ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Stunting merupakan penyakit yang ditimbulkan akibat kekuÂrangan nutrisi (malnutrisi). KeÂjaÂdian malnutrisi tidak hanya diÂseÂbabkan oleh kekurangan zat gizi makro, tetapi juga disebabkan oleh kekurangan zat gizi mikro.
Penyakit ini dapat terlihat keÂtika memasuki umur dua tahun, anak tersebut masih terlihat penÂdek dari anak sebayanya. Ini meÂruÂpakan keadaan kekurangan nuÂtrisi yang sangat kronis pada anak.
Dokter dari Divisi FetoÂmaÂterÂnal Departemen Obstetri GiÂneÂkologi Fakultas Kedokteran UniÂversitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Noroyono WiÂboÂwo meÂngatakan, nutrisi meÂruÂpakan asuÂpan yang paling penting pada maÂÂsa kehamilan ibu untuk menjaga kesehatan bayi saat lahiri.
“Penyakit ini banyak terjadi paÂda anak laki-laki yang tinggi badannya lebih rendah enam hingga 10 sentimeter (cm) dari tinggi normal. Bahkan hal ini juÂga mempengaruhi perkemÂbaÂngan otaknya yang lebih kecil dibanÂdingkan anak lainnya,†jelas NoÂroÂyono Wibowo dalam acara simÂposium mengenai penÂtingnya pemenuhan gizi seÂbelum dan selama kehamilan di Jakarta, Minggu (16/9).
Menurutnya, kekurangan nuÂtrisi (malnutrisi) menjadi masalah utama kesehatan masyarakat yang terjadi pada negara-negara berkembang yang kerap meÂnimpa pertumbuhan bayi, anak, dan wanita usia produktif.
Bahkan di negara berkembang, diperkirakan ada sekitar 12 juta anak di bawah 5 tahun meninggal tiap tahunnya disebabkan oleh peÂnyakit infeksi dan malnutrisi, diÂmana setengah dari kematian terÂsebut disebabkan oleh malnutrisi.
Stunting atau keterlambatan pertumbuhan linear adalah seÂbuah masalah yang umumnya meÂnimpa anak-anak di negara-negara miskin. Ethiopia misalÂnya, kekurangan gizi dan peÂnyaÂkit infeksi adalah merupakan maÂsalah terdepan di negara terÂsebut, di mana pada tingkat naÂsional terdapat 64 persen anak-anak EtÂhioÂpia di bawah 5 tahun terkena stunting berat.
Menurut data dari CooÂpeÂrative State Research, EduÂcation, and Extension Service, Amerika SeÂrikat , stunting pada usia dini, berÂhubungan dengan kejadian keÂmunduran mental pada tingkat intelegensi anak, perkembangan psikomotorik, kemampuan moÂtorik yang baik, dan integrasi saraf-saraf neuron
Namun berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, jumlah anak yang mengÂalami berat badan (wasting) dan stunting, justru mengalami peÂnurunan dibandingkan dengan data tahun 2007.
Prevalensi kasus kekurangan gizi, pada anak balita di Indonesia mencapai 17,9 persen pada 2010. Sebanyak 35,6 persen anak balita mengalami stunting dan 13,3 persen anak bertubuh kurus.
Sebaliknya, terdapat tren keÂnaikan pada jumlah anak yang menderita kelebihan berat badan, yakni dari 12,2 persen di 2007 menjadi 14 persen di 2010. “Di Indonesia, justru saat ini kita masih menghadapi masalah beÂban ganda gizi (double burden), yakni masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada anak,†cetus dokter yang juga aktif di kepeÂngurusan Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) ini.
Dia menjelaskan, penyebab stunting terjadi sejak masa kanÂdungan, karena kandungan tidak mendapatkan gizi yang tepat untuk pertumbuhan janin. AsuÂpan makanan yang masuk ke dalam tubuh sang ibu, kadang tak berdasarkan gizi seimbang yang diperlukan tubuh.
Ditambah lagi, sang ibu tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Untuk itu, kata Bowo, pemenuhan gizi ibu dan bayi sangat ditekankan sejak anak berada 1.000 hari di dalam kanÂdungan. Namun, fase pemenuhan gizi yang paling efektif seÂhaÂrusnya dimulai sebelum masa kehamilan dan 12 minggu perÂtama masa kehamilan.
“Pemenuhan gizi sangat penÂting dilakukan oleh calon ibu dan bayi dalam rangka memÂperÂsiapÂkan bayi agar hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit degeÂneÂratif, seperti jantung, diabetes dan hipertensi,†ujar dokter Bowo.
Untuk itu, ibu harus memenuhi masa kehamilannya dengan berÂbagai asupan gizi seimbang, seperti asam folat, Vitamin B12, Vitamin B6, Vitamin A, antiÂokÂsidan, zat besi, zinc dan tembaga.
Staf Divisi Nutrisi dan PeÂnyakit Metabolisme Departemen Anak RSCM Yoga Devaera meÂnegaskan, jika masalah gizi maupun kesehatan tidak di atasi dalam rentang usia dini, maka akan berdampak negatif pada usia anak di masa mendatang.
“Pada masa 24 bulan pertama setelah kelahiran merupakan masa yang harus dijaga, karena masa tersebut periode penting untuk tumbuh kembang anak yang optimal,†katanya.
Menurutnya, pemberian nutrisi tidak hanya diberikan pada masa kehamilan, tetapi setelah lahir pun harus tetap dijaga asupan gizinya melalui Makanan PenÂdamping Air Susu Ibu (MP-ASI).
“Tingginya kasus gizi kurang di Indonesia perlu diatasi sejak dini. Setelah pemberian air susu ibu ekÂsklusif selama enam bulan perÂtaÂma, perlu dipastikan keÂseimbangan gizi makanan penÂdamping ASI bagi anak berusia enam bulan hingga dua tahun,†jelas Deva.
Sayangnya, banyak orang tua di Indonesia justru memberikan anaknya pisang, kurma dan madu di usia enam bulan sebagai MP-ASI. Padahal, hal ini berisiko beÂsar bagi saluran cerna bayi, kaÂrena di usianya tersebut, saluran pencernaannya belum siap.
Selain itu, lanjut dia, sering sekali orang tua memaksakan anak untuk mempercepat berat badanÂnya dengan berbagai asuÂpan maÂkanan yang berlebih. Hal ini sangat berisiko jika dilakukan, anak rentan terkena hipertensi dan diabetes.
“Biarkan anak mengalami tumbuh kembangnya secara waÂjar, kalau pun ketika lahir berat badan anak kurang, ibu cukup memberikan anak dengan ASI secara eksklusif,†sarannya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12