ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Gejala yang terjadi bisa berÂbeda-beda, pada masa kanak-kaÂnak, pubertas dan dewasa. Jika terjadi pada masa pertumbuhan dalam kandungan, maka akan mengganggu perkembangan pemÂbentukan organ seks dan kelamin.
Pada janin, umumnya paling mudah untuk dideteksi adalah kelaminnya tidak terlihat jelas. Kromosom bayi harus diperiksa detil, karena bisa saja ketika diÂperiksa itu kromosom X terÂnyata ketika lahir berubah Y.
“Jika tidak, bisa saja saat deÂwasa terjadi ambiguitas keÂlamin,†kata Kepala Divisi MeÂtaÂbolik Endokrinologi DeparÂtemen PeÂnyakit Dalam FKUI-RSCM Em Yunir saat menjadi pembicara daÂlam diskusi keseÂhatan mengenai hipogonadisme ada pria dan maÂsalah keganasan kelenjar tiroid di Jakarta, Jumat (15/6).
Apalagi ketika anak sudah meÂmasuki usia remaja pada usia SMP 11-15 tahun, biasanya di usia tersebut anak sudah mengÂalami perubahan suara. Berlanjut ketika pubertas di usia 15-17 anak laki-laki biasanya sudah tumbuh kumis tipis serta rambut halus (bulu), jerawat pada wajah dan perkembangan seksual lainnya.
Bila tanda-tanda seksual ini tidak ada, orangtua harus segera meÂwaspadai dan melakukan pemeÂriksaan ke dokter, karena bisa saja hal tersebut menjadi gejala awal gangguan hipogonadisme.
“Harus dipastikan hormon tesÂtosteron dalam darahnya renÂdah atau tidak. Jika hormonnya norÂmal, ya tidak masalah,†kata YuÂnir.
Deteksi dini yang dilakukan orangtua juga penting, apalagi jika masa pertumbuhannya anak tidak seperti kebanyakan anak seumurnya.
“Kalau sampai umurnya sudah 20 tahun tapi wajahnya masih seÂperti anak-anak (baby face) juga perlu diwaspadai. Terutama jika buah dada/payudara semakin membesar (ginekomastia) seperti anak perempuan,†ucapnya.
Ginekomastia meruÂpaÂkan pemÂbengkakan pada jariÂngan payuÂdara pada laki-laki, yang diseÂbabkan ketiÂdakÂseÂimÂbangan horÂmon esÂtrogen dan testosteron.
Bayi yang baru lahir, anak laki-laki memasuki masa puber dan orangtua sering mengalami gineÂkomastia sebagai akibat peruÂbahan kadar hormon. Umumnya, ginekomastia bukan masalah serius, tetapi bisa jadi sulit untuk mengatasinya.
Laki-laki dan anak laki-laki dengan ginekomastia kadang-kadang mengalami nyeri di dada mereka dan mungkin merasa malu. Tak hanya itu, gejala yang terlihat ketika memasuki masa pubertas adalah menurunnya perkembangan massa otot, gangÂguan pertumbuhan rambut, gangÂguan pertumbuhan penis dan testis yang lebih kecil dari pada ukuran normalnya.
Pada prosesnya, testis berÂkemÂbang di dalam perut dan biasanya bergerak turun ke tempat perÂmanen yang disebut skrotum. Terkadang satu atau dua testis mungkin tidak turun saat lahir.
Kondisi ini sering terlihat dalam beberapa tahun pertama kehÂidupannya tanpa pengobatan. Jika tidak terdeteksi pada usia dini, maka bisa menyebabkan kerusakan testis dan berÂkuÂrangÂnya produksi testosteron hingga dewasa.
Penyebab hipogonadisme pada anak laki-laki, sebelumnya perlu dicari tahu dulu penyebabnya, apakah ada penyakit lain yang menyertainya, seperti kanker dan penyakit kronis lainnya.
Namun, bisa terjadi jika anak pernah mengalami cedera pada testis, mengingat letak testis dan penis yang berada di luar perut, sangat rentan terhadap cedera.
Hipogonadisme pada anak laki-laki pun bisa diobati dengan pemberian hormon testosteron, yang mampu merangsang puÂbertas dan perkembangan karakÂteristik seks sekunder. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12