ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Untuk mengatasi angka keÂmatian ibu dan anak, Wakil MenÂteri Kesehatan Ali Gufron meÂlaÂkukan kerja sama dengan KeÂmenÂterian Komunikasi dan InÂfomatika (Kominfo) dan PT TelÂkom Tbk guna menyiapkan laÂyanan medis darurat melalui jaÂringan telepon.
“Kami sedang menyiapkan laÂyanan darurat melalui telepon 119 atau 118, sehingga ibu yang akan melahirkan segera dapat langsung ditangani oleh tim meÂdis,†kata Ali.
Menurut dia, kerja sama ini saÂngat penting dilakukan untuk membantu proses kelahiran ibu. Sebab, faktor keterlambatan laÂyaÂnan medis salah satu pemicu tingginya angka kematian ibu dan anak.
“Diharapkan dengan adanya 1 nomor darurat ini, penanganÂan terhadap ibu yang melahirÂkan biÂsa cepat, sehingga secara tidak langsung mamÂpu memÂbanÂtu meÂnekan keÂmatian ibu dan anak ke depan,†harapnya.
Saat ini Kemenkes masih memfokuskan pada peningkatan layanan bidan terutama di wiÂlaÂyah pedesaan serta pengelolaan dana Jaminan Persalinan (JamÂpersal) dengan baik.
“Kualitas bidan, Jampersal, banÂÂÂtuan medis melalui telepon daÂÂrurat di pedesaan akan diperÂkuat agar tingkat kematian ibu dan anak bisa menurun,†tegasnya.
Dia menjelaskan, adanya teÂleÂpon darurat dinilai penting karena masyarakat akan mendapatkan pertolongan medis dengan cepat melalui nomor telepon darurat.
Sekretaris Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes Nurshanty Andi Sapada menambahkan, noÂmor darurat sangat penting kaÂreÂna selama ini kemenkes belum memiliki nomor darurat yang berlaku nasional.
“Nantinya tiap orang harus puÂÂnya daftar nomor darurat meÂdis di masing-masing daerah,†jelas Nurshanty.
Asosiasi Rumah Sakit Vertikal InÂÂdonesia (ARVI) yang menaÂuÂngi beberapa rumah sakit di baÂwah Kemenkes tengah mengemÂbangÂkan call center di 4 kota, yakÂni JaÂkarÂta, Medan, Manado dan Makassar.
Keempatnya belum mengÂguÂnakan 1 nomor yang sama, naÂmun lebih difokuskan pada keÂtersediaan layanan terpadu.
ARVI yang juga mengganÂdeng PT Telkom ini mengungÂkapkan, di masing-masing koÂta, call center akan mendata seÂluÂruh ruÂmah sakit berikut keÂmamÂpuan speÂsialisasi gawat daruratÂnya seÂhingga ketika ada pangÂgilan daÂrurat bisa langÂsung diÂrujuk ke rumah sakit yang seÂsuai.
“Sekarang masih dalam tahap mendata nama-nama rumah saÂkit untuk menyiapkan keÂmamÂpuÂannya menangani panggilan daÂrurat selama 24 jam. Di JaÂkarta mungkin lebih cepat terÂlaksana,†tutur Nursanthy.
Meski tidak dikelola KeÂmenÂkes, sebenarnya ada beÂberapa noÂmor gawat darurat yang berÂlaku secara nasional. Misalnya, 118 yang dikelola ‘Yayasan AmÂbulans Darurat 118’, dan juÂga 112 yang berlaku internasioÂnal dan tetap bisa digunakan sebagai layanan standard pada semua telepon genggam meski kartu SIM-nya dilepas. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12