ilustrasi, epiÂlepsi
ilustrasi, epiÂlepsi
RMOL.Masih banyak masyarakat yang tidak memahami penyakit epiÂlepsi. Ada yang menyebut peÂnyakit ini adalah penyakit kutuÂkan, jiwa, menular dan memÂbaÂhayakan bagi hidup masyarakat.
Menurut Ketua Kelompok Studi (Pokdi) Epilepsi dr KurÂnia KuÂsuÂmastuti, penafsiran itu sangat keÂliru karena epilepsi atau ayan adaÂlah penyakit yang diseÂbabkan adanya gangguan sel-sel otak. Ditambah efekÂtiÂvitas yang berleÂbihan di otak sehingga menyeÂbabÂkan orang terseÂbut tak sadarÂkan diri, keÂluar busa dan lainnya.
“Epilepsi itu murni akibat keÂlainan otak, bukan penyakit jiwa, kutukan dan tidak menular. DeÂngan adanya pemahaman ini diÂharapkan pengidap penyakit ini bisa segera mengontrol kan diri ke rumah sakit,†ujar dr Kurnia.
Dr Kurnia mengatakan, peÂmaÂhaman yang salah mengenai epiÂlepsi serta stigma negatif yang sering dialami penderita, meÂmÂbuat mereka tertutup dan tidak mau mengakui penyakitnya. AkiÂÂbatnya, si penderita tidak mau berobat dan tidak menÂdapat peÂrawatan selayaknya.
“Gejala epilepsi bisa ratusan macamnya, tergantung di bagian otak mana gangguan listrik tinggi terjadi. Bisa berupa gangÂguan pendengaran, bengong, haluÂsiÂnasi dan gangguan pengÂliÂhatan,†paparnya.
Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) memperkirakan, penyakit epiÂlepsi hanya menyerang satu perÂsen penduduk dunia. Di InÂdoÂnesia diestimasikan terdapat seÂkitar 2,4 juta orang yang menÂderita epilepsi dan setengah di antaranya adalah perempuan.
Namun, epilepsi bisa berÂkemÂbang akibat adanya gangguan pada otak, seperti kecelakaan, benturan keras di kepala, serta stres. Faktor terjadinya penyakit serupa pada anak penderita epiÂlepsi memang sangat kecil.
Sedangkan pada wanita, saat memasuki masa pubertas dimana tingkat hormonal mulai berubah, hormon estrogen yang cenderung meningkat, terbukti dapat meÂmicu kebangkitan epilepsi.
“Hormon estrogen menjadi biang keladinya. Inilah yang meÂnyebabkan sebagian peremÂpuan sering mengalami perubahan pola bangkitan saat terjadi fluktuasi hormonal seperti saat pubertas, haid dan menopause,†katanya.
Untuk mencegah penyakit terÂsebut, Kurnia menyarankan meÂlakukan terapi dengan meÂmencet ibu jari bisa mengatasi keÂkamÂbuhan pada penyandang epilepsi.
“Setelah saya melaÂkuÂkan pemÂÂÂbuktian secara ilmiah, terÂbukti memencet ibu jari dapat menguÂrangi risiko terjadinya bangkitan epilepsi,†katanya.
“Ketika ibu jari dipencet, maka akan timbul rasa nyeri hingga ke otak dan menimbulkan suatu proÂses serta mengurangi penyeÂbab gangguan listrik,†jelasnya.
Dikatakan, terapi memenÂcet ibu jari bukanlah dimakÂsudkan untuk mengganti obat-obatan, melainÂkan hanya untuk memÂbantu kiÂnerja obat. Cukup deÂngan meÂmenÂcet ibu jari selama 30 detik, kemudian dilepas, dan dipencet lagi begitu seterusnya.
“Ini cara paling mudah yang bisa dilakukan oleh orang-orang di sekitar penderita epilepsi dan bisa dilakukan dimana saja,†papar Kurnia.
Kepala Divisi Neurologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) dr Dwi Putro Widodo mengatakan, di negara berkembang seperti Indonesia, insiden epilepsi pada anak berÂkisar 25-840 per 100.000 penÂduÂduk per tahun. Ada berbagai faktor risiko yang dapat meÂningkatkan seorang anak meÂnyandang epilepsi.
Pada anak, risiko epilepsi terÂjadi di bawah umur enam tahun. Jenis epilepsi bagi menjadi dua, yakni epilepsi idiopatik dan simÂptomatik. Pada epilepsi idiÂoÂpatik, biasanya terjadi pada anak deÂngan perkembangan dan peÂmeÂriksaan fisiknya normal, terjadi pada usia tertentu dan memÂpuÂnyai prognosis baik. SebaÂliknya, simptomatik epilepÂsi dihuÂbungÂkan dengan epilepsi karena ada kelainan di otak.
“Anak-anak yang mempunyai kelainan seperti autis, attention deficit disorder, lahir prematur, celebral palsy (CB), retardasi mental atau anak kembar, lebih besar peluangnya menjadi peÂnyandang epilepsi dibandingÂkan dengan anak normal,†teÂrang dr Dwi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12