Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Konsumsi Susu Indonesia Paling Rendah di Asia

Daya Beli Masyarakat Minim
MINGGU, 08 JULI 2012 | 08:09 WIB

RMOL.Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih minim. Bahkan dibandingkan negara Asia lainnya, Indonesia masih tertinggal atau menempati urutan keenam dari negara tetangga.

Pencanangan Hari Susu Nasional setiap 1 Juni, menurut  Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Insti­tut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan, harus dija­dikan momentum untuk me­ningkatkan konsumsi susu di Indonesia.

Menurut dia, penyebab ren­dah­nya konsumsi susu dikare­nakan minimnya daya beli mas­yarakat dalam membeli susu ka­rena di­nilai cukup mahal.

“Diharapkan produsen susu yang ada di Indonesia bisa mem­­berikan produk susu de­ngan har­ga yang terjangkau ba­gi ma­sya­rakat Indonesia,” ha­rap Ali dalam acara temu media dan diskusi ke­se­hatan di Jakar­ta, Sabtu (27/6).

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2011 menun­jukkan bahwa rata-rata kon­sum­si susu orang Indonesia ha­nya dua sendok makan (sdm) per hari atau sekitar  42,44 mi­liliter (ml).

“Kondisi ini sangat miris dan harus segera dibenahi. Jika tidak, tingkat kesehatan masyarakat bi­sa terganggu, khususnya akan berdampak bagi pertumbuhan anak-anak,” terangnya.

Sementara untuk tingkat kon­sumsi susu pada anak-anak, Ali melihat sudah mengalami pe­ning­­katan meskipun dalam hi­tungan tetes. ”Dari 15 tetes, se­karang sudah 30 tetes per hari dan itu peningkatan yang cukup baik,” katanya.

Ali mengatakan, lima tahun lalu konsumsi susu masya­ra­kat Indonesia baru delapan liter per kapita per tahun. Kon­sumsi su­su masyarakat In­do­nesia tahun lalu sudah tercatat sebesar 11,84 liter per kapita per tahun.

Jumlah ini pun jauh lebih kecil dibandingkan negara Asia lain­nya yang unggul dalam konsumsi minum susu. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Ke­men­tan), tingkat konsumsi susu mas­yarakat di India per kapita tahun 2011 tercatat sebanyak 42,8 liter, Malaysia (22,1 liter), Thai­land (33,7 liter), Filipina (22,1 liter), Vietnam (12,1 liter) dan Indo­ne­sia (11,9 liter).

“Di India setiap membuka kul­kas pasti ada botol susu dua liter. Sementara Indonesia tiap mem­buka kulkas, yang dite­mu­kan bo­tol kecap dan saus,” kata Ali.

Bahkan, tingkat konsumsi per kapita masyarakat Amerika ter­catat 100 liter per kapita per ta­hun. Artinya, Indonesia ma­sih tertinggal jauh dari negara-negara lain di Asia. “Butuh wak­tu lama untuk  me­nyu­sul keter­tinggalan ini,” curhatnya.

Oleh karena itu, pihaknya men­dukung pemerintah dalam pen­canangan Hari Susu Nasional se­tiap tanggal 1 Juni. “Ini di­laku­kan se­bagai upaya sosiali­sasi dan pe­nyuluhan agar mas­ya­rakat In­do­nesia tidak terlepas dari mi­num susu,” ujarnya.

Selain itu, tingkat kesadaran minum susu bagi anak-anak, ha­rus terus ditingkatkan dengan mem­berikan edukasi dan sosia­li­sasi. Ia berharap, produsen su­su yang ada di Indonesia bisa mem­be­rikan produk susu de­ngan har­ga terjangkau bagi mas­y­a­rakat Indonesia.

“Peran orang tua juga perlu secara aktif mengenalkan mi­nu­man bernutrisi sejak dini, agar kegemaran minum susu menjadi bagian dari gaya hidup anak se­tiap hari,” imbaunya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pe­ngolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Prof Zaenal Bachrudin  me­nam­bahkan, faktor utama yang jadi penyebab rendahnya konsumsi susu adalah tingginya harga su­su olahan, serta belum mem­bu­da­yanya kebiasaan minum susu di kalangan masyarakat.

Dilihat dari jenis susu yang di­konsumsi, susu bubuk meru­pa­kan jenis yang paling banyak di­konsumsi, yakni mencapai 43,3 persen. Sedangkan  bentuk Ultra High Temperature (UHT) 4,6  persen, susu steril 2,7 persen dan susu pasteurisasi 1,2 persen.

“Di negara maju susu segar lebih banyak dikonsumsi karena lebih banyak mengan­dung pro­tein aktif,” kata Zaenal.

Kemen­terian Pertanian telah me­nyia­p­kan roadmap guna me­ningkatkan angka produksi yang minim, sehingga bisa memenuhi kebutuhan susu masyarakat In­donesia dengan menggalakan program swasembada susu. Ca­ra­­nya, de­ngan memperbaiki dan mening­katkan klaster sapi perah yang ada dalam meningkatkan pro­duk­si susu. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Gubernur BI pun Ikut Mundur, Ada Apa Ini Guru?

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:15

Rumah Bedeng di Lebak Bulus Kebakaran

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00

Timnas Garuda Hadapi Timor Leste pada 31 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:30

Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:21

Presiden Harus Tindak Tegas Londo Ireng yang Merugikan Kepentingan Bangsa

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:19

Orang Tak Percaya Perry Warjiyo Mundur karena Alasan Pribadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:33

83 Penonton Jadi Korban Tribun GOR Satria Banyumas Roboh

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:18

Ahok Ungkap Awal Pecah Kongsi dengan Jokowi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:00

Nama Bupati KBB Jeje Ritchie Dicatut untuk Jual Jabatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:35

Hantu itu Masih Gentayangan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:18

Selengkapnya