Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Awas, Kadar Gula Darah Tinggi Penderita Diabetes Makin Kritis

MINGGU, 29 JULI 2012 | 08:07 WIB

Pasien diabetes seharusnya mengontrol kadar gula darahnya agar tetap mendekati normal. Hal ini penting agar dapat mengurangi risiko masalah pada jantung, mata, ginjal dan saraf, sehingga tak ada komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes.

Apakah setiap pasien diabetes mesti memantau kadar gula darah­nya sendiri setiap hari? Apakah pemeriksaan gula darah di labora­torium saja tidak cukup? Per­ta­nyaan ini sering ditanyakan pasien maupun keluarga pasien diabetes dalam beberapa tahun terakhir ini.

Padahal, melakukan tes darah man­­diri sebenarnya tidaklah ma­salah. Justru hal itu dinilai pen­­ting, mengingat pen­derita mampu me­ngontrol sendiri sebe­ra­pa jauh ka­dar gula dalam darahnya.

Namun, hal itu sering tidak di­pahami penderita. Pasalnya, ada beberapa faktor yang meng­ha­langi mereka mela­kukan tes gula darah mandiri. Faktor-faktor ter­sebut an­tara lain ku­rangnya ke­sadaran me­mantau gula darah mandiri, ham­batan biaya, cara pemakaian, pe­ngeta­huan dalam interpretasi hasil tes dan peng­gunaan alat yang tak akurat yang bisa menyesatkan pengguna.

Kepala Bagian Patologi Klinik Rumah Sakit Dharmais Agus S Kosasih mengemukakan, ada dua jenis tes untuk mengetahui kon­disi metabolisme gula darah pa­sien, yaitu pengukuran Hemo­glo­bin A1c (HbA1c) dan pengu­ku­ran kadar gula darah itu sendiri.

Tes A1c adalah tes labo­ra­to­rium yang sering dilakukan untuk mengukur kondisi metabolisme gula darah secara umum, dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

“Pemeriksaan A1c merupakan cara yang digunakan untuk me­nilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya,” kata Agus dalam seminar media yang ber­sama PT Roche Indonesia di Ja­karta, Selasa (24/7).

Tes ini tidak dapat digunakan untuk menilai hasil pengobatan jangka pendek. Pemeriksaan A1c dianjurkan dilakukan setiap tiga bulan, minimal dua kali dalam setahun.

A1c merupakan tes terdepan bagi pasien diabetes dan dokter yang merawatnya, untuk menge­tahui seberapa baik rencana per­a­watan pasien bekerja, dari waktu ke waktu. Rekomendasi  Per­kum­pulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) pada 2011 me­nya­ta­kan, A1c pasien diabetes se­baik­nya tidak melebihi angka tujuh persen.

Karena kepraktisannya, akti­vitas pemantauan gula darah man­diri, atau yang sering dikenal sebutan Self Monitoring Blood Glucose (SMBG) membantu pa­sien diabetes, mengelola tren gula darahnya sehari-hari di rumah.

Tes gula darah mandiri meng­gunakan glukosa meter juga membantu dokter yang mer­a­watnya, menganalisa pola pele­pasan hormon insulin dalam tu­buh, setelah melihat fluktuasi gula darah harian pasien.

“Dari situ, dokter lebih mudah dalam menetapkan pola pe­ngo­batan yang tepat buat pasien, se­perti pemilihan obat, penyesuaian do­sis obat, pengaturan pola ma­kan dan jenis olahraga yang dian­jurkan. Walaupun demikian, peran glukosa meter tetap tidak meng­gantikan fungsi peme­rik­saan gula darah di laboratorium,” jelas Agus.

Secara etika, hasil tes glukosa meter tidak boleh dijadikan dasar untuk menegakkan diagnosa, yakni penetapan untuk pertama kali apakah seseorang dikatakan terkena diabetes atau tidak.

Peran glukosa meter hanya sebatas monitoring untuk pasien diabetes, merawat agar gula darah penderita tetap terkontrol dalam batas idealnya. Batas ideal kadar gula darah seseorang, sesuai rekomendasi PERKENI 2011 adalah 100 miligram per deciliter (mg/dL) untuk gula darah puasa dan 140 mg per dL untuk gula darah sesudah makan.

Peningkatan prevalensi dia­betes, menggambarkan pen­ting­nya ma­najemen penyakit yang tepat, melalui keberhasilan pe­ngen­dalian kadar gula darah. “Kedua jenis tes ini penting untuk dilaku­kan oleh pasien diabetes karena keduanya saling meleng­kapi dalam proses perawatan diabetes.

Tes gula darah mandiri me­mung­kinkan pasien dan dok­ter untuk mendeteksi kapan dan oleh sebab apa pasien mengalami kadar gula darah tinggi (hiper­glikemia) atau rendah (hipo­glikemia),” papar Agus. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya