ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Puskesmas merupakan ujung tombak layanan kesehatan primer (umum) agar bisa mengatasi masalah kesehatan sebelum meÂrujuk pasien ke rumah sakit lebih dulu. Secara umum, Puskesmas harus dilengkapi layanan dan fasilitas yang memadai, guna menunjang layanan kesehatan bagi masyarakat.
Hal ini berbeda dengan keÂadaan dan mutu layanan PusÂkesmas di DKI Jakarta yang jauh lebih baik dan sudah memenuhi kriteria Badan Penetap Standar Internasional (International OrÂgaÂnization for Standardization/ISO), yang melaksanakan sistem operasional 24 jam dan layanan rawat inap.
“Mayoritas Puskesmas di JaÂkarta sudah berstandar ISO. Jadi, sistem dan prosedur layanannya sudah baik. Bahkan, fasilitas Puskesmas di Kepulauan Seribu saja sudah lengkap,†kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kepulauan Seribu Edison Sahputra di Jakarta, kemarin.
Begitu pula sumber daya maÂnusia (SDM) yang terus ditingÂkatkan lewat pelatihan peÂningÂkatan kemampuan tenaga medis di setiap Puskesmas di DKI Jakarta. Misalnya, para tenaga kedokteran seperti perawat dan bidan telah mengikuti kegiatan seminar pelatihan peningkatan kemampuan pada alat medis ultrasonography.
“Dari keseluruhan Puskesmas yang ada di kecamatan sudah 100 persen punya ISO dan untuk tingkat Kelurahan mencapai 80 persen. Dengan begitu Jakarta siap melaksanakan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014 menÂdatang,†kata Edison.
Menurut Edison, angka caÂkupan keseluruhan fasilitas serta SDM untuk Puskesmas di JaÂkarta, sudah cukup baik, maka tidak ada lagi kendala yang mungkin bisa menghambat progÂram tersebut.
Saat ini, katanya, bagaimana pemerintah dan pihak terkait untuk menjalankan program peÂmerataan kesehatan untuk seluruh warga Indonesia (universal coÂverage) di 2014 mendatang.
Menyongsong pemberlakuan BPJS pada 2014 mendatang, tak bisa dipungkiri angka 20 persen tersebut harus segera dituntaskan. “Selama ini, Puskesmas memang berfungsi untuk membantu maÂsyarakat dalam mendapatkan biaya pengobatan menjadi lebih murah. Dokter di pelayanan priÂmer harus mampu berfungsi seÂbagaimana mestinya,†kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sudipratomo.
Menurut dia, dokter spesialis hanya bekerja sesuai ahlinya. Pasalnya, dokter umum telah lebih dulu mengatasi permaÂsalahan kesehatan secara umum lewat pemeriksaan di Puskesmas.
Hal tersebut mampu membantu masyarakat, untuk mendapatkan pengobatan dan layanan keseÂhatan jauh lebih murah jika diÂbanÂdingkan berobat di rumah sakit.
Ketua Bidang Sistem PelaÂyanan Kedokteran Terpadu dari IDI Gatot Soeton mengatakan, pemeÂrinÂtah saat ini memÂbuÂtuhÂkan 60.000 dokter lapangan yang memiliki orientasi sebagai dokter umum.
Menurut dia, sistem pendiÂdikan kedokteran saat ini harus mampu mencetak dokter yang menjadi pelayanan primer atau umum. Pelayanan sekunder atau spesialis dan sub spesialis tetap ada jika memang dibutuhkan.
“Dari 5.000-6.000 lulusan dokÂter tiap tahun belum disiapkan untuk menjadi dokter pelayanan primer,†ungkap Gatot. Apalagi, sistem pelayanan kesehatan hingÂga saat ini belum ada regulasinya.
Kondisi ini dijadikan kesemÂpatan dalam bisnis rumah sakit untuk memanfaatkan kurangnya pengetahuan masyarakat terÂhadap sistem pelayanan primer. “Maka terjadilah komersialisasi besar-besaran dalam pelayanan kesehatan dan ada kecenÂdeÂrungan dokter umum tidak diÂbutuhkan,†katanya.
Padahal, kata Gatot, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1974 telah menganjurkan sistem berbasis pelayanan primer. Dimana seluruh penduduk suatu negara harus mengutamakan pelayanan dokter umum dan selanjutnya menggunakan pelayanan dokter spesialis atau sub spesialis. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12