Berita

amir syamsudin/ist

Politik

Menteri Amir: Pemberian Grasi SBY ke Ola Tidak Pantas Diolok-olok

SELASA, 13 NOVEMBER 2012 | 17:33 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemberian grasi adalah kewenangan konstitusi dan sudah sakral oleh presiden, sehingga tidak pantas diperolok-olokkan lagi. Sebab, grasi terpidana narkoba sekalipun juga, sudah berjalan jauh sebelum Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden.

Begitu dikatakan Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta (Selasa, 13/11).

"Dalam grasi itu pada umumnya penuh, dan presiden SBY hanya mengurangi saja. Baik Corby dan Ola hanya mengurangi saja. Ola dari hukuman mati ke seumur hidup,"  kata Amir.


Sebenarnya, Menteri amir sendiri tak terlalu mempermasalahkan Grasi yang diberikan Presiden terhadap Ola itu. Sebab, Grasi tersebut diberikan sebelum dia memangku jabatan sebagai menteri.

"Ola ini saya belum menteri, tapi tidak persoalan, sedangkan corby saya yang setuju, dan MA pun juga setuju pada pemberian grasi gorbi. Saya juga bertanggung jawab atas grasi Deni Maharwan," ungkapnya.

Selebihnya, politikus partai Demokrat itu mengatakan kalau tidak ada yang salah dalam grasi Ola. Kalau ternyata Ola mengkhianati kemurahan hati presiden, itu tanggung jawab Ola.

Soal apakah Kalapas tempat Ola ditahan terlibat, Menteri Amir belum bisa memastikannya.

"Itu sekarang diusut, siapa yang terlibat. Sabar ini sedang diusut," demikian Amir. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya