RMOL. Sudah 23 hari Subhan Wahid dan kawan-kawannya memasang tenda di depan pintu masuk Kabuaten Sidoarjo, Jawa Timur di Jalan Sultan Agung nomor 39. Lapar dan haus karena puasa tidak menghalangi. Mereka tidak akan berhenti sebelum tuntutannya dipenuhi.
Subhan Wahid dan kawan-kawannya mewakili sekitar 77 kepala keluarga (KK) warga Desa Bendo, Tanggulangin, yang musnah ditelan lumpur panas yang keluar dari sumur minyak milik PT Lapindo Brantas, anak perusahaan Bakrie.
“Sekarang kami kami sendiri melihat rumah sudah tidak tahu. Semuanya sudah tertutup lumpur," kata Subhan ketika ditemui kelompok aktivis lintas organisasi dari Jakarta yang mengunjungi mereka.
Beberapa akrivis dari Jakarta yang menemui mereka antara lain adalah Ray Rangkuti dari Lingkar Madani, Dani Setiawan dari Komite Anti Utang, dan Berry Nahdian dari Walhi, juga Edi Sutrisno dari Sawit World dan Ari Nur Hidayat dari Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif. Ray dan kawan-kawannya berangkat dari Jakarta dengan menggunakan kereta kemarin malam (Jumat, 27/8) dan tiba tadi pagi (Sabtu, 28/8). Safari ke lokasi lumpur Lapindo ini bertema mencari pemimpin sejati dan menghentikan pemerintahan citra.
“Kami akan tetap disini sampai sisa yang 80 persen dibayar. Kalau tidak dibayar kami akan tetap disini," ujar Subhan Wahid menambahkan agar pembayaran tidak dilakukan dengan cara cicilan.
“Pembayaran pertama yang 20 persen sudah mau habis, tidak cukup untuk satu bulan. Apalagi untuk harus membayar kontarakan. Tinggal 800 ribu,” sambungnya.
Subhan Wahid pun membandingkan perlakuan yang mereka terima dengan warga desa lain.
“Yang di Nenjo, Besuki, dan Jaraan sudah dapat ganti rugi sampai 50 persen. Padahal rumah mereka di luar tanggul dan masih bisa ditempati. Masa rumah kita yang berada di dalam tanggul baru dibayar 20 persen. Piye iki,” demikian Subhan Wahid. [guh]