Berita

Heru Lelono

Wawancara

WAWANCARA

Heru Lelono: Presiden Segera Isi Jabatan Menkes Dan Wamen ESDM

RABU, 09 MEI 2012 | 09:22 WIB

RMOL. Pasca meninggalnya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo, wacana reshuffle kabinet kembali mengemuka.

“Tapi Presiden SBY  tidak mau gegabah untuk mencari penggan­tinya. Beliau harus cermat, tidak mau salah memilih orang,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurut Heru Lelono, SBY tetap memprioritaskan kebijakan Kementerian Kesehatan yang telah diputuskan dapat berjalan terus tanpa hambatan.

“Sekarang ini memang sudah ada Wakil Menteri Kesehatan, tapi Presiden segera menunjuk Menkes definitif,” katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apakah jabatan Menkes itu dari parpol atau profesional?

Ada yang menyarankan jangan dari partai politik. Itu masukan. Tapi penentunya kan Presiden.

Siapapun bisa diangkat Pre­siden tentunya sudah memenuhi  persyaratan secara konstitusi. Menteri memang posisi politik, namun tidak harus personilnya dari kalangan partai politik.

    

Apakah itu sinyal bahwa ti­dak ada yang layak menjadi Men­kes dari kalangan parpol?

Bukan seperti itu maksudnya. Saya kira ada anggota partai poli­tik yang mampu menjadi Men­kes. Tapi soal dipilih atau ti­dak, itu terserah Pak SBY.


Apakah Wakil Menteri Kese­hatan yang naik?

Memang ada yang mem­bicara­kan di publik agar Wakil Menteri Kesehatan saja diangkat menjadi Menkes.


Apakah Presiden sudah mem­bicarakan hal itu?

Presiden tentu telah dan se­dang membicarakan hal ini, khu­susnya dengan Wapres Boe­diono. Wa­lau­pun secara ketata­ne­ga­raan hal itu menjadi hak prerogatif Pre­siden.

Sekali lagi, yang paling penting bagi Presiden adalah program Ke­menterian Kesehatan harus terus berjalan. Itulah manfaat nyata keberadaan Wakil Menkes saat ini.

   

Kapan posisi Menkes defini­tif ditentukan?

Tentang kapan posisi Menkes definitif ditentukan, tentu sece­pat­nya. Seperti kita ketahui ber­sama bahwa sejak APBN-P 2012 diputuskan, program kebijakan harus segera dijalankan. Dengan begitu masyarakat segera bisa merasakan hasil pembangunan.

Di sisi lain, pemerintah juga harus mempersiapkan RAPBN 2013. Makanya, pertimbangan yang digunakan Presiden sepe­nuhnya terkait profesionalisme tugas. SBY bukan tipe yang ge­gabah dalam memilih. Namun harus cermat.

   

Ada yang menginginkan untuk dilakukan reshuffle total, komentar Anda?

Menurut saya tidak pantas wafat­nya Ibu Menkes digunakan sebagai momentum reshuffle total. Reshuffle hanya dilakukan berdasarkan kebutuhan mende­sak dan bukan pilihan utama.

Mengisi kekosongan posisi Menkes karena wafatnya Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, berbeda halnya dengan meng­ganti menteri yang lain. Menteri yang masih ada, kemudian di­ganti. Itu sepenuhnya karena pe­nilaian Presiden atas kinerjanya.

Sekali lagi, reshuffle bisa di­lakukan Presiden kapan saja. Tidak hanya dikaitkan karena hal seperti wafatnya Menkes. Saya sa­ngat resah saat beliau masih da­lam keadaan sakit keras.


Kenapa Anda resah?

Karena saat beliau sakit keras, sudah ada yang berbicara re­shuffle. Benak saya, sempat mem­pertanyakan kemanusiaan ini ada di mana.

   

Bagaimana dengan peng­ganti Wamen ESDM?

Sama seperti konsepsi mengisi posisi definitif Menkes. Presiden pasti merencanakan dengan matang dulu. Harus dicari peng­ganti yang cocok di bidangnya.

Presiden akan mempertim­bang­kan untuk mengisi keko­songan posisi wamen ESDM. Wa­lau tidak mudah mencari so­sok cerdas seperti almarhum Widja­jono Partowidagdo.

   

O ya, bagaimana dengan tiga menteri yang berasal dari PKS?

Seperti yang saya sampaikan, konsentrasi Presiden hampir se­penuhnya kepada berjalannya program kebijakan pemerintah.

   

Apa SBY tidak memikirkan­nya sampai ke situ?

Hal-hal yang berkaitan dengan masalah politik, bukan berarti ti­dak penting. Namun memprio­ritas­kan program kerja jauh lebih penting bagi rakyat.

Kejadian politik yang diper­li­hat­kan itu memang tampak tidak sehat. Namun, harapan saya pri­badi, partai politik yang ada me­mang masih harus banyak mema­hami etika politik sesuai budaya Indonesia yang sebenarnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya