ilustrasi, haji
ilustrasi, haji
Coronavirus merupakan viÂrus penyebab infeksi saluran naÂpas akut pada manusia, yang pada tahun lalu menimpa jamaÂah haji di Arab Saudi. Bahkan hingÂga kini, belum ditemukan caÂra peÂnanggulangan terhadap virus terÂsebut. Penularan virus ini pun biÂsa terjadi lewat bersin atau batuk dari orang yang terÂinfeksi virus tersebut.
Selain menginfeksi manusia, coronavirus juga bisa menyerang binatang seperti babi, anjing, kuÂcing, tikus, kelinci, ayam dan saÂpi. Pada binatang-binatang ini, infeksi coronavirus umumnya juga menyebabkan gejala gangÂguan pernapasan (pneumonia), seperti halnya pada manusia.
Direktur Jenderal PeÂngenÂdalian Penyakit dan Penyehatan LingÂkungan (Dirjen P2PL) KeÂmenÂteÂrian Kesehatan (KeÂmensÂke) Prof Tjandra Yoga Aditama mengÂimbau, para calon haji Indonesia untuk tetap waspada terÂhadap temuan virus baru tersebut.
“Sejauh ini, belum ada jamaÂah haji Indonesia yang positif terÂkeÂna infeksi coronavirus. Data duÂÂnia juga menunjukkan tidak ada penambahan kasus coronaÂvirus baru yang semenÂÂ- taÂra ini diberi nama LonÂdon1_novel CoV 2012,†ujar Tjandra di JaÂkarta, Kamis (27/9).
Untuk memastikan analisa viÂrus tersebut, Tjandra sedang meÂlakukan analisa virus comÂplette genome, di mana dilakuÂkan peÂnyuntikan virus ini ke biÂnatang percobaan dan kemuÂdian dilihat, apa akibat yang terÂjadi paÂda biÂnatang itu.
Kewaspadaan terhadap strain baru coronavirus pun telah dilaÂkuÂkan dengan memperbaharui (upÂdate) perkembangan kasus coÂronavirus melalui internet, meÂdia lokal di Arab Saudi serta arahÂÂan dari Kementerian Kesehatan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menemukan dua korÂÂban yang terkena infeksi viÂrus baÂru ini pada Minggu (23/9). Kasus pertama menimpa warga Saudi Arabia (60), meninggal. PaÂda paÂsien ini, ditemukan virus yang miÂrip dengan coronavirus.
Sementara kasus kedua diÂalami warga negara Qatar (49), ada riÂwaÂyat perjalanan ke Saudi AraÂbia, juga kulturnya meÂnunÂjukkan coronavirus. Ternyata coÂronaÂvirus pasien kedua ini 95 persen identik dengan kasus perÂtama. Pasien kasus kedua ini, masih dirawat di London deÂngan gagal napas dan gagal ginjal.
Selama ini, coronavirus meÂmang diketahui menjadi penyeÂbab sindrom pernapasan akut (Severe Acute Respiratory SynÂdrome/SARS). Setelah melalui masa yang cukup lama, akhirnya WHO mengumumkan bahwa yang menjadi dalang SARS adaÂlah coronavirus.
Menurut Tjandra, SARS-coÂroÂnavirus bila tidak segera ditaÂngaÂni bisa menyebabkan keÂmatian. Apalagi jumlah penÂdeÂritanya setiap tahun semakin berÂtambah di seluruh dunia. Virus ini perÂtama kali diisolasi tahun 1965, bermula saat seÂorang anak yang menampakan gejala pilek (comÂmon cold), yang biasanya diseÂbabkan oleh infeksi RhinoÂvirus atau virus Influenza.
Namun kenyataannya, sangat sulit membedakan antara gejala infeksi rhinovirus, virus InÂfluÂenza dan coronavirus. “Hal ini juga yang menjadi kendala unÂtuk menentukan virus penyebab SARS,†jelas Tjandra.
Karena itu, tak bisa diÂpungkiri bahwa virus penyebab SARS adaÂÂlah coronavirus yang sudah berÂÂmutasi. Namun, katanya, viÂrus ini tidak stabil di udara dan hanya mampu hidup selama tiga jam, sehingga kecil sekali keÂmungÂkinan penularan lewat udara.
Kemungkinan besar penularan virus adalah lewat bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kepada orang yang dekat deÂngannya. “Cara yang termudah untuk menghindari virus ini, adalah dengan menjaga keÂseÂhatÂan dan kebersihan serta memakai masker di lokasi yang padat,†saran Tjandra.
Namun, Tjandra meminta para calon haji untuk tidak khawatir deÂngan diÂteÂmuÂkannya virus baru jenis coÂroÂnavirus. PaÂsalnya, pihak KeÂmenÂterian Agama (KeÂmenag) telah beÂkerÂja sama deÂngan KeÂmenÂkes dalam peningÂkatan surÂveillance keÂwasÂpadaan jamaah haji yang datang di banÂdara. Termasuk jaÂmaah sakit yang berÂkunjung ke poliklinik keÂsehatan Indonesia di airport, poÂli OcÂtagon, Jeddah, Arab Saudi.
“Kami mengharapkan agar surÂveillance dilakukan secara keÂtat di tingkat kloter, terutama peÂngawasan jamaah sakit deÂngan tanda-tanda mirip kasus coÂronavirus,†harapnya.
Kepala Bidang Kesehatan Haji di Arab Saudi Azimal Zainal Zein menyatakan, virus ini biaÂÂsanya terjadi di wilayah terÂtentu, seperti Vietnam. Ada keÂmungÂkinÂan, virus itu terbawa oleh pasien yang masuk ke Arab Saudi.
Untuk itu, ia mengimbau, agar calon haji menjaga asupan giziÂnya dengan mengkonsumsi vitaÂmin, serta istirahat yang cukup. Sebab, jamaah haji rentan keleÂlahan usai menjalankan ritual haji, sehingga berpotensi meÂnurunkan daya tahan tubuh.
“Menjaga asupan nutrisi yang sehat sangat penting dan hindari konsumsi gorengan dan miÂnuÂman dingin. Sebaiknya minum air yang tidak dingin minimal 8-10 gelas sehari dan saat berada daÂlam keramaian, para jamaah diÂsaÂrankan menggunakan masÂker,†imbau Azimal. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12