Berita

tb hasanuddin/ist

Pemerintah Kurang Peduli, 17 Nelayan Berhasil Pulang Setelah Ramai Ada yang Tewas

SELASA, 15 NOVEMBER 2011 | 19:51 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Konjen RI di Penang Malaysia memulangkan 17 nelayan dari Pangkalan Brandan Sumut ke Tanah Air malam ini. Mereka berhasil dikeluarkan setelah ramai pemberitaan di media massa terkait kematian salah seorang nelayan asal Deli Serdang, Sumatera Utara, Eli Zailani, yang meninggal dunia di salah satu penjara di Malaysia.

Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin mengungkapkan informasi yang didapatnya dari Konsul Jenderal Indonesia di Pulau Pinang, Chilman Arisman bahwa 17 nelayan akan pulang dengan Air Asia rute Penang-Medan nomor penerbangan. AK 5836 ETD Penang pukul 18.30.

Berikut nama-nama dan usia ke-17 nelayan tersebut, Muklis (33), Herman (30), Sandi (20), Edy (29), Ryu (20), Yudi (23), Nanda (21), Reja (15), Bambang (23), Irfan (22), Mislan (32), Julpian (40), Mohd. Ridwan (23), Maulana (21), Zulham (27), Shahriyal (30), Riswan (30). 


Rencananya mereka akan disambut di Medan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Gubernur Sumut, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia dan para keluarga nelayan.  Namun TB Hasanuddin menyayangkan, mereka dikeluarkan setelah ramai diberitakan ada salah seorang yang meninggal .

"Inilah contoh dari kurang pedulinya Kementerian Luar Negeri memberikan perlindungan terhadap WNI," ucap TB dalam pesan singkat ke Rakyat Merdeka Online, Selasa malam (15/11).

Kebanyakan nelayan tradisional yang ditangkap oleh aparat keamanan laut Malaysia di Selat Malaka, karena dianggap melanggar batas perairan. Padahal mereka belum punya alat navigasi yang canggih dan sementara batas wilayah Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka belum jelas.

Sebelumnya, LSM Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebutkan, khusus di sekitar Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sebanyak 52 nelayan tradisional pernah ditangkap dan ditahan sejak 9 April 2009 hingga September 2011. Selain itu, sebanyak 47 nelayan tradisional lainnya mengaku pernah menjadi korban perompakan dan penganiayaan oleh polisi laut Malaysia.

Atas kondisi buruk tersebut, nelayan tradisional mengaku sudah berulangkali melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat setempat. Namun tidak pernah memperoleh tanggapan dan tindak lanjut yang semestinya. Hal ini juga menunjukkan lambannya kehadiran pemerintah dalam melakukan perlindungan hukum.[ald]  

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya