duk Kom­ple­men­ter BPOM Su­kir­man Said Umar.

Menurutnya, saat ini ma­sya­ra­kat Indonesia mudah terbuai de­ngan jargon teknologi western atau yang berasal dari luar negeri sehingga produk MLM menjadi pilihan untuk mendapatkan sup­lemen tersebut di pasar.

“Promosi gencar yang dila­ku­kan MLM mulai dari men­jan­ji­kan efek yang bombastis pada brosur, memuat testimoni yang diklaim berasal dari pasien, sam­pai meng­- gu­nakan model tenaga ahli kese­hatan sehingga me­nimbulkan ke­san bahwa su­ple­men itu me­miliki efek luar biasa untuk kese­hatan,” ucapnya.

Dia mengingatkan, suple­men yang diperjualbelikan harus me­miliki izin BPOM serta men­cantumkan label di kemasan mau­pun efek samping, keguna­an dan aturan pakainya sebagai ja­minan kesehatan.

”Kalau tak ada label, izin dan lainnya sebaiknya tidak di­beli atau dihindari peng­gu­na­an­nya karena itu bisa menye­bab­kan gangguan kesehatan pada or­gan tubuh,” warning Sukirman.

Menurutnya, BPOM telah  mem­­batasi peredaran suplemen ma­kanan dengan beberapa pera­turan, yakni Peraturan Ke­pa­la Ba­dan POM No. HK.00.05.23.3644 soal suplemen makanan.

Dia menerangkan, suplemen makanan harus me­menuhi unsur kebu­tuhan zat gizi makanan, me­ng­andung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mi­neral, asam amino atau bahan lain (berasal da­ri tumbuhan atau bukan tum­buhan) yang mem­punyai nilai gizi dan atau efek fisiologis da­lam jumlah ter­kon­sentrasi.

“Konsumsi su­plemen yang berlebihan dan tidak tepat, bisa menyebabkan gang­guan kese­hat­an. Vitamin larut lemak, jika di­konsumsi berlebih bisa me­ning­katkan kerja ginjal dan tok­sisitas (kadar racun),” cetus Sukirman. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Gubernur BI pun Ikut Mundur, Ada Apa Ini Guru?

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:15

Rumah Bedeng di Lebak Bulus Kebakaran

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00

Timnas Garuda Hadapi Timor Leste pada 31 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:30

Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:21

Presiden Harus Tindak Tegas Londo Ireng yang Merugikan Kepentingan Bangsa

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:19

Orang Tak Percaya Perry Warjiyo Mundur karena Alasan Pribadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:33

83 Penonton Jadi Korban Tribun GOR Satria Banyumas Roboh

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:18

Ahok Ungkap Awal Pecah Kongsi dengan Jokowi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:00

Nama Bupati KBB Jeje Ritchie Dicatut untuk Jual Jabatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:35

Hantu itu Masih Gentayangan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:18

Selengkapnya