Berita

Puluhan UU Bertentangan dengan Konstitusi

RABU, 01 SEPTEMBER 2010 | 18:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Saat ini banyak produk hukum mengenai perekonomian yang tidak selaras lagi dengan konstitusi dasar negara. Akibatnya, arah perekonomian bukan lagi menuju kesejahteraan rakyat, melainkan hanya memayungi kepentingan individu.

Karenanya, tidak aneh jika kemudian kebijakan ekonomi kita tidak lagi pro kaum miskin, mengurangi pengangguran dan hanya mementingkan keuntungan ekonomi yang setinggi-tingginya bagi golongan-golongan tertentu.

Peran negara saat ini sudah bergeser dan bahkan dibuat sama sekali tidak memiliki peran dalam mengatur perekonomian. Tidak hanya itu, subsidi juga coba dihilangkan dan BUMN-BUMN dijual kepada asing.


Demikian dikatakan ahli hukum dari Universitas Pasundan, Elli Ruslina di Rumah Perubahan, Jalan Panglima Polim, Jakarta, Rabu siang (1/9).

“Ini sudah inkonstitusional. Para founding fathers yang mengarsiteki ekonomi kita, seperti Muhammad Hatta jelas-jelas tidak menginginkan ekonomi model itu berkembang di Indonesia,” ujar  Elli.

Elli merasa miris karena proses inkonstitusional tersebut sudah terjadi setidaknya dalam 20 peraturan perundang-undangan perekonomian Indonesia. 

“Dalam Undang undang Migas misalnya kita bisa melihat bagaimana inkonstitusional hukum ekonomi ini terjadi. Dalam konsiderannya jelas disebut untuk kesejahteraan sosial, tapi di dalam batang tubuhnya dapat diusahakan oleh pihak asing,” jelasnya

“Perlu ada kesamaan persepsi, pemahaman kita semua untuk kembali kepada apa yang dikandung dalam pasal 33 Undang undang Dasar. Ini agar rakyat tidak hanya menjadi residusial dari cita-cita pembangunan ekonomi kita,” tutup Elli.[ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya