ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Harapan Kita, Eka Harmeiwaty menjelaskan, stres di kalangan usia produktif meruÂpakan hal wajar yang sering diÂtemui. Namun stres pada dasarÂnya mengganggu metabolisme yang mengakibatkan tekanan darah, sehingga memicu stroke.
“Begitu juga dengan makan junk food yang praktis dan simpel di sela kesibukan juga tidak baik bagi kesehatan, karena banyak mengandung lemak, garam, dan MSG (garam natrium),†kata Eka dalam diskusi kesehatan di JaÂkarta, Selasa (14/8).
Dikatakannya, tekanan darah tinggi, merokok, diabetes, obeÂsiÂtas dan kolesterol tinggi dapat meÂnyebabkan terkena stroke. Divisi Pencegahan Penyakit Jantung dan Stroke di Amerika SeÂrikat bahkan menemukan, daÂlam 14 tahun periode yang sama telah terjadi peningkatan penÂdeÂrita stroke di kalangan anak muda.
“Diabetes, kolesterol dan pengÂgunaan tembakau, pemicu utama meningkatnya para remaja dan dewasa muda mengalami stroke. Sangat mencengangkan, jika melihat sejauh mana faktor risiko kardiovaskular pada populasi muda. Karena fokus pada peÂngenÂÂdalian risiko ini biasanya ada paÂda kalangan orang tua,†katanya.
Perubahan gaya hidup juga berdampak pada pola hidup tidak sehat. Alhasil, masih muda tetapi bisa terkena penyakit jantung, diabetes, bahkan stroke. Stroke merupakan penyakit defisit neuÂrologi yang bersifat bukan perÂlahan atau mendadak. Hal ini disebabkan karena adanya gangÂguan aliran pembuluh darah di otak. Bahkan stroke pun kini tak hanya menyerang masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan tetapi juga dipedesaan.
“Kalau tiba-tiba terjatuh tanpa ada sebab yang jelas saat duduk, bisa jadi itu pembuluh darah yang mengalir ke otak tidak lancar. Segera periksakan ke dokter agar mengetahui penyebabnya. Sel-sel otak yang dialiri darah itu harus lancar,†sarannya.
Menurut Eka, stroke terdiri dari dua macam, yaitu adanya sumÂbatan pada pembuluh darah atau stroke iskemik dan pecah pemÂbuluh darah atau stroke penÂdarahan. Keduanya dapat menyeÂbabkan aliran suplai darah ke otak terhenti dan muncul lah gejala kematian jaringan otak.
Hal tersebut, katanya, dikaÂrenakan asupan makanan yang tidak bergizi, konsumsi alkohol (pembuluh darah meradang dan bengkak), merokok (zat kimianya menyebabkan dinding pembuluh darah tipis dan keras), kurang berolahraga, bahkan stres di pekerjaan atau keluarga.
“Pasien saya yang masih muda, usia 30 - 35 tahun, kadar kolesÂterol dan trigliserida tinggi, anak muda sudah banyak terkena diabetes. Faktor-faktor itu kan berisiko menyebabkan stroke. Semua itu akibat gaya hidup, mulai saat ini ubah dengan maÂkanan sehat dan rajin olahraga,†papar Eka.
Ia pun terus mendorong kaum muda untuk memulai sejak dini gaya hidup sehat. Karena stroke dapat dicegah melalui olahraga teratur, makanan sehat dan mengÂhindari penyalahgunaan alkohol serta tembakau. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12