ilustrasi, Artritis Reumatoid
ilustrasi, Artritis Reumatoid
Artritis Reumatoid bukan lah penyakit rematik. Penyakit ini merupakan penyakit auÂtoimun yang menyebabkan peradangan sendi kronik dan belum diketahui penyebabnya.
Menurut Dokter Divisi ReÂmaÂtologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas KeÂdokÂteran UniÂversitas IndoÂnesia (FK-UI) RuÂmah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Harry Isbagio, penyakit ini jangan diÂanggap remeh karena bisa meÂrusak persendian tulang dalam tubuh. Penderita penyaÂkit juga sering mengalami deformaÂsi (peÂrubahan bentuk) sendi seÂhingÂga keÂhiÂlangan moÂbilitasnya.
“Para medis pun banyak yang belum mengetahui penyakit terÂsebut. Kebanyakan dokter menÂcurigai pasien hanya mengÂalami asam urat atau rematik berdaÂsarkan nyeri yang dilaÂporÂkanÂnya,†kata Harry, Jumat (14/9).
Di Indonesia, jumlah penÂderita AR diperkirakan sekitar 0,1-0,3 persen dari jumlah penÂduduk dan lebih banyak menyeÂrang orang dewasa dan wanita. Gejala utama penyakit ini selain bengkak dan keÂmerahan adalah nyeri pada baÂnyak sendi.
“Kebanyakan sendi yang diÂserang kiri dan kanan. MiÂsalnya, pundak kiri dan kanan atau keÂdua bagian tangan. Ciri lainnya, adaÂnya benjolan serta rasa keÂlelahÂan,†paparnya.
Meski jumlah penderita AR seÂdikit, namun penyakit ini saÂngat progresif dan paling banyak meÂnyebabkan kecaÂcatan. “PerÂsenÂdian akan mengÂalami keruÂsakan mulai terjadi pada 6 bulan perÂtama dan jika tidak diobati bisa terjadi cacat dalam 2-3 tahun dan itu perlu diwaspadai,†ujarnya.
Menurut Harry, pengobatan utama penyakit AR adalah untuk memperbaiki fungsi senÂdi, menÂcegah kecacatan dan disabilitas. “Belum ada obat menyembuhkan penyakit ini. Obat yang sekarang ada haÂnyaÂlah untuk mengurangi gejala dan mencegah penyakit. MaÂsyaÂrakat diharapkan mewasÂpadai gejala penyakit tersebut,†warning-nya.
Head Of Medical ManaÂgeÂment PT Roche Indonesia Arya WibiÂtomo mengatakan, penyaÂkit ini sulit dideteksi dan keÂbaÂnyakan orang maupun dokter mengÂanggap itu penyakit reÂmatik. “Penyakit ini sulit disemÂbuhkan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan seÂcara total penyakit tersebut,†katanya.
Namun, penderita AR tak perlu risau lagi, karena telah ditemukan terapi pengobatan berbasis bioÂlogi terbaru, yang disinyalir dapat memberikan efek penyembuhan signifikan. Terapi pengobatan yang dikenal dengan tocilizumab ini, kini telah diizinkan sebagai pengoÂbatan di Indonesia.
“Terapi ini merupakan monoÂkrono antibody, mirip antibodi yang terdapat di dalam tubuh, yang didesain sedemikian rupa untuk memburu Interleukin 6 (IL6), dimana IL6 merupakan sistem imun di dalam tubuh, yang meÂmiliki efek yang sangat meÂnyaÂÂkitkan bagi pasien,†ujar Arya.
Menurutnya, tocilizumab meÂrupakan terapi biologi teÂrÂbaru sebagai perkembangan dari obat kimia. Berdasarkan uji klinis lebih dari 4.000 pasien, di 725 pusat studi pada 41 negara di dunia, terapi obat ini memberikan respon klinik yang cepat dan meningkat dari waktu ke wakÂtu. Uji klinik tersebut terdiri dari dua fase II, lima fase III dan dua uji klinik open label extensi.
Selain itu, obat ini dapat meÂnunjukkan adanya perÂbaikan kualitas hidup yang lebih baik, dari penderita, karena penderita dapat melaÂkukan berÂbaÂgai akÂtifitas kemÂbali, dan mengÂhambat risiko kerusakan tulang akibat peraÂdangan sendi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12