Berita

PENGGELAPAN PAJAK

Satu Hakim Tidak Sepakati Vonis Dhana

JUMAT, 09 NOVEMBER 2012 | 22:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Seorang hakim tidak sepakat atau dissenting opinion terhadap vonis tujuh tahun dan denda Rp 300 juta yang dijatuhkan kepada terpidana kasus pengelapan pajak Dhana Widyatmika. Hakim itu adalah Alexander Marwata.

"Terkait menerima gratifikasi, harus jelas penerima gratifikasi dan pemberi gratifikasi. Terdakwa tidak pernah menerima atau menikmati sendiri. Karena transfer uang tidak ada hubungannya dengan terdakwa selaku PNS Direktorat Jenderal Pajak," ujar Marwata dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Jumat, (9/11).

Karenanya, semua dakwaan jaksa penuntut umum yakni dakwaan pertama primer Pasal 12 B ayat 1 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat 1 KUHP, subsider Pasal 11 UU Tipikor, dakwaan kedua primer Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 UU tipikor, subsider Pasal 3 jo Pasal 18 UU Tipikor tidak terbukti.

Dakwaan kedua, kedua primer yang memuat Pasal 12 huruf e UU Tipikor, dan kedua subsder Pasal 12 huruf g UU Tipikor pun ditolak Alexander. Begitu juga Pasal 3 UU Nomor 8 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

"Kesimpulan JPU jelas tidak logis dan tidak masuk akal," ungkapnya.

Menurutnya, uang yang masuk ke rekening Dhana sebesar Rp 3,4 miliar dengan rincian Rp 2 miliar adalah hanya penyertaan modal saksi Herly Isdiharsono untuk bisnis mobil dengan Dhana. Sisanya Rp 1.4 miliar dipakai Herly untuk membeli rumah di Rawamangun.

Sedang, Mandiri Traveller Cheque Rp 750 juta dari saksi Yanuar tidak ada hubungannya dengan Dhana. Karena selama bertugas di Pajak, Dhana tidak pernah bertugas di Batam. MTC itu sendiri dibeli Dhana karena ingin membantu temannya yang membutuhkan uang tunai.

"Tidak ada satu saksipun kenal dan berhubungan dengan terdakwa," ujarnya.

Dengan tidak terbuktinya dakwaan pertama dan dakwaan kedua sebagai dasar pidana awal, jelas Marwata, maka dakwaan ketiga berupa UU Tindak Pidana Pencucian Uang tidak bisa dikenakan kepada Dhana. Alexander mengibaratkan, jaksa ibarat ingin menangkap ikan paus dengan memakai teri.

Namun, Marwata tetap melihat ada kesalahan yang dilakukan Dhana yaitu dituntut membayar kewajiban pajak atas harta yang didapatnya. Ia pun menyangsikan Dhana tidak mengetahui soal pajak lantaran dirinya sebagai pegawai negeri pajak.

"Unsur kesengajaan dapat dikenakan kepada terdakwa sebagai pajak," pungkasnya. [arp]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya