Berita

Humphrey Djemat

Wawancara

WAWANCARA

Humphrey Djemat: 37 TKI Terancam Pancung 17 TKI Sudah Dibebaskan

SABTU, 24 MARET 2012 | 08:45 WIB

RMOL.Juru Bicara Satuan Tugas TKI (Satgas TKI) Humphrey Djemat membeberkan, hingga kini sudah ada 17 TKI di Arab Saudi yang berhasil dibebaskan dari ancaman hukuman mati.

Dari total tersebut, tujuh di antara­nya sudah kembali ke Tanah Air termasuk TKI Hafidz Kholil, TKI asal Madura yang dipulangkan ke Indonesia pada Rabu (21/3).

“Dalam waktu dekat ini, ada tiga orang lagi yang segera kem­bali ke Indonesia karena masih menunggu proses administrasi,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, keberhasilan me­mulangkan TKI yang terancam pancung ini, hasil kerja sama antara Satgas TKI dengan ber­bagai pihak termasuk BNP2TKI dan Kementerian Luar Negeri.

“Ini menunjukkan bahwa kami tidak hanya berbicara mengenai perlindungan TKI saja. Namun bisa memperlihatkan bukti kon­krit TKI yang dibebaskan dari hukuman pancung,” katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Satgas TKI berhasil memu­lan­g­kan TKI yang terancam hu­kuman pancung, ini hasil kerja siapa saja?

Ini hasil kerja sama, baik de­ngan BNP2TKI dan Kementerian Luar Negeri atau perwakilannya. Apa yang dilakukan Satgas TKI sebagaimana yang diamanatkan Presiden. Yakni memberikan ban­tuan dan perlindungan hukum atas dasar hak asasi dan kema­nusiaan bagi setiap WNI/TKI.

Saat ini, ada berapa TKI yang menghadapi ancaman huku­man mati di Arab Saudi?

Pada saat ini, masih terdapat 37 WNI/TKI yang menghadapi an­caman hukuman mati. Namun mereka telah mendapatkan ban­tuan hukum dari Pengacara di Arab Saudi.

Soal TKI Hafidz Kholil dari Ma­dura, berdapa lama dia men­­de­kam di penjara?

Hafidz mendekam di penjara umum kota Mekah sekitar 13 tahun, sejak tahun 1999 dengan tuduhan pembunuhan terhadap WNI yang masih merupakan ke­luarganya, karena masalah pe­lecehan seksual terhadap isteri­nya Hafidz.

Hafidz sudah beberapa kali nyaris dieksekusi pancung (Qi­shash), tetapi mendapat penun­daan karena upaya keras yang di­lakukan Pemerintah.

Apakah Hafidz dapat pe­maafan dari ahli waris korban?

Tidak. Tepat tanggal 24 No­vember 2008, Hafidz mempero­leh pemaafan (Tanazul) dari ahli waris korban yang tinggal di Sura­baya, Jawa Timur.

Namun, uang pengganti darah (diyat) sebesar 400 ribu real Saudi atau setara hampir Rp 1 mi­liar harus diberikan kepada ke­luarga korban. Uang diyat ter­se­but dipenuhi BNP2TKI.

Hafidz juga mengakui lolosnya dari hukuman pancung ini karena upaya maksimal dan serius dari pi­hak Pemerintah, khususnya Ke­menlu melalui Perwakilan KJRI Jeddah, BNP2TKI dan Satgas TKI.

Kapan target semua TKI yang terancam hukuman pan­cung ini selesai?

Kita terus berusaha sekuat te­naga. Kita juga sudah bekerja sama dengan beberapa lawyer dari Arab Saudi yang ada di sana. Da­lam waktu dekat ini, tepatnya tang­gal 5 April, Tim Satgas yang di pimpin Ketua Satgas Maftuh Basyuni, akan mengunjungi Arab Saudi.

Dalam hal apa mengunjungi Arab Saudi?

Tentunya untuk melihat dan mengawasi perlindungan hukum yang diberikan terhadap WNI/TKI di sana.

Bagaimana perkembangan TKW Tuti Tursilawati?

Dalam kunjungan nanti itu, kami melakukan upaya pemaafan bagi TKI Tuti Tursilawati. Saat ini sedang dipersiapkan kebe­rang­katan keluarga Tuti Tursi­lawati asal Majalengka dan ke­luarga Siti Zaenab asal Madura pada 1 hingga 6 April tahun ini, untuk menengok Tuti Tursilawati dan Siti Zaenab di Penjara dan mengetahui secara langsung kon­disi mereka. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya