Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Waspadai Bentuk Testis Sebesar Telur Puyuh!

MINGGU, 22 JULI 2012 | 08:04 WIB

Bagi kaum adam, waspadalah jika pada usia 15-17 tahun, tetapi secara fisik belum terlihat ciri-ciri menuju dewasa seperti kumis atau rambut halus lain di sekitar tubuh, bahkan wajah yang masih terlihat imut (baby face), maka ada ke­mungkinan Anda meng­ala­mi gangguan hormon tes­tos­teron atau biasa disebut hipogonadisme.

Hipogonadisme merupakan keadaan dimana fungsi testis menjadi menurun, hal ini dise­babkan gangguan interaksi hor­mon seperti androgen dan tes­tos­teron.  Gangguan ini berpengaruh ter­hadap masa perkembangan dan pertumbuhan seseorang.

Kepala Divisi Metabolik En­do­kri­nologi Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM Em Yunir mengatakan, penurunan kadar hormon testosteron pada laki-laki dapat meningkatkan risiko dis­fungsi ereksi, massa lemak tubuh, menurunnya libido, osteoporosis, hingga pertumbuhan testis yang tidak normal, atau bentuknya ham­pir menyerupai telur puyuh.

“Ukuran testis yang tidak normal secara langsung berpe­ngaruh terhadap produksi hor­mon testosteron dan proses sper­matogenesis (pembentukan sper­ma).  Bentuk testis yang terlalu kecil, maka produksi sperma bia­sanya juga lebih rendah baik dalam hal kuantitas maupun kua­litasnya,” kata Yunir.

Bila mencermati faktor penye­babnya, dokter yang juga anggota dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) ini juga menjelaskan, hipogonadisme disebabkan sifat keturunan atau warisan yang efeknya terjadi di kemudian hari, seperti cedera atau infeksi yang terjadi pada testis, pengaruh umur, malnutrisi, obesitas, life style serta memiliki riwayat penyakit kronis yang penyembuhannya mesti me­la­kukan kemoterapi.

“Hipogonadisme juga bisa disebabkan kelainan bawaan pada kromosom seks, X dan Y. Biasanya laki-laki hanya mem­punyai satu kromosom X dan Y, sedangkan pada hipogonadisme, laki-laki memiliki dua atau lebih kromosom X dan satu kromosom Y,” ungkap Yunir.

Kelainan Hipogonadisme se­be­narnya dibagi menjadi dua tipe, yakni hipogonadisme pri­mer dan sekunder. Pada hipo­gonadisme primer dimana ke­lainan terletak pada testis se­hingga akan di­jum­pai kadar testosteron yang ren­dah, disertai hormon gonadotropik.

Pada tipe tersebut, hipogona­disme disebabkan beberapa pe­nyakit yang diduga sebagai pe­micunya, seperti infeksi pada testis atau trauma karena kece­la­kaan pada testisnya, dikebiri serta komplikasi penyakit gon­dongan.

Sedangkan pada hipogona­disme sekunder, testis tumbuh normal tetapi berfungsi secara tidak normal karena masalah hipofisis atau hipotalamus (keru­sakan saraf otak). Ada beberapa pe­nya­kit yang menjadi pemi­cunya, adalah Sindrom Kallmann, obe­sitas, HIV/AIDS dan penuaan.

Di samping menurunkan libido dan disfungsi ereksi (DE), hipo­gonadisme juga dapat me­nye­babkan infertilisasi (mandul) akibat gangguan produksi sperma dalam testis. Bahkan osteoporosis yang lebih sering dialami wanita, juga bisa dialami oleh kaum pria,” urai Yunir.

Sebaliknya, menurut Yunir, hi­po­gonadisme juga bisa terjadi pada wanita, hanya saja karena jum­lah hormon testosteron yang lebih sedikit dibanding hormon estrogen, wanita memiliki risiko yang rendah terhadap penyakit tersebut.

Bahkan, lebih dari itu, Yunir juga menyatakan, selain gang­guan secara fisik, hipogonadisme juga menyebabkan masalah psi­kologis dan hubungan, sehingga perlu mempelajari disfungsi ereksi atau infertilitas.

Untuk melakukan pemeriksaan terhadap risiko gangguan ini, Yunir menyarankan untuk sese­gera mungkin memeriksakan diri ke dokter dengan melakukan pe­meriksaan hormon testosteron.

“Biasanya akan dilakukan pengambilan serum pada testis yang harus dilakukan pada pukul 7 pagi - 11 siang. Dimana pada waktu tersebut kadar hormon testosteron biasanya aktif dipro­duk­si,” ungkapnya.

Kadar testosteron total di atas 350 miligram per desiliter (mg/dl), merupakan batas di mana substitusi testosteron tidak di­perlukan, kadar testosteron  total di bawah 230 mg/dl meru­pakan batas untuk memberikan subs­titusi testosteron. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya