Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Bayi Bisa Lahir Bertubuh Pendek

Kurang Asupan Gizi Pada Masa Kehamilan Ibu
MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012 | 08:06 WIB

.Kurangnya asupan gizi saat ibu hamil, bisa menyebabkan pertumbuhan bayi saat dilahirkan menjadi stunting (bertubuh pendek). Selain itu, sang bayi rawan terkena penyakit degeneratif, seperti jantung, diabetes dan hipertensi. Makanya, asupan gizi yang cukup bagi ibu hamil sangat penting.

Stunting merupakan penyakit yang ditimbulkan akibat keku­rangan nutrisi (malnutrisi). Ke­ja­dian malnutrisi tidak hanya di­se­babkan oleh kekurangan zat gizi makro, tetapi juga disebabkan oleh kekurangan zat gizi mikro.

Penyakit ini dapat terlihat ke­tika memasuki umur dua tahun, anak tersebut masih terlihat pen­dek dari anak sebayanya. Ini me­ru­pakan keadaan kekurangan nu­trisi yang sangat kronis pada anak.

Dokter dari Divisi Feto­ma­ter­nal Departemen Obstetri Gi­ne­kologi Fakultas Kedokteran Uni­versitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Noroyono Wi­bo­wo me­ngatakan, nutrisi me­ru­pakan asu­pan yang paling penting pada ma­­sa kehamilan ibu untuk menjaga kesehatan bayi saat lahiri.

“Penyakit ini banyak terjadi pa­da anak laki-laki yang tinggi badannya lebih rendah enam hingga 10 sentimeter (cm) dari tinggi normal. Bahkan hal ini ju­ga mempengaruhi perkem­ba­ngan otaknya yang lebih kecil diban­dingkan anak lainnya,” jelas No­ro­yono Wibowo dalam acara sim­posium mengenai pen­tingnya pemenuhan gizi se­belum dan selama kehamilan di Jakarta, Minggu (16/9).

Menurutnya, kekurangan nu­trisi (malnutrisi) menjadi masalah utama kesehatan masyarakat yang terjadi pada negara-negara berkembang yang kerap me­nimpa pertumbuhan bayi, anak, dan wanita usia produktif.

Bahkan di negara berkembang, diperkirakan ada sekitar 12 juta anak di bawah 5 tahun meninggal tiap tahunnya disebabkan oleh pe­nyakit infeksi dan malnutrisi, di­mana setengah dari kematian ter­sebut disebabkan oleh malnutrisi.

Stunting  atau keterlambatan pertumbuhan linear adalah se­buah masalah yang umumnya me­nimpa anak-anak di negara-negara miskin. Ethiopia misal­nya, kekurangan gizi dan pe­nya­kit infeksi adalah merupakan ma­salah terdepan di negara ter­sebut, di mana pada tingkat na­sional  terdapat  64 persen anak-anak Et­hio­pia di bawah 5 tahun terkena stunting berat.

Menurut data dari Coo­pe­rative State Research, Edu­cation, and Extension Service, Amerika Se­rikat , stunting pada usia dini, ber­hubungan dengan kejadian ke­munduran mental pada tingkat intelegensi anak, perkembangan psikomotorik, kemampuan mo­torik yang baik, dan integrasi saraf-saraf neuron

Namun berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, jumlah anak yang meng­alami berat badan (wasting) dan stunting, justru mengalami pe­nurunan dibandingkan dengan data tahun 2007.

Prevalensi kasus kekurangan gizi, pada anak balita di Indonesia mencapai 17,9 persen pada 2010. Sebanyak 35,6 persen anak balita mengalami stunting dan 13,3 persen anak bertubuh kurus.

Sebaliknya, terdapat tren ke­naikan pada jumlah anak yang menderita kelebihan berat badan, yakni dari 12,2 persen di 2007 menjadi 14 persen di 2010. “Di Indonesia, justru saat ini kita masih menghadapi masalah be­ban ganda gizi (double burden), yakni masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada anak,” cetus dokter yang juga aktif di kepe­ngurusan Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) ini.

Dia menjelaskan, penyebab stunting terjadi sejak masa kan­dungan, karena kandungan tidak mendapatkan gizi yang tepat untuk pertumbuhan janin. Asu­pan makanan yang masuk ke dalam tubuh sang ibu, kadang tak berdasarkan gizi seimbang yang diperlukan tubuh.

Ditambah lagi, sang ibu tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Untuk itu, kata Bowo, pemenuhan gizi ibu dan bayi sangat ditekankan sejak anak berada 1.000 hari di dalam kan­dungan. Namun, fase pemenuhan gizi yang paling efektif se­ha­rusnya dimulai sebelum masa kehamilan dan 12 minggu per­tama masa kehamilan.

“Pemenuhan gizi sangat pen­ting dilakukan oleh calon ibu dan bayi dalam rangka mem­per­siap­kan bayi agar hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit dege­ne­ratif, seperti jantung, diabetes dan hipertensi,” ujar dokter Bowo.

Untuk itu, ibu harus memenuhi masa kehamilannya dengan ber­bagai asupan gizi seimbang,  seperti asam folat, Vitamin B12, Vitamin B6, Vitamin A, anti­ok­sidan, zat besi, zinc dan tembaga.

Staf Divisi Nutrisi dan Pe­nyakit Metabolisme Departemen Anak RSCM Yoga Devaera me­negaskan, jika masalah gizi maupun kesehatan tidak di atasi dalam rentang usia dini, maka akan berdampak negatif pada usia anak di masa mendatang.

“Pada masa 24 bulan pertama setelah kelahiran merupakan masa yang harus dijaga, karena masa tersebut periode penting untuk tumbuh kembang anak yang optimal,” katanya.

Menurutnya, pemberian nutrisi tidak hanya diberikan pada masa kehamilan, tetapi setelah lahir pun harus tetap dijaga asupan gizinya melalui Makanan Pen­damping Air Susu Ibu (MP-ASI).

“Tingginya kasus gizi kurang di Indonesia perlu diatasi sejak dini. Setelah pemberian air susu ibu ek­sklusif selama enam bulan per­ta­ma, perlu dipastikan ke­seimbangan gizi makanan pen­damping ASI bagi anak berusia enam bulan hingga dua tahun,” jelas Deva.

Sayangnya, banyak orang tua di Indonesia justru memberikan anaknya pisang, kurma dan madu di usia enam bulan sebagai MP-ASI. Padahal, hal ini berisiko be­sar bagi saluran cerna bayi, ka­rena di usianya tersebut, saluran pencernaannya belum siap.

Selain itu, lanjut dia, sering sekali orang tua  memaksakan anak untuk mempercepat berat badan­nya dengan berbagai asu­pan ma­kanan yang berlebih. Hal ini sangat berisiko jika dilakukan, anak rentan terkena hipertensi dan diabetes.

“Biarkan anak mengalami tumbuh kembangnya secara wa­jar, kalau pun ketika lahir berat badan anak kurang, ibu cukup memberikan anak dengan ASI secara eksklusif,” sarannya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya