ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif, belum diterapkan oleh beberapa pihak. Terutama para tenaga meÂdis baik di Jakarta maupun di daeÂrah-daerah.
Namun, hal itu justru tak berÂlaku bagi daerah Klaten, Jawa Tengah, yang dinilai cukup baik dalam penerapan PP tersebut. Wilayah Klaten pun bisa dijaÂdikan percontohan dalam peneÂrapan ASI eksklusif.
“Klaten masuk dalam kategori yang baik. Apalagi Pemda KlaÂten juga sudah punya Perda (PerÂaÂturan Daerah) terkait pemÂberian ASI eksklusif,†ungkap Direktur Bina Gizi Kementerian KeÂseÂhaÂtan Dr. Mintarto MPS di Jakarta, Kamis (14/6).
Perda tentang ASI Eksklusif suÂdah ada di Klaten sebelum PP No.33 Tahun 2012 ditetapkan pada Maret 2012. Pemerintah daerah Klaten juga sudah berÂkoordinasi dengan KeÂmenÂkes dalam menyusun PerÂda tersebut.
Adanya penambahan aturan berupa Perda tentang ASI, memÂbuat kegiatan promosi susu forÂmula dari produsen susu di KlaÂten diawasi ketat. Bahkan, untuk seÂkadar promosi lewat banner mauÂpun spanduk sudah tak bebas lagi dipasang di sembarang tempat.
Terutama, keharusan penyeÂdiaan fasilitas menyusui di temÂpat-tempat umum. Sebagian beÂsar pengelola tempat umum di KlaÂten sudah menerapkan aturan tersebut. Bukan cuma tempat-tempat umum seperti mall dan terÂminal, kantor-kantor pemeÂrinÂtah juga sudah menerapkannya.
“Memang Klaten sudah baik, tapi daerah ini bukan satu-satuÂnya daerah yang memiliki Perda tentang ASI Eksklusif. Makassar juga sudah memiliki Perda seÂrupa. Lalu dalam waktu dekat Nusa Tenggara Barat (NTB) juga akan menyusul penerapan Perda tentang pemberian ASI EksÂkluÂsif,†jelas Mintarto.
Yang jelas, belum semua meÂmiÂÂlikinya dan Kemenkes saat ini sedang memetakan data tersebut, mengingat PP ini masih dalam kaÂtegori baru. “Sampai kini, kita masih lakukan sosialisasi melaÂlui berbagai acara maupun keÂgiatan Kementerian,†harapnya.
Direktur JenÂderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kemenkes Slamet Riyadi Yuwono meÂnamÂbahkan, belum semua kantor dan fasilitas umum melaksanakan Peraturan BerÂsaÂma Menteri Pemberdayaan PeÂrempuan, Menteri Tenaga Kerja dan TransÂmigrasi dan Menteri Kesehatan tentang peÂningkatan pemberian air susu ibu selama waktu kerja di tempat kerja.
“Bagi yang tidak menyediakan, ada sanksi, mulai dari peringatan lisan, tertulis, hingga pencabutan izin, mengingat ASI penting bagi kelangsungan hidup bayi. InisiaÂsi menyusui dini dapat menekan kematian bayi baru lahir hingga 22 persen,†kata Slamet.
Ketua Divisi Komunikasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) SisÂca Baroto Utomo juga sangat menÂduÂkung penerapan dan soÂsiaÂlisasi peraturan ASI eksklusif.
“Kami sangat mendukung peÂmeÂrintah dalam melaksanakan dan mengawasi penerapan dari PeraÂturan Pemerintah (PP) NoÂmor 33 Tahun 2012, sebagai upaÂÂya untuk meningkatkan pemÂbeÂrian ASI eksklusif yang meruÂpakan awal dari penciptaan geÂnerasi berkuaÂlitas untuk memÂbangun Indonesia di masa menÂdatang,†kata Sisca yang juga berÂtugas sebagai KonÂselor LakÂtasi AIMI. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12