Berita

ilustrasi, epi­lepsi

Kesehatan

Ayan Bukan Penyakit Jiwa Atau Kutukan

JUMAT, 22 JUNI 2012 | 08:07 WIB

RMOL.Masih banyak masyarakat yang tidak memahami penyakit epi­lepsi. Ada yang menyebut pe­nyakit ini adalah penyakit kutu­kan, jiwa, menular dan mem­ba­hayakan bagi hidup masyarakat.

Menurut Ketua Kelompok Studi (Pokdi) Epilepsi dr Kur­nia Ku­su­mastuti, penafsiran itu sangat ke­liru karena epilepsi atau ayan ada­lah penyakit yang dise­babkan adanya gangguan sel-sel otak. Ditambah efek­ti­vitas yang berle­bihan di otak sehingga menye­bab­kan orang terse­but tak sadar­kan diri, ke­luar busa dan lainnya.

“Epilepsi itu murni akibat ke­lainan otak, bukan penyakit jiwa, kutukan dan tidak menular. De­ngan adanya pemahaman ini di­harapkan pengidap penyakit ini bisa segera mengontrol kan diri ke rumah sakit,” ujar dr Kurnia.

Dr Kurnia mengatakan, pe­ma­haman yang salah mengenai epi­lepsi serta stigma negatif yang sering dialami penderita, me­m­buat mereka tertutup dan tidak mau mengakui penyakitnya. Aki­­batnya, si penderita tidak mau berobat dan tidak  men­dapat pe­rawatan selayaknya.

“Gejala epilepsi bisa ratusan macamnya, tergantung di bagian otak mana gangguan listrik tinggi terjadi. Bisa berupa gang­guan pendengaran, bengong, halu­si­nasi dan gangguan peng­li­hatan,” paparnya.

Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) memperkirakan, penyakit epi­lepsi hanya menyerang satu per­sen penduduk dunia. Di In­do­nesia diestimasikan terdapat se­kitar 2,4 juta orang yang men­derita epilepsi dan setengah di antaranya adalah perempuan.

Namun, epilepsi bisa ber­kem­bang akibat adanya gangguan pada otak, seperti kecelakaan, benturan keras di kepala, serta stres. Faktor terjadinya penyakit serupa pada anak penderita epi­lepsi memang sangat kecil.

Sedangkan pada wanita, saat memasuki masa pubertas dimana tingkat hormonal mulai berubah, hormon estrogen yang cenderung meningkat, terbukti dapat me­micu kebangkitan epilepsi.

“Hormon estrogen menjadi biang keladinya. Inilah yang me­nyebabkan sebagian perem­puan sering mengalami perubahan pola bangkitan saat terjadi fluktuasi hormonal seperti saat pubertas, haid dan menopause,” katanya.

Untuk mencegah penyakit ter­sebut, Kurnia menyarankan me­lakukan terapi dengan me­mencet ibu jari bisa mengatasi ke­kam­buhan pada penyandang epilepsi.

“Setelah saya mela­ku­kan pem­­­buktian secara ilmiah, ter­bukti memencet ibu jari dapat mengu­rangi risiko terjadinya bangkitan epilepsi,” katanya.

“Ketika ibu jari dipencet, maka akan timbul rasa nyeri hingga ke otak dan menimbulkan suatu pro­ses serta mengurangi penye­bab gangguan listrik,” jelasnya.

Dikatakan, terapi memen­cet ibu jari bukanlah dimak­sudkan untuk mengganti obat-obatan, melain­kan hanya untuk mem­bantu ki­nerja obat. Cukup de­ngan me­men­cet ibu jari selama 30 detik, kemudian dilepas, dan dipencet lagi begitu seterusnya.

“Ini cara paling mudah yang bisa dilakukan oleh orang-orang di sekitar penderita epilepsi dan bisa dilakukan dimana saja,” papar Kurnia.

Kepala Divisi Neurologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) dr Dwi Putro Widodo mengatakan, di negara berkembang seperti Indonesia, insiden epilepsi pada anak ber­kisar 25-840 per 100.000 pen­du­duk per tahun. Ada berbagai faktor risiko yang dapat me­ningkatkan seorang anak me­nyandang epilepsi.

Pada anak, risiko epilepsi ter­jadi di bawah umur enam tahun. Jenis epilepsi bagi menjadi dua, yakni epilepsi idiopatik dan sim­ptomatik. Pada epilepsi idi­o­patik, biasanya terjadi pada anak de­ngan perkembangan dan pe­me­riksaan fisiknya normal, terjadi pada usia tertentu dan mem­pu­nyai prognosis baik. Seba­liknya, simptomatik epilep­si dihu­bung­kan dengan epilepsi karena ada kelainan di otak.

“Anak-anak yang mempunyai kelainan seperti autis, attention deficit disorder, lahir prematur, celebral palsy (CB), retardasi mental atau anak kembar, lebih besar peluangnya menjadi pe­nyandang epilepsi dibanding­kan dengan anak normal,” te­rang dr Dwi. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya